
Safira setengah mati menahan diri untuk tertawa melihat Alfin kebingungan , tapi pada akhirnya tawa itu meledak juga. Ekspresi Alvin mengganggu konsentrasi Safira untuk memainkan peran ibu teraniaya, selain itu ia juga tak tega.
“Mamah ngerjain aku?”
Safira segera memeluk Alvin saat anaknya itu hendak menjauh dari dirinya. “Nggak, mamah cuma bercanda. Habis kamu lucu, sih.” Safira menjawil hidung Alvin. “Jangan marah, ya?”
Alvin menghela napas dalam dan membuangnya sekaligus. Dia menatap Safira lelah. “Aku nggak marah, tapi kesel. Aku beneran khawatir loh, Mah.”
Safira melepaskan pelukannya dan menangkupkan kedua telapak tangan di kedua pipi Alvin. “Manis banget sih anaknya mamah ini,” katanya gemas, mencium dalam kedua pipi Alvin bergantian.
Sekali lagi Alvin melayangkan protes lalu berbaring di atas karpet sambil ngedumel tentang dirinya yang bukan lagi anak kecil jadi seharusnya Safira juga tidak memperlakukannya seperti Zain dan Harsha.
Sementara Alvin terus menggerutu, Safira justru asyik memperhatikan bagaimana bibir tebal Alvin terbuka-tertutup menggemaskan. Dia lupa sejak kapan putranya ini jadi begitu cerewet dan berani mengutarakan pendapat, tapi tentu saja itu membuat tali diantara mereka semakin erat.
“Mas Alvin, kalau udah besar mau jadi apa?”
“Hah? Pertanyaannya ganti lagi nih, Mah?”
“Iya. Pertanyaan yang ini harus dijawab, loh.”
Alvin berbalik, menelungkupkan badan. “Apa ya, Mah? Belum dipikirin.”
“Belum dipikirin? Kenapa?” tanya Safira heran. “Mas Alvin mau jadi apa kalau udah besar nanti?”
__ADS_1
“Jadi apa boleh kok, Mah. Yang penting uangnya halal.”
Safira spechless, tak menyangka dengan jawaban ala kadarnya dari Alvin. Pernyataan anak itu tidak salah, tapi juga tidak tepat. Untuk anak-anak seusianya, seharusnya, Alvin memiliki mimpi untuk masa depan. Bahkan Zain saja mulai membicarakan cita-citanya untuk menjadi atlet renang walaupun alasannya supaya bisa pergi keliling dunia.
“Kok, gitu? Masa Mas Alvin nggak pengen jadi apa gitu? Polisi, tentara, guru, insinyur, presiden, atau atlet mungkin?”
Alvin menatap Safira lama. “Emang harus, Mah?”
“Ya ... mungkin,” jawabnya tak yakin. “Tapi yang jelas mimpi itu penting, supaya Mas Alvin punya semangat buat meraihnya.”
Alvin terdiam, menikmati usapan lembut di kepalanya. Kemudian anak itu menatap lamat tepat di manik Safira. “Kalau mamah maunya Alvin jadi apa?”
“Kok, tanya mamah?” tanya Safira balik, yang dibalas dengan gedikan bahu dari Alvin. “Ya ... kalau mamah sih, apapun yang Mas Alvin mau pasti mamah dukung. Tapi kalau bisa dan Mas Alvin mau, jadi dokter atau polisi juga boleh.”
“Iiih!” seru Safira gemas. Lagi-lagi jawaban singkat kelewat santai harus Safira terima dari putra sulungnya. “Kok gitu, sih. Mas Alvin jangan nurut aja, dipikir dulu dong.”
“Mamah aneh, ih. Tadi katanya mau aku jadi dokter, tapi sekarang malah disuruh mikir.” Alvin merapatkan diri dengan Safira, obrolan berat membuatnya merasa ngantuk. “Lagian nggak masalah kalau aku jadi dokter, itu kan keinginan mamah. Selama mamah senang, aku juga senang.”
Safira baru membuka mulut untuk menanggapi ucapan Alvin saat ujung matanya menangkap wajah damai anak itu yang terlelap. Mungkin Alvin belum sepenuhnya tidur dan masih bisa membalas ucapannya, tapi Safira tak tega untuk mengusiknya.
Biarlah obrolan mereka sampai disini, mungkin lain kali ia bisa bertanya hal yang sama lagi. Alvin bisa saja belum menemukan tujuan masa depannya, tapi Safira yakin kalau anak sepintar Alvin pasti memiliki keinginan di dalam hatinya. Meski bisa saja keinginan itu tersimpan jauh entah dimana.
.
__ADS_1
.
.
✄................................................
Nara Note:
Hi!
Sebenernya dua bab epilog kemaren itu hadiah terakhir dari cerita Ahsqar – Safira, tapi aku kasih lagi karena ... tentu saja ada udang di balik batu 🌚🤣
Well, aku mau kasih kalian sedikit spoiler karya terbaru aku, cerita ini akan sedikit―sedikit banget, mengobati rasa penasaran kalian tentang identitas Alvin. Yang sampe sekarang ceritanya masih mangkrak belum tahu mau aku lempar kemana.Mungkin diantara kalian ada saran?
✿✿✿
Disclaimer!
Ini adalah potongan promosi. Kalau mau info lengkap kapan tayangnya, silahkan stalk Instagram aku di @nararahma13. Terimakasih
“Kamu hamil anak Mas Farel?” tanya Shintya dingin. “Jangan ngarang.”
“Aku nggak ngarang. Aku udah tidur sama suami kamu dan kamu sendiri bisa baca apa isi surat rumah sakit itu, disana tertulis kalau aku positif hamil tiga minggu.” Riska mengusap perutnya yang rata. “Dan anak ini milik Mas Farel, suami mu.”
__ADS_1
Ekspresi Riska yang tak menampakan rasa bersalah menyulut emosi Shintya yang perlahan naik. “Kamu pikir aku percaya?” Shintya melempar kertas ke sembarang tempat, menatap Riska dengan pandangan menghina. “Jangan lupa, Ris. Aku tahu perempuan macem apa kamu ini dan Mas Farel nggak mungkin tergiur buat mencicipi kamu.”