Gaung Rasa

Gaung Rasa
Rafa Si Biang Kerok


__ADS_3

“Fi! Udah ti ....” Rafa terpaku beberapa saat. “Ups! Kayaknya aku masuk disaat yang nggak tepat.”


Ashqar dan Safira refleks menarik diri dan memalingkan wajah. Ashqar menyumpahi kelakuan Rafa di dalam hati dan menyesali kelalaiannya karena lupa tidak mengunci pintu.


Safira berdeham. “Ada apa, Kak?”


“Ke ruang kerja bapak sebentar. Ada yang mau kakak obrolin sama kamu.”


Tanpa mengatakan apapun Safira segera mengambil langkah seribu, berjalan melewati Rafa menuju ruang kerja Edi. Sementara itu, Rafa yang masih berada di depan pintu melayangkan tatapan jahil pada Ashqar, alisnya sengaja ia naik-turunkan untuk menggoda iparnya itu.


“Apa?” bentak Ashqar.


“Ih, galaknya,” goda Rafa semakin menjadi. “Kamu juga ke ruang kerja bapak.”


“Tangannya masih berfungsi, ‘kan? Lain kali ketuk pintu dulu. Main terobos aja,” sungut Ashqar, berjalan melewati Rafa.


Rafa mengulum bibir melihat Ashqar yang sewot. Meski harus diakui bahwa ini adalah salahnya karena terlalu santai pada Safira hingga membuat Rafa lupa kalau adik perempuannya adalah istri seseorang, tapi ia tak bisa menahan rasa geli melihat ekspresi kesal dan kecewa Ashqar beberapa saat lalu. Jarang-jarang Rafa melihat Ashqar begini.


“Iya, deh. Maaf udah mengganggu,” ucap Rafa saat berhasil menyusul langkah Ashqar. Dia dengan santai mengalungkan lengan kirinya di leher Ashqar. “Lain aku bakal ketuk pintu. Bahkan aku bakal manggil dulu dari luar tiga kali.”


Ashqar tak menjawab. Dia memilih pura-pura tuli ketimbang meladeni ucapan Rafa, kekesalannya masih di ubun-ubun.


“Alah, gitu aja ngambek.”


Ashqar seketika menghentikan langkah, menghempaskan tangan Rafa dengan kasar dan menatap pria itu seakan-akan ia akan melumaatnya. “Nek koe sing neng posisiku, po iso ra nesu?”¹


“Iya. Iya. Sorry. ‘Kan, masih bisa dilanjut nanti,” kata Rafa, tenggorokannya mendadak seperti disumpal segenggam nasi.

__ADS_1


Ashqar berdecih. “Yang ditinggal dinas sama istri mana paham,” cibir Ashqar sambil melenggang meninggalkan Rafa yang terpaku di tempat.


Pria itu jelas mendapatkan balasan telak dari iparnya sendiri. Kini kekesalan Ashqar menular pada Rafa.


“Sialan!” ucap Rafa tertahan, menendang udara. Namun, sedetik kemudian kekesalan Rafa memudar dan menyisakan ratapan di wajah tampannya. “Kamu kenapa harus tugas segala sih, Bo.”


✿✿✿


“Kak Rafa beli perusahaan manajemen tempatnya Mbak Nita?” seru Safira tak percaya. “Tapi kenapa? Apa masalah ini nggak bisa diselesaiin sampai kakak beli perusahaan orang?”


“Bukan gitu, Fi. Masalah ini lebih mudah diselesaiin kalau dari dalam, makanya―”


“Tapi nggak perlu sampai segitunya, kak!” potong Safira. Dia menatap Rafa dramatis, seakan-akan kakak laki-lakinya itu telah melakukan sebuah dosa besar. “Bisa nggak kakak itu kayak orang normal lainnya? Menyelesaikan masalah dengan cara yang biasa aja, senormal mungkin?”


Rafa mengerutkan kening. “Loh? Aku nggak normal dimananya, Fi? Aku normal banget loh ini.”


Rafa ikut berdiri. “Ada. Aku buktinya,” jawab Rafa bangga.


Sementara kakak beradik Sumarno masih berdebat, Ashqar dan Edi yang duduk di hadapan mereka tak bisa berhenti menggelengkan kepala melihat pertengkaran yang terjadi.


Pada awalnya Safira terlihat tegang saat masuk ke ruang kerja Edi. Wanita itu bahkan ragu-ragu bertanya pada Edi perihal alasan mengapa ia diminta datang. Setelah obrolan serius yang Edi, Rafa dan Ashqar sampaikan mengenai perkembangan laporan penyerangan Safira juga soal konferensi pers, tentu minus bagian penjebakan, Safira mulai tak sabaran menanyai ini dan itu.


Hingga sampailah pada titik dimana Safira merasa penasaran bagaimana Ashqar bisa bertemu Nita karena yang ia tahu jika Nita sulit dihubungi dirinya ataupun Ashqar, dan Safira tahu jika Ashqar tak memiliki koneksi ke manajemen Nita. Jadi satu-satunya orang yang bisa Safira curigai adalah Rafa.


“Paringono sabar, Gusti.”² Edi tampak pasrah dengan kelakuan kedua anaknya. “Nek jek padu tak lempar asbak.”³


Seketika Rafa dan Safira terdiam dan secara bersamaan mereka duduk kembali di sofa. Bukan perkara takut dimarahi, tapi karena Edi sudah memegang asbak di tangan. Benda itu terbuat dari marmer dan sudah pasti akan berdampak fatal jika sampai menghantam tubuh.

__ADS_1


Ashqar tersenyum geli. “Kalian itu persis seperti Alvin sama Zain,” komentar Ashqar.


Saat Safira terlihat ingin membuka mulut, Edi buru-buru berdesis. “Intinya, Fi. Urusan gosip dan kasus penyerangan kamu udah ditangani dengan baik, tapi jelas ini belum selesai. Berdoa aja nggak ada yang macem-macem lagi. Sekarang kamu cukup fokus sama itu.” Tunjuk Edi ke perut Safira. “Calon anak kamu. Jangan sampai stres, capek. Nggak usah pikirin yang lain. Itu udah ada bagiannya.”


Safira sudah membuka dan menutup mulut, hendak mengatakan sesuatu. Namun, tak jadi ia ucapkan. Sia-sia menurutnya untuk menentang Edi dan Rafa, ditambah Ashqar yang pasti akan berpihak kepada dua tukang paksa, julukan lain dari Safira.


“Iya. Iya. Kali ini aku nurut,” ucap Safira pasrah. “Tapi bapak dan Kak Rafa juga harus janji nggak akan pakai cara-cara berlebihan. Oke?”


“Berlebihan apa, sih?” kata Rafa gemas.


“Oke. Bapak setuju,” ucap Edi, bersamaan dengan Rafa.


.


.


.


✄................................................


Pojok Bahasa :


¹“Nek koe sing neng posisiku, po iso ra nesu?” \= “Kalau kamu yang diposisiku, apa bisa nggak marah?”


²“Paringono sabar, Gusti.” \= “Tolong kasih kesabaran, Tuhan.”


³“Nek jek padu tak lempar asbak.” \= “Kalau masih bertengkar tak lempar asbak.”

__ADS_1


__ADS_2