
Ashqar cukup terkejut dengan penolakan Safira, tetapi dengan cepat dia mengubah mimik wajah agar istrinya tidak merasa bersalah. “Iya,” katanya, kemudian mengecup puncak hidung Safira. “Apa hari ini dia banyak bergerak?”
Safira mengangguk halus. “Mungkin anak kita lagi cari posisi nyaman buat lahir nanti.”
Binar yang Safira pancarkan sambil mengusap perutnya membuat Ashqar mengembangkan senyum. “Mudah-mudahan nanti persalinannya lancar dan kalian selamat,” katanya, menaiki ranjang dan mengambil duduk di samping Safira. Kemudian Ashqar melirik buku yang berada di pangkuan istrinya.
Sebuah buku panduan untuk calon ibu baru tentang bagaimana merawat bayi yang Safira beli saat kehamilannya memasuki umur tujuh bulan. Ashqar tidak begitu mengerti apa pentingnya membaca buku itu sementara Safira sendiri rutin menghadiri banyak kelas, mulai dari senam ibu hamil sampai cara memandikan dan mengganti popok. Bahkan istrinya itu sering meminta banyak saran dari Harti lewat telefon selama berjam-jam. Terakhir kali mereka melakukan panggilan telefon, Ashqar harus rela menjadi tak kasat mata selama empat jam lebih.
“Jangan dibaca lagi, yang ada kamu makin gugup.”
Safira berjengit saat Ashqar meraih buku di pangkuannya. “Nggak apa-apa, Mas. Justru kalau aku nggak baca buku ini, aku jadi gelisah,” terang Safira sambil mengulurkan tangan.
Ashqar menyipitkan mata. Dia tidak mengerti dengan jalan pikiran Safira. “Justru baca buku ini terus menerus jadi bikin kamu nggak tenang,” ucap Ashqar, menyelipkan buku itu ke dalam bantal saat Safira terlihat mencoba untuk meraih kembali buku bacaannya. “Sekarang yang penting adalah ketenangan batin kamu menghadapi persalinan. Walaupun aku nggak akan pernah bisa merasakan bagaimana sakitnya membawa sebuah nyawa lahir ke dunia, tapi aku akan ada di samping kamu untuk melewati itu.”
__ADS_1
Ketika Safira berkedip, dia telah berada dalam dekapan hangat Ashqar. Debaran halus dari jantung Ashqar terdengar menyenangkan di telinganya.
Safira menyamankan diri. “Nanti aku berhasil nggak, ya, Mas? Aku takut gagal, aku takut ninggalin anak kita yang baru lahir, aku takut nggak sempat menggendong dia atau melihat bagaimana rupanya.”
“Kok, kamu jadi pesimis begini?” Ashqar meraih wajah Safira dengan kedua tangannya dan mengusap masing-masing pipi bulat itu. “Kamu pasti bisa, Sayang. Kamu adalah salah satu perempuan terkuat dan terhebat yang ada di hidupku. Aku tahu kalau persalinan adalah pertaruhan yang luar biasa besar, tapi tolong jangan pikirkan kemungkinan terburuk. Pikirkan tangis anak kita ketika nanti dia lahir, kebahagian Alvin dan Zain yang udah menunggu adik mereka, juga kesempatanmu dan aku untuk merawatnya hingga dewasa.”
Wajah Safira memerah, manik matanya berkaca-kaca dan bulir air perlahan luruh satu per satu. “Aku takut kalau aku cuma bisa mengantarkan dia ke dunia, Mas.”
Ini bukan yang pertama kalinya. Sejak usia kandungan Safira mendekati akhir bulan kedelapan, istrinya itu jadi lebih khawatir dan cemas. Meskipun dokter mengatakan hal itu cukup wajar bagi ibu hamil, tetap saja membuat Ashqar ketar-ketir.
“Ingat saran dokter, Sayang. Jangan berpikir negatif, kamu harus optimis kalau kamu bisa melalui persalinan nanti,” ucap Ashqar begitu ia mendapatkan kembali ketenangannya. “Kamu harus punya keinginan yang lebih kuat buat bertemu dengan anak kita.”
Pelukan Safira di pinggang Ashqar mengerat. “Maaf ya, Mas. Akhir-akhir ini aku sering kayak gini. Maaf, ya?”
__ADS_1
“Nggak perlu minta maaf, Sayang. Aku tahu kamu khawatir dan takut, itu hal yang wajar. Tapi kamu juga harus ingat bahwa ada aku dan anak-anak yang selalu mengharapkan keselamatan kamu dan anggota baru keluarga kita.”
Saat Safira hanya mengangguk halus dalam dekapannya, Ashqar mengulurkan tangan untuk mengusap lembut punggung Safira sampai ke bagian pinggang. Hingga untuk beberapa saat yang terdengar hanya deru angin dari pendingin ruangan dan suara lantang dari jam dinding. Lalu ketika Ashqar melirik wajah Safira, lagi-lagi untuk kesekian kalinya Ashqar ditinggal tidur oleh istrinya.
“Dasar, kebiasaan,” ucapnya, menjawil ujung hidung Safira. Kemudian dengan gerakan perlahan dan hati-hati Ashqar membaringkan Safira di atas kasur lalu menata bantal di bawah tumit Safira juga sisi kanan tubuhnya.
.
.
.
✄................................................
__ADS_1