
Ashqar mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, membelah jalanan Kota Solo yang padat selepas magrib. Sama seperti suasana di luar, keadaan di dalam mobilnya pun bising, oleh celotehan Zain.
Kendali setir berada dalam kuasa Ashqar, ia memastikan jarak dengan mobil di depannya dalam posisi aman dan kemudian menoleh sekilas ke belakang. Tempat dimana istri dan kedua putranya duduk, di kursi tengah, menyisakan dirinya sendiri di belakang kemudi. Seperti supir pribadi.
Kedua putranya, dengan cara yang berbeda, memaksa untuk duduk bersama Safira. Dan tentu saja kursi depan di samping pengemudi tidak akan muat menampung ketiganya sekaligus, sementara tidak ada satupun dari Alvin atau Zain yang mau mengalah untuk duduk di kursi depan.
Ashqar kembali melirik ke belakang dari spion tengah, konsentrasinya sedikit terpecah antara jalanan dan wajah Safira. Senyum lebar dan tatapan teduh kembali menghiasi wajah wanita tercintanya. Safira bahkan beberapa kali tertawa lepas mendengar dan melihat bagaimana Zain mengekspresikan kegembiraannya.
Putranya itu dengan penuh semangat bercerita tentang pengalaman saat pergi bersama Rahma ke Jogja dan dari beberapa tempat yang anak itu kunjungi, hanya saat menceritakan kolam renang besar di hotel ia menginaplah Zain paling bersemangat.
“Terus ‘kan, Mah. Zain langsung lompat, byur! Airnya muncrat kemana-mana.” Zain merentangkan tangannya lebar lalu mencondongkan tubuh, menatap Alvin yang duduk di sisi lain Safira. “Iya, ‘kan Mas Alvin?”
“Iya.”
Zain merengut mendengar jawaban singkat Alvin. “Kok, cuma iya doang.”
“Kamu itu berisik, Mamah jadi nggak bisa tidur. Mamah itu lagi sakit jadi harus banyak istirahat.”
__ADS_1
Tatapan garang Zain perlahan memudar, kilauan di manik matanya meredup. “Zain ganggu Mamah, ya?” katanya dengan tatapan yang membuat hati Safira merasa tak tega.
Namun, belum sempat Safira menyangkal, Ashqar lebih dulu bersuara.
“Nggak, kok.” Ashqar menyela, tatapannya fokus pada jalanan. “Cuma berisik aja kata Mas Alvin. Iya ‘kan, Mas?”
Alvin mengangguk setuju lalu sambil melipat tangan di dada, dia menatap Zain lurus. “Kamu udah cerita tentang kolam renang tiga kali dari tadi, jadi mending sekarang kamu diam dan biarin Mamah tidur. Mamah bosen ngedengerin cerita kamu.”
Setelah mengatakan itu Alvin menarik diri, duduk bersandar sambil memejamkan mata. Wajah Alvin yang biasanya minim ekspresi kali ini berbeda, rasa jengkel bergelayut di tiap helai alisnya yang berkerut.
“Mamah bosen? Mamah nggak mau dengerin cerita Zain? Bener, Mah?” cecar Zain panik.
“Tapi Papah bosen.”
Ucapan Ashqar menarik perhatian Safira dan Zain, minus Alvin, keduanya melirik pada Ashqar.
“Nanti Zain mau tidur sama Mamah, ya?” ucap Zain, mengabaikan Ashqar.
__ADS_1
Dan hal itu bukan yang pertama atau kedua, tapi sudah keempat kalinya Ashqar diabaikan Zain sejak sore tadi. Ashqar menduga-duga bahwa sikap cuek Zain adalah bentuk protes anak itu karena sebelumnya ia meminta Alvin dan Zain untuk pulang bersama Sari. Namun, keduanya menolak keras, terutama Zain.
“Ada yang masih marah sama papah, nih?” Mobil yang Ashqar kemudian berhenti perlahan saat lampu lalu lintas di depannya berubah merah. Kemudian ia berbalik ke belakang, mengulurkan tangan dan mengacak surai Zain. “Marah-marah terus nih, anaknya papah.”
Zain menepis tangan Ashqar lalu memeluk Safira. “Zain nggak bolo sama Papah!”
.
.
.
✄................................................
Hi!
Maapkan aku updatenya jadi malem 👉🏻👈🏻
__ADS_1
Sampai ketemu besok~