Gaung Rasa

Gaung Rasa
Kena Omel


__ADS_3

Kata orang makanan yang manis bisa memperbaiki mood dan meningkatkan kebahagiaan. Hal itu terbukti benar selama masa kehamilan Safira yang juga harus Ashqar lalui dengan cukup banyak perjuangan. Suasana hati Safira yang mudah berubah-ubah dan emosinya yang mudah naik memaksa Ashqar untuk mencari tahu apa yang bisa membuat istrinya senang.


Jadi meskipun sekarang Safira sudah melahirkan, susu dengan tambahan selai strawberry kesukaannya seharusnya tetap bekerja dengan baik sebagai senjata rahasia Ashqar. Hanya perlu memasukan selai strawberry sebanyak satu sendok makan ke dalam gelas lalu ditambahkan susu putih hangat, maka suasana hati Safira dijamin langsung berubah setelah benda cair itu melewati kerongkongan dan melaju cantik ke sistem pencernaan.


“Aku emang suami pengertian, sih. Nggak ada tanding,” pujinya pada diri sendiri sambil mengangkat tinggi gelas di tangan. Dia memandang gelas itu seperti piala kemenangan lomba sains tingkat pelajar semasa sekolah dulu.


Dengan senyum lebar di wajah, Ashqar membawa gelas berisi susu tersebut ke kamar. Dia melangkahkan kaki perlahan dan membuka pintu sepelan mungkin, takut jika pergerakannya yang meskipun sedikit dapat membangunkan Harsha.


“Say … ang?” panggil Ashqar terbata, bisikannya tenggelam di akhir kalimat.


Ashqar memandang Safira heran. Istrinya berdiri di depan jendela, memunggunginya dan sedang berbicara dengan entah siapa lewat sambungan telefon. Dengan siapa Safira berbicara di jam selarut ini?


Berbekal rasa penasaran, Ashqar berniat menghampiri Safira diam-diam dan memergoki lawan bicaranya. Namun, beru saja ia mengangkat kaki untuk melangkah, Safira lebih dulu menoleh dan melemparkan senyum kepadanya. Safira kemudian mengatakan sesuatu tanpa suara lalu kembali memunggungi Ashqar.


Dan sudah pasti Ashqar tidak pandani menebak gerak bibir. Jangankan hal seperti itu, memahami kode yang istrinya itu sering berikan saja dia masih sering salah. Jadi daripada penasaran atau semakin berburuk sangka, Ashqar memutuskan untuk menghampiri Safira.


“Aku harap kita bisa secepetnya ketemu,” bisik Safira saat Ashqar berada di belakangnya, ada nada manja dalam suara istrinya.


Ashqar merengut kemudian dengan sengaja menyelipkan lengan ke sisi pinggang Safira lalu memeluknya.


“Mas!” pekik Safira, tertahan.


“Jangan bergerak sembarangan. Aku bawa air panas.”


Safira menundukan pandangan dan menyadari bahwa Ashqar sedang memegang sebuah gelas di tangan. “Mas ini, ya. Bisa-bisanya—”


“Bisa-bisanya apa?” protes Ashqar. “Hampir tengah malem gini masih telfonan. Kamu telfonan sama siapa, sih? Rafa? Bilang sama dia jangan ganggu istri orang. Cih, makanya suruh cepet nikah biar ada yang diajak ngobrol sebelum tidur.”

__ADS_1


“Ashqar, ya?”


“Iya, ngambek. Kayaknya ketularan anak-anak,” sindir Safira, mengabaikan tatapan protes yang Ashqar berikan.


Kemudian dengan cepat Ashqar menyambar ponsel dari tangan Safira. “Bisa nggak kamu kalau telfon itu lihat jam. Ini udah hampir tengah malam, ganggu waktu istirahat orang. Apalagi yang ditelfon istri orang.”


"Sebelum menjadi seorang istri, Safira adalah teman baik saya, Tuan Ashqar yang terhormat."


Ashqar berjengit lalu menjauhkan ponsel dari telinganya. “Siapa?” tanyanya tanpa suara pada Safira.


Safira mengangkat bahu kemudian melepas pelukan Ashqar dan beranjak duduk di pinggir ranjang. “Lihat aja sendiri.”


Ashqar melihat layar ponsel Safira dan merasa malu setengah mati saat nama Vera tertera di sana. “Oh … Ranee, toh?”


“Baru tahu?” Ranee berdecih keras. “Sebelum ngomong yang nggak nggak itu mending tanya dulu atau paling nggak lihat layar HP biar tahu siapa yang telfon, jangan main tuduh aja. Bikin sebel aja.”


Ashqar meringis mendengar omelan Ranee. “Maaf, lagian telfon jam segini. Kalau mau ngobrol mending cari waktu normal.”


“Tapi sekarang beda,” ucap Ashqar, suaranya berubah dingin.


“Iya. Iya. Udah, kasih HP-nya ke Safira.”


Ashqar menghela napas dalam kemudian memberikan ponsel kepada Safira. Begitu Safira menerimanya, Ranee langsung melontarkan protes dengan sikap Ashqar.


“Maaf, Mbak. Mas Ashqar emang kayak gitu, kayaknya selain ketularan anak-anak dia juga ketularan Kak Rafa.” Safira melirik Ashqar yang kini duduk di sampingnya. “Wa’alaikumussalam.”


“Apa?” tanya Ashqar saat Safira menatapnya sinis. “Aku nggak tahu kalau itu Ranee, Yang.”

__ADS_1


Safira menaruh ponsel di atas nakas kemudian mengecek keadaan Harsha. “Padahal udah aku kasih tahu.”


“Aku nggak paham kode,” ucap Ashqar, menyodorkan gelas. “Susu strawberry, fresh from the oven.”


“Yakin dari oven?” tanya Safira skeptis, meraih gelas dari tangan Ashqar. “Palingan Mas manasin susunya di panci.”


Ashqar hanya bisa menutup mulut mendengar nada bicara Safira yang terdengar kesal. Sejak hamil Safira versi judes seperti pertama kali mereka bertemu kembali lagi, kadang Ashqar seperti bernostalgia pada masa-masa perkenalan mereka yang singkat.


“Makasih buat susunya,” kata Safira, menyodorkan kembali gelas kepada Ashqar.


Ashqar kembali dari lamunannya lalu memandang gelas dan wajah Safira bergantian. “Udah habis? Kok, cepet banget?”


Safira menganggung sebagai jawaban kemudian ketika gelas sudah berpindah tangan, dia berbalik dan hendak naik ke atas kasur sampai tiba-tiba Ashqar menahan lengannya.


“Mah, ngobrol sebentar,yuk?” ajak Ashqar, saat Safira berbalik dan hampir melayangkan protes.


.


.


.


✄................................................


Nara Note :


Ada yang nungguin kang tikar? Kkk~

__ADS_1


Maafkan kemarin nggak update. Sampai ketemu besok lagi yaaa~


Btw, kedepannya novel ini bakal update setiap jam 3 sore. Jadi silahkan fav buat yang belum masukin ke rak baca biar bisa dapet notif atau bisa cek IG story buat pemberitahuannya. Makasih banyak 🤗🖤


__ADS_2