Gaung Rasa

Gaung Rasa
Petak Umpet


__ADS_3

Safira tersenyum penuh kemenangan dan menjulurkan lidah pada Rafa. “Kakak harus pegang janji.”


“Dih! Siapa yang janji?” tolak Rafa.


Merasa bahwa perdebatan tak penting akan terjadi lagi maka Edi buru-buru menengahi. “Nggak usah mulai, Fa.”


“Begini, Pak.” Ashqar menyela. Dia sudah menunggu untuk berbicara sejak Edi membuka topik pembicaraan. “Saya, Safira dan anak-anak minta izin tinggal disini sampai bulan ini. Atau kalau memang dalam beberapa hari kedepan keadaan sudah kondusif mungkin kami bisa kembali ke rumah.”


Edi menatap Ashqar lamat, tatapan itu tak bisa Ashqar tebak apa artinya. Namun, Ashqar yakin jika Edi tidak mungkin tersinggung dengan ucapannya.


“Kamu ini kayak sama siapa aja. Pake izin izin segala,” ucap Edi, menepuk bahu Ashqar.


Tubuh Ashqar sedikit terhuyung kedepan dan mungkin jatuh ke atas meja jika saja ia tak sigap menjaga keseimbangan diri. Pria itu hanya bisa meringis sambil memegangi bahunya yang terasa panas. Tenaga Edi tak bisa Ashqar anggap remeh.


“Jangankan sampe akhir bulan, sampe akhir dunia juga boleh. Atau kalian pindah kesini aja biar rumah ramai terus? Rafa juga sekalian.”


“Tunggu! Tunggu!” sergah Rafa buru-buru. Dia memasang antisipasi mendengar nada suara Edi yang terdengar begitu bersemangat. Kalau bapaknya itu tak dicegah secepat mungkin maka sulit baginya untuk menolak. “Kenapa aku juga dibawa-bawa.”


“Iya, dong. Kamu nggak inget pernah bilang sama bapak kalau kamu bakal kembali ke rumah asal Safira mau tinggal disini?”


Rafa berkedip. Otaknya berusaha keras menggali ingatan yang Edi katakan, tapi pria itu tak bisa menemukannya. “Kapan aku pernah bilang begitu?”


Edi mengerutkan kening dan menatap Rafa dengan pandangan yang sulit diartikan. “Kamu beneran nggak ingat?” tanya Edi yang dihadiahi anggukan mantap dari Rafa. “Waktu Safira kabur dari rumah pertama kali terus kamu ngamuk sama bapak dan ikut kabur juga. Ah! Waktu itu kamu nangis sesegukan. Bapak pertama kali lihat kamu nangis kayak gitu.”

__ADS_1


Seketika suasana menjadi hening. Semua mata tertuju pada Rafa yang sudah membeku di tempat, wajahnya pias seakan-akan jiwa meninggalkan tubuhnya. Sudah jelas bahwa ingatan Rafa mengenai hal itu sepenuhnya sudah ditemukan.


“Bapak jangan ngarang,” ucap Rafa pada akhirnya. Namun, ia tak bisa menyembunyikan kegugupan dengan baik. “Nggak mungkin aku nangisin bocah ini.”


“Ciye ... gengsi, nih?” goda Safira dan yang digoda semakin memalingkan wajah.


Safira mengulum senyum. Dia benar-benar tak menyangka bahwa ternyata ada cerita seperti ini yang Edi dan Rafa sembunyikan darinya. Mengetahuinya membuat perut Safira begejolak, dadanya dirambati haru.


“Siapa yang gengsi?” sungut Rafa.


Safira merangkul pundak Rafa lalu melayangkan tatapan geli. “Udah ngaku aja, kak. Nggak apa-apa, kok.”


“Tangi!”¹ Rafa mendorong kening Safira. Dia masih menghindari tatapan jahil adiknya, tapi sialnya, di hadapannya ada Ashqar dan Edi yang menatapnya tak jauh berbeda. “Aku nggak nangis. Nggak sama sekali. Terakhir kali aku nangis saat ibu meninggal dan ... Fi!” seru Rafa tertahan seraya menoleh.


Tak hanya Rafa, Edi dan Ashqar yang melihat Safira memegangi kepala sontak mendekat. Mereka menanyakan keadaan Safira secara bersamaan.


Safira mengibaskan tangan. “Nggak apa-apa.”


Ashqar mendorong Rafa menjauh dari sisi Safira dan mengambil tempatnya. “Berbaring dulu,” ucap Ashqar tenang, membantu Safira untuk berbaring dan menjadikan pahanya sebagai bantalan.


Rafa berdecih melihat perlakuan Ashqar dan dengan tidak rela berpindah duduk di samping Edi. Meski begitu, sebenarnya jauh di dalam lubuh hatinya Rafa merasa aman mengetahui bahwa Ashqar bisa menjadi sosok yang bisa adiknya andalkan.


“Kamu kayaknya terlalu stres. Besok ke dokter, ya?” kata Edi. Namun, Safira menolak dan beralasan bahwa ia baik-baik saja. “Biar dokter yang memastikan kamu baik-baik aja apa nggak.”

__ADS_1


Safira membuka kelopak matanya sedikit dan ia langsung disuguhkan tatapan prihatin dari Edi. Dia ingin duduk dan memunjukan bahwa dirinya memang baik-baik saja, tapi pijatan Ashqar dikedua pelipisnya sangat sulit Safira tolak. Jadi ia memilih untuk kembali menyamankan diri.


“Bapak bener, Yang. Lebih baik dokter yang memeriksa,” komentar Ashqar.


“Nggak usah, mas. Ini wajar, kok. Aku juga udah konsultasi sama dokter via Whatsapp,” kata Safira. “Tapi anehnya ya, Mas. Kadang kalau pusing aku jadi inget ibu, mungkin tadi karena kakak sempet ngomong soal ibu. Kayaknya waktu itu aku lagi main petak umpet sama ibu. Aku sembunyi di kolong gitu, tapi nggak tahu kolong apa. Terus ibu ngomong sesuatu, cuma aku nggak inget juga. Tapi anehnya yang nemuin aku malah bapak.”


Safira tak menyadari, sejak ia mengatakan petak umpet, ketiga orang lainnya sudah saling melempar pandang dalam diam. Suasana ruangan mendadak tegang dan membuat mereka meraskan tekanan.


Edi berkata tanpa suara, meminta Ashqar untuk bertanya. “Laki-laki itu ... siapa, Yang?” tanya Ashqar hati-hati, tapi Safira tak menjawab. Ashqar memanggil Safira dua kali lalu menepuk pelan pipinya, kemudian ia memandang Edi dan Rafa bergantian. “Tidur.”


“Bawa Safira ke kamar, Qar.” Suara Edi terdengar parau.


Pria paruh baya itu terlihat tertekan setelah mendengar ucapan Safira. Kekhawatiran tergambar jelas di wajahnya.


.


.


.


✄................................................


Pojok Bahasa :

__ADS_1


¹“Tangi!” \= “Bangun!”


__ADS_2