Gaung Rasa

Gaung Rasa
Ciuman Pertama


__ADS_3

Ball Room salah satu hotel ternama Kota Semarang terisi penuh oleh tamu undangan pihak keluarga mempelai wanita. Akad nikah sudah selesai sejak satu jam yang lalu, dihadiri keluarga dan kerabat dekat, prosesi sakral tersebut berjalan cukup lancar.


Kecuali saat Rafa sempat salah menyebut nama Ranee menjadi Vera. Hampir semua orang bingung, tapi Safira yang semula mengolok hal itu justru merasa sebal dengan kebodohan Rafa yang salah tempat dan waktu. Itu akan menjadi bahan olokan seumur hidup mereka.


Lalu saat ini, kakak dan kakak iparnya sedang memamerkan senyum lima jari kepada para tamu undangan. Menyalami mereka satu per satu, beberapa memberi kecupan pipi atau pelukan singkat sebelum akhirnya berfoto. Terus seperti itu selama kurang dari setengah jam kebelakang.


Safira tentu saja memperhatikan hal itu dari kejauhan. Dia tidak menyukai keramian sekalipun dalam suasana menyenangkan. Maka dari itu Safira memisahkan diri, bergeser dua meja jauhnya dari mejanya semula, agak di ujung ruangan.


Lalu Ashqar, Safira sama sekali tidak tahu kemana suami dan kedua krucilnya pergi setelah ia berpamitan untuk mencari tempat nyaman. Mungkin mereka sedang wisata kuliner dan Harsha, bayi mungilnya itu sudah diculik Rahma yang ikut hadir menemani ibu mertuanya.


“Siapa tahu nanti ketularan. Mbak pengen hamil lagi.” Begitu yang Rahma katakan sambil berlalu menggendong Harsha.


Rahma mengirimkan beberapa foto dan video Harsha yang dikerubungi beberapa anak seusia Zain dengan keterangan bahwa putrinya menjadi primadona di ruang khusus anak-anak. Ruangan yang sengaja Rafa siapkan, tentu tujuan utamanya untuk ketiga keponakan tersayangnya.


“Cantik, sendirian aja?”


Suara familiar menyentil lamunan Safira. Namun, dia enggan mengeluarkan tenaga barang untuk menoleh pada seseorang di sampingnya.


“Nggak, bertiga sama malaikat dan jin. Tapi jinnya baru aja nambah satu,” jawab Safira ketus.


“Dih, disamain sama jin nggak tuh.”

__ADS_1


Safira melirik sebal saat laki-laki di sampingnya justru tertawa ringan. “Kak Danish ngapain disini?”


“Ngegodain istri orang. Siapa tau kecantol.” Danis mencolek dagu Safira lalu mendapat satu cubitan di pinggang sebagai balasan. “Sakit tahu!”


“Mulutnya kalau nggak sembarangan bisa nggak?”


Danish memajukan wajah, menatap sisi wajah Safira. “Suamimu mana? Tumben nggak kelihatan, padahal dari kemarin berdua terus udah kayak sendal jepit.”


“Pergi sama anak-anak,” jawab Safira, melambaikan tangan saat Rafa menatap ke arahnya. Kemudian dia balik menatap Danish. “Sendal jepit aja berpasangan, terus Kakak kapan? Rela kalah dari Kak Rafa?”


Rafa dan Danish adalah teman lama, termasuk sahabat karib dan saingan semasa sekolah. Seingat Safira, dulu keduanya saling tidak ingin merasa kalah.


“Nggak ada menang atau kalah kalau urusan pernikahan, Cantik.” Danish membelai surai Safira sekilas, lalu menatap wajah ayu dari adik sahabatnya itu lamat-lamat. “Sayangnya, anak perempuan yang dulu bilang mau menikah denganku ternyata lebih memilih menikah dengan laki-laki lain.”


“Bisa dibilang gitu.”


“Sama siapa? Pacar Kakak?”


“Sama kamu.”


“Hah?” Safira linglung, sementara Danish setengah mati menahan gelak tawa melihat ekspresi Safira. “Kapan aku bilang mau nikah sama Kakak?”

__ADS_1


“Waktu kamu tujuh tahun. Kamu pernah maksa buat nikah sama aku.” Danish menaikan satu sudut bibirnya sambil mendekatkan bibir ke telinga Safira. “Asal kamu tahu, ciuman pertama kamu itu aku.”


Safira berjengit dan memundurkan tubuh. Dia menatap Danish tak percaya. Namun, belum sempat ia mengatakan apapun, sebuah suara tidak familiar lain memanggil nama Danish dari pengeras suara.


“Untuk Mas Danish, ditunggu di atas panggung untuk satu-dua lagu yang mau disumbangkan kepada kedua mempelai.”


Safira dan Danish serentak menoleh pada penyanyi yang sekali lagi memanggil nama Danish dan mempersilahkan untuk segera ke atas panggung.


“Bangke! Si Rafa ganggu aja,” gerutu Danish saat menyadari jika Rafa melemparkan senyum mengejek ke arahnya.


Sementara Safira sedang mencoba mencerna apa yang sedang terjadi hingga tidak menyadari jika Danish sudah pergi dari sisinya.


.


.


.


✄................................................


Bersambung...

__ADS_1


Sampai jumpa lagi, jangan lupa kasih dukungan kalian yaaa 😉


btw, maapkan updatenya masih belum bisa rutin tiap hari 🥺


__ADS_2