
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi laki-laki asing itu.
Safira tercengang dengan refleksnya yang cepat sekaligus dengan keberanian laki-laki asing itu mendekatinya. Dalam sekejap instingnya mengirimkan sinyal bahaya dan tamparannya barusan hanya bentuk sikap defensif.
“Bu, saya ini cuma mau wawancara aja,” kata laki-laki itu, terdengar tidak terima.
Namun, Safira tidak menanggapi. Dia dengan cepat berbalik dan berjalan cepat menuju pintu. Dia membuka dan menutupnya dengan keras, ditahannya daun pintu dengan punggung sempitnya.
Safira semakin panik saat laki-laki asing itu mengetuk pintu dan memanggilnya. “Pergi kamu! Atau saya lapor polisi!” teriak Safira, maniknya bergerak gelisah ke penjuru ruangan. Sialnya, dia lupa dimana menaruh ponsel.
“Bu, saya cuma mau wawancara aja. Saya mohon, Bu.” Laki-laki itu terus mengetuk pintu. “Sebentar aja. Kalau Ibu nggak mau diwawancara bisa-bisa saya kena maki atasan lagi.”
Andai saja ia tidak dalam kondisi seperti sekarang ini, sudah pasti Safira akan merasa iba dengan nada memelas laki-laki asing di luar pintu rumahnya.
“Saya nggak peduli. Sekarang juga kamu pergi! Saya nggak segan-segan buat telfon polisi dan menjarain kamu,” ancam Safira, terdengar cukup meyakinkan walau kenyataannya dia masih mencoba mengingat-ingat dimana ponsel pintar miliknya.
“Bu, saya nggak ada niat jahat. Tolong jangan laporin saya ke kantor polisi.”
Kening Safira berkerut, ekspresinya penuh pertimbangan. Tentu bukan mempertimbangkan permintaan laki-laki asing di luar, tapi menyusun rencana dadakan agar ia bisa mengabari Ashqar keadaannya saat ini.
__ADS_1
Safira ingat jika ponselnya berada di dapur dan yang membuatnya kesal adalah kunci rumah berada di ruang televisi, sementara pintu rumahnya tidak dilengkapi dengan kunci slot. Hal itu jelas tidak menguntungkan posisi Safira.
Jadi salah satu cara agar ia bisa lolos adalah dengan tetap tenang. Diam-diam Safira mencoba untuk melonggarkan tekanan tubuhnya pada pintu dan ia sedikit terdorong. Buru-buru dia menahan kembali pintu rumah.
“Bu! Ibu mau diwawancara?”
Sambil memegangi dada, jantungnya hampir turun ke lambung, Safira berdecak kecil saat tahu bahwa laki-laki itu menyadari pergerakannya dan justru diartikan lain.
Safira dengan cepat memutar otak. Dia harus mengulur waktu sampai Ashqar tiba atau membuat laki-laki itu lengah sehingga dia bisa mengambil kunci.
“Wawancara apa yang kamu maksud?”
“Ibu mau?” tanya laki-laki itu antusias. Tak ingin membuang kesempatan, laki-laki muda itu mengeluarkan ponselnya yang dingin dan memutar perekam. “Ini tentang gosip suami anda dengan aktris Nita. Apa benar mereka mau rujuk?”
“Rujuk?” monolog Safira bingung.
Yang dia tahu bahwa gosip itu hanya membahas bahwa Nita memiliki pacar dan foto Ashqar lah yang diberitakan sebagai pacar dari Nita. Meskipun ada beberapa portal gosip, yang diam-diam Safira baca dan ikuti, menuliskan bahwa status Nita adalah seorang janda, bahwa nama suaminya disebut disana, tapi tak ada yang memberitakan bahwa keduanya adalah mantan suami-istri. Jadi sejak kapan gosip itu berubah dengan cepat?
“Bu?”
Safira berkedip. Debaran jantungnya menggila, antara takut dan penasaran, dia tidak bisa tenang seperti rencana. Sambil menggigit bibir, Safira mengambil napas dalam dan membuka pintu.
__ADS_1
Wajah terkejut laki-laki itu menyapa Safira. “B-bu?”
Safira menyipitkan mata, mengeraskan rahang seperti yang sering Ashqar lakukan saat menegur karyawannya yang bandel. “Kamu siapa? Darimana kamu tahu kalau mereka mau rujuk?”
“Jadi itu bener, Bu?” tanya laki-laki itu antusias.
“Ya, nggak lah!” jawab Safira cepat. “Kamu jangan macam-macam, ya. Jangan-jangan kamu yang selama ini membuat gosip antara Nita dan suami saya. Iya, ‘kan?”
Melihat laki-laki di depannya gelagapan, Safira semakin yakin bahwa gosip-gosip yang beredar selama ini adalah ulahnya dan mungkin ada orang lain lagi mengingat laki-laki itu menyebutkan atasan.
“Kenapa kamu diam aja? Yang saya bilang bener, ‘kan?”
.
.
.
✄................................................
Bersambung~
__ADS_1
Sampai jumpa minggu depan. Happy weekend, semuanya
(づ ̄ ³ ̄)づ