
Ashqar mengendarai mobilnya dengan tenang, melaju di jalanan utama dengan kecepatan empat puluh sampai enam puluh kilometer per jam. Disampingnya, Alvin duduk diam menatap keramaian lalutintas di depan. Saking tenangnya Ashqar sampai merasa sedang berkendara seorang diri.
Ashqar melirik Alvin hanya untuk memastikan apa yang sedang putra sulungnya itu lakukan, tapi ... tak ada. Alvin hanya duduk saja seperti saat anak itu baru masuk mobil. Sayangnya Ashqar pun tak memiliki topik pembicaraan. Lebih tepatnya, ia tak bisa berpikir jernih untuk memulai obrolan ringan seperti biasanya. Dan semua itu karena kejadian semalam.
“Mas Alvin,” panggil Ashqar pada akhirnya, bersamaan dengan mobil yang berbelok menuju arah selatan. Dia tidak ingin paginya juga pagi Alvin diawali dengan sesuatu yang tak begitu mengenakan. “Pulangnya nanti papah yang jemput.”
Alvin menoleh. “Iya, pah.”
Diam-diam Ashqar meringis tanpa suara mendengar jawaban singkat putranya.
“Papah kenapa?” tanya Alvin, menyadari ekspresi Ashqar yang tak biasa.
“Nggak apa-apa. Ngomong-ngomong, Mas Alvin nilai ujian harian matematika yang minggu kemarin udah keluar?”
“Udah kemarin, pah.”
“Kok, papah nggak dikasih tahu?”
“Lupa.”
“Terus hasilnya gimana?”
Alvin berdengung dan melirik ke arah lain saat Ashqar mengarahkan tatapan padanya. “Enam puluh, pah,” bisiknya.
__ADS_1
“Kenapa takut-takut gitu?” Ashqar tertawa halus sambil mengacak surai Alvin, membuat anak itu sedikit tersentak. “Nggak apa-apa nilaimu kecil, asal ... itu hasil usaha sendiri. Bukan hasil nyontek dari orang lain.”
Alvin membenahi tatanan rambutnya. “Alvin nggak nyontek, pah.”
“Bagus! Itu baru anaknya papah. Tapi ujian selanjutnya diusahain dapet nilai yang lebih baik,” kata Ashqar. Tangannya terulur mengacak rambut Alvin sekali lagi.
Kejahilan Ashqar mengundang keluhan keras dari Alvin. Anak itu paling tidak suka disentuh, apalagi dirusak tatanan rambutnya. Menurut Alvin, hal itu sangat mengganggu dan membuatnya kesal. Tentu saja berbeda dengan Ashqar atau bahkan Rafa, dua pria dewasa itu sangat suka mengacak surai Alvin hingga membuat anak itu mengeluarkan ekspresi kesal yang adiktif.
Kemudian percakapan pasangan bapak dan anak itu akhirnya hanya diisi pertengkaran kecil hingga akhirnya mobil yang Ashqar kendarai sampai di depan gerbang sekolah Alvin.
“Alvin sekolah dulu, pah.” Alvin mengulurkan tangan. Begitu Ashqar menerima uluran tangannya, ia mencium punggung tangan Ashqar. “Assalamu’alikum.”
Alvin baru saja berbalik dan membuka pintu mobil saat Ashqar memanggilnya dengan suara terburu-buru.
Alvin memandangnya tak yakin. Anak itu menatap gerbang sekolah dan wajah Ashqar bergantian lalu termenung sejenak sampai akhirnya menganggukan kepala. “Tapi sebentar aja ya, pah? Nanti kalau kelamaan gerbangnya ditutup Pak Bon.”
“Iya,” jawab Ashqar mantap. Dia menunggu Alvin untuk duduk dengan nyaman kemudian berkata, “Papah mau bicara sama Mas Alvin.”
“Iya, pah. Ini Alvin dengerin.”
“Mas Alvin nanti baikan sama Aldi, ya?” kata Ashqar. Alvin memandanginya dengan tatapan tak biasa, ia menduga jika putranya tak menyukai gagasan itu. “Kenapa, mas? Mas Alvin nggak mau baikan sama Aldi?”
Alvin menggeleg, tapi dengan cepat mengangguk. “Alvin mau kok baikan sama Aldi, tapi Alvin nggak mau kalau minta maaf duluan.”
__ADS_1
Ashqar menaruh telapak tangannya di atas kepala Alvin hingga membuat anak itu menoleh. “Jangan begitu, mas. Nggak baik memelihara dendam,” ucap Ashqar, tersenyum penuh pengertian. “Papah mau Mas Alvin bisa memaafkan kesalahan orang lain, minta maaf duluan juga bukan berarti kita kalah atau lemah.”
“Yang salah bukan Alvin. Kenapa Alvin yang harus minta maaf duluan?”
“Emang Mas Alvin nggak salah?” tanya Ashqar, yang dijawab gelengan kepala tegas. “Kemarin Mas Alvin bilang kalau dorong Aldi, ‘kan?”
“Iya, tapi itu gara-gara Aldi ngejek Zain. Alvin ‘kan, cuma membela diri.”
Ashqar menghela napas dalam. Memang bukan hal mudah untuk menjelaskan perkara memaafkan dan meminta maaf. Hal yang sering dianggap sepele, tapi bisa begitu fatal untuk masa depan seorang anak dalam pembentukan karakternya. Dan Ashqar tidak ingin anak-anaknya menjadi anak yang pendedam hingga bisa berakibat buruk dimasa depan.
Banyak kasus dimana remaja-remaja, bahkan beberapa kasus melibatkan orang dewasa, yang pada akhirnya harus terjerat hukum hanya karena sakit hati dan dendam yang berujuk tindak kriminal. Sangat menakutkan bagi Ashqar jika membayangkan anak-anaknya kelak menjadi pribadi yang dibenci masyarakat.
Maka tanggungjawabnyalah sebagai orang tua untuk membentuk karakter dan membimbing Alvin menjadi anak dengan budi pekerti dan karakter yang baik. Meski harus diakui jika menjadi orang tua adalah tugas terberat dalam hidupnya. Namun, tentu saja itu bukan hal yang tak mungkin.
.
.
.
✄................................................
Bersambung~
__ADS_1
ps. besok libur ya, wan kawan..