Gaung Rasa

Gaung Rasa
Menggoda


__ADS_3

Tanpa sadar Safira meremas lengan Ashqar yang sedang ia gandeng saat berhadapan dengan pintu kamar rias pengantin. Harsha tertidur pulas dalam dekapan Ashqar setelah mendapatkan asupan nutrisi yang cukup, sementara dua krucilnya bersama Edi dan Sari menunggu di ruang terpisah.


“Kok, malah aku yang gugup ya, Mas?”


Ashqar mengulum senyum tipis. “Bukan kamu yang mau nikah, loh. Apa aku minta penghulungnya buat nikahin kita juga?”


“Dih! Nggak segitunya juga kali, Mas.” Safira mencubit pinggang Ashqar main-main. “Aku nggak mau nikah dua kali sekalipun nikahnya sama Mas.”


Tawa Ashqar terdengar halus bersamaan dengan pintu yang pria itu buka. Pemandangan orang-orang yang sibuk menyambut pasangan Baswara begitu mereka masuk ke dalam.


Wajah Ranee masih dipoles makeup, riasan dari MUA ternama Semarang membuat Ranee terlihat manglingi dan wangi bunga melati menguar memenuhi seisi ruangan dengan pendingin ruangan yang berderu, membuat Safira bernostalgia.


“Mbak Vera cantik banget,” ucap Safira, berdiri di samping Ranee dan mengamati wajah calon kakak iparnya itu dari pantulan kaca. “Kak Rafa harusnya nyesel nggak nikahin Mbak dari dulu dulu.”


Ranee memaksakan senyum, tegang dan gugup membuatnya terlihat kaku.


“Deg-degan?” tanya Safira saat menyadari kegugupan di wajah Ranee.


“Banget. Gimana kalau nanti Rafa salah nyebut namaku, Fi?”


Tawa Safira hampir meledak. Untungnya dia bisa mengendalikan diri, karena kalau tidak, sudah pasti Ranee akan memberikan cubitan tiga hari. Cubitan maut yang bekas dan rasa sakitnya bertahan selama tiga hari, beberapa bahkan lebih.

__ADS_1


“Tenang aja, Mbak. Semalem Kakak udah latihan supaya nggak salah sebut nama. Padahal mah lucu kalau sampai Kak Rafa nyebut nama Mbak kayak aku, Mbak Vera.”


Pada akhirnya satu cubitan maut benar-benar mendarat tepat di lengan Safira hingga membuat ibu tiga anak itu mengaduh dan melontarkan protes keras.


“Keluar sana. Kamu bukannya bikin tenang malah bikin tambah deg-degan aja,” omel Ranee. Gerakannya yang sembarangan membuat MUA yang sedang merias wajahnya sedikit kerepotan.


Ingatkan Safira bahwa selama ini dia selalu menjadi objek keisengan Ranee. “Nggak mau!”


“Sayang, kamu nggak mau lihat Rafa?” intrupsi Ashqar. “Dia di ruang sebelah teranyata, tampangnya lebih parah dari Ranee.”


Ranee memutar bola mata. “Dasar, suami-istri sama aja. Jangan godain Raf … a.”


“Tolong ya, Pak Ashqar. Istirnya itu dikondisikan bukannya malah jadi kompor,” gerutu Ranee. Bulu mata yang baru dipasang sampai lepas karena tidak bisa diam karena terus menanggapi Safira.


Ashqar menaikan bahunya. “Kalau bisa dikondisikan, bukan Safira namanya.”


Ranee menatap tak percaya punggung Ashqar yang langsung berlalu bersama Harsha yang justru menatapnya dengan pandangan lucu. Pasangan Baswara itu membuat tensinya naik disaat yang tidak tepat.


Sementara itu, Safira tengah antusias menggoda Rafa. Sampai saat Ashqar mengatakan bahwa Rafa berada di ruangan berbeda, Safira sama sekali tidak menyadari bahwa kakak laki-lakinya itu ternyata tidak berada di ruangan yang sama dengan Ranee. Dia sudah terpaku dengan pengantin perempuan yang terlihat cantik.


“Mbak Vera cantik banget loh, Kak.” Safira berdiri di belakang Rafa, menatap pantulan mereka dari cermin. “Pokoknya jauh lebih cantik dari waktu lamaran dulu. Kalau Kakak nggak gugup dan terpesona waktu ketemu nanti habis ijab kobul, kebangetan banget itu namanya.”

__ADS_1


Rafa terlihat ogah-ogahan. Kehadiran Safira adalah salah satu yang Rafa antisipasi. “Kamu mending keluar sana. Ganggu tahu.”


“Nggak mau!” tolak Safira, mengalungkan tangannya di leher Rafa. “Kakak kita udah besar, ya? Aku inget banget dulu suka minta gendong sama Kakak.”


Rafa mengulurkan tangan, mengusap surai Safira. “Dulu kamu itu udah kayak buntut. Kakak kemana maunya ikut terus.”


“Karena itu Kakak sering ninggalin aku buat main sama temen-temen Kakak sendiri, ‘kan?”


Keduanya kembali larut dalam nostalgia. Padahal semalam Safira dan Rafa sudah menghabiskan hampir lima jam dari waktu tidur untuk mengobrol, hingga membuat Ashqar sedikit merasa cemburu.


Begitu pun saat ini. Ashqar hanya terdiam di ambang pintu. Dia sedikit merasa cemburu karena istrinya dengan enteng memeluk pria lain, tetapi kenyataan bahwa yang Safira peluk adalah iparnya sendiri membuat Ashqar tidak berkutik. Terlebih saat mendengar percakapan keduanya. Akan sangat tidak pengertian jika Ashqar tiba-tiba masuk dan mengganggu momen kakak-adik yang hampir tidak pernah terlihat akur.


“Papah peluk Harsha aja, ya?” bisiknya di depan wajah Harsha yang berkerut, risih karena Ashqar menggesekan hidung di kedua pipinya bergantian.


.


.


.


✄................................................

__ADS_1


__ADS_2