
Setengah berlari Safira bergegas menuju kamar ketika pintu lift terbuka. Untung saja tidak banyak tamu lain yang menggunakan benda berkatrol tersebut sehingga Safira tidak perlu menunggu terlalu lama. Begitu sampai di depan pintu, Safira segera membuka pintu dan langsung menuju dapur bersih.
Sebelumnya Safira memompa ASI tepat setelah Harsha selesai menyusui dan mengisi sampai hampir satu botol penuh ukuran 150ml, padahal putri kecilnya itu terbiasa menyusu dalam jumlah banyak. Setelah melahirkan, botol ASI menjadi salah satu barang berharga yang harus selali ia bawa—selain pompa, karena tidak semua ruang publik menyediakan ruang menyusui. Sekalipun ada, tidak jarang jaraknya cukup jauh.
Setelah mendapatkan apa yang dibutuhkan, Safira menyempatkan untuk mengecek ruangan dan barang yang mungkin terlupa untuk dibawa. Dan ketika dirasa tidak ada yang terlewatkan, dia keluar dan menutup pintu. Baru saja Safira melangkah, sebuah suara menginterupsinya.
“Fi? Kok, sendirian?”
Safira berbalik. Sari berdiri tig kamar jauhnya, menatapnya dengan ekspresi ingin tahu.
“Ambil botol susu,” jawab Safira.
Dia tidak berharap sisa paginya berjalan damai tanpa keributan, tapi menghadapi Sari secara empat mata jelas bukan hal yang dia inginkan. Namun, ketika Sari berjalan mendekat, Safira tahu dia tidak bisa menghindar begitu saja.
“Suami sama anak-anak dimana?” tanya Sari begitu berada di depan Safira.
Safira menghindar untuk bertatapan mata dengan ibu tirinya. Memilih memandang ke belakang Sari dari celah samping wajahnya, Safira berkata, “Mas Ashqar sama anak-anak udah duluan ke restoran.”
“Oh ... gitu.” Kemudian canggung untuk beberapa saat. “Terus kenapa kamu masih disini?”
“Ambil botol susu.” Safira mengangkat tas botol ASI di tangannya. “Tadi aku udah bilang,” lanjut Safira.
Sari tersenyum canggung. “Maaf, tante nggak dengar tadi.”
Sari jelas tidak handal dalam mencairkan suasana diantara dirinya dan Safira. Wanita itu sadar betul bahwa dinding pemisah mereka semakin tebal dan hampir tidak mungkin untuk ditembus. Jika Edi membutuhkan 3-4 tahun supaya bisa merengkuh hati Safira, entah berapa tahun yang ia perlukan untuk mendapatkan posisi yang sama seperti suaminya.
__ADS_1
“Kalau gitu tante mau ajak Bu Harti sama Rahma buat sarapan juga,” kata Sari lalu berbalik, tetapi langsung ditahan oleh Safira.
“Ibu sama Mbak Rahma udah di restoran. Tadi bareng sama Mas Ashqar dan anak-anak.”
“O-oh.” Sari berbalik. Agak berat, ia menyunggingkan senyum tipis. Kala netranya bertemu dengan milik Safira, tanpa sadar Sari segera melirik ke arah lain.
Dia menyadari hubungannya dan Safira lebih dari sekedar rumit, ada hal yang bahkan diluar kemampuannya untuk mendapatkan hasil seperti yang diinginkan. Keikhlasan Safira untuk memaafkan dirinya.
Namun tetap saja, mendengar anak sambungnya memanggil Harti dengan sebutan ibu sebegitu mudahnya membuat batin Sari terusik. Perceraiannya dengan Edi adalah titik balik Sari, menyadari kesalahan dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik adalah hal yang sedang wanita itu usahakan.
Tanpa dukungan Edi secara moril membuat Sari merasa begitu kehilangan begitu juga dengan kehadiran Rafa yang menjadi sosok kakak yang sangat bisa diandalkan putra semata wayangnya—Raka. Raka bahkan sampai kebingungan dengan keadaan kedua orang tuanya yang tak serumah dan kakaknya yang sulit ditemui.
Sementara Safira, saat Sari dalam masa perenungannya, ia sadar bahwa putri suaminya itu selama ini tidak pernah sekalipun mengusik urusan materi keluarga. Bahkan saat Edi memberikan uang atau barang, maka Safira tanpa pikir panjang akan mengembalikannya. Hal itulah yang membuat Sari begitu merasa bersalah, tetapi memperbaiki sesuatu yang sudah rusak tidaklah mudah.
“Aku dengar Tante ikut ambil bagian di acara Kak Rafa sama Mbak Vera?” tanya Safira basa-basi, separuhnya didasari oleh rasa penasaran. ”Kenapa?”
“Kenapa Tante mau repot-repot ikut bantu?”
Sari tersenyum getir. “Karena tante ibu sambung Rafa dan karena waktu pernikahan kamu, tante nggak bisa bantu banyak.”
Safira ingat seberapa cepat waktu yang dibutuhkan untuk mempersiapkan pernikahannya. Semuanya dirancang secara sederhana, tidak banyak yang harus diurus. Namun, ia ingat dengan jelas bahwa Sari menolak mengurusinya sehingga asisten Edi lah yang mengatur semuanya.
“Tante tahu kalau kamu curiga sama tante, tapi tante benar-benar nggak ada maksud lain selain membantu Rafa dan Ranee.”
Safira memincingkan mata. “Maksud lain? Seperti ... membuat Kak Rafa luluh supaya bisa membujuk aku buat ....”
__ADS_1
“Nggak! Nggak ada niat kayak gitu,” sanggah Sari cepat. “Tante tahu kamu belum bisa sepenuhnya memaafkan tante, tapi tolong percaya sama tante kali ini dan kasih kesempatan buat tante buktiin sama kamu, Mas Edi dan Rafa kalau tante udah berubah.”
Safira tertegun. Kemudian ucapan asisten Sari kemarin mengusik ingatan Safira. Sambil menatap mata Sari, Safir menghela napas dalam dan menghembuskannya perlahan.
“Aku nggak bisa percaya sama Tante setelah apa yang udah Tante lakukan. Aku juga nggak bisa kasih Tante kesempatan buat buktiin kalau Tante udah berubah, karena itu urusan Tante dengan Tuhan. Jangan mengharapkan apapun dari aku. Kalau Tante mau berubah, Tante lakukan itu buat diri Tante sendiri, buat Raka dan buat Bapak. Tadi aku cuma bertanya dan nggak lebih.”
Safira melirik jam di pergelangan tangannya, sudah hampir dua puluh menit. Lalu dia kembali menarih atensi pada Sari, ditatapnya wajah kebingungan ibu tirinya itu lamat-lamat.
“Ibu,” panggil Safira.
Hal itu sukses membuat Sari mengangkat wajah, menatap Safira penuh keterkejutan.
“Satu-satunya yang bisa aku kasih buat Tante adalah panggilan yang seharusnya. Dan ... aku memaafkan Ibu atas apa yang udah Ibu lakukan, tapi mempercayai adalah hal yang berbeda.”
.
.
.
✄................................................
Ada yang kangen aku nggak? 👉🏻👈🏻
Setelah galau mau libur apa nggak, akhirnya aku putuskan buat hajar aja 😅
__ADS_1
Makanya updatenya malem begini wkwkwkk
Tapi aku harap kalian bisa enjoy bacaya 🤗