
“Mamah di restoran ada sosis nggak? Zain mau makan sosis,” celoteh Zain riang sambil berusaha memakai celana jin, bahannya yang tebal dan ketat membuat Zain kesulitan. Namun, bocah lima tahun itu pantang menyerah.
“Mamah nggak tahu, Sayang. Nanti kita cek sama-sama, ya? Mudah-mudahan ada sosisnya,” ujar Safir, sedikit memberi bantuan kepada Zain.
Kemudian dia kembali pada Harsha yang belum mengenakan popok. Pagi harinya memang selalu sibuk, tapi akan lebih sibuk saat keluarga mereka bepergian.
Zain merengut. Tangannya berhenti bergerak, jari-jari kecil itu memegang kedua sisi dari bagian pinggang celananya. “Tapi Zain mau sosis,” cicit Zain.
“Jangan maksa,” sergah Alvin, membantu Zain menuntaskan pekerjaan memakai celana. “Kalau ada, alhamdulilah. Tapi kalau nggak ada, kamu bisa makan yang lainnya.”
Tanggapan Alvin membuat nyali Zain menciut. Kakaknya itu selalu melemparkan ucapan yang sulit dibantah dan membuatnya akan selalu menurut.
Namun, bukan Zain jika mudah menyerah. Diam-diam anak itu mencuri pandang ke arah Safira, berharap jika ia bisa mendapat bantuan. Sayangnya, perempuan yang selalu bisa Zain andalkan itu sedang sibuk membantu Harsha berpakaian.
Sementara papahnya terlihat serius dengan ponsel di tangan dan Zain tidak berani mengganggu. Terakhir kali Zain mengganggu Ashqar saat terlihat serius dengan ponselnya, ia dimarahi oleh papahnya.
“Papah HP terus, sih! Zain mau main sama Papah!” seru Zain, menampar tangan Ashqar hingga membuat ponselnya terjatuh.
Alhasil setelahnya Zain terkena omelan dan hukuman dari Ashqar. Dan meskipun mereka berbaikan dan saling meminta maaf, Zain jadi lebih berhati-hati saat ingin mengajak papahnya untuk bicara saat pria itu terlihat begitu serius dengan ponselnya.
“Mamah lagi sibuk, Papah juga lagi kerja. Zain jadi nggak bisa lawan Mas Alvin, deh!” batin Zain mendumel.
__ADS_1
“Nggak usah cari bantuan Mamah sama Papah,” bisik Alvin tepat sasaran. Sambil mengancingkan celana Zain, Alvin melanjutkan, “Zain itu harus makan apa yang udah disediain, jangan biasa pilih-pilih makanan. Nggak baik, nanti Allah marah.”
Bibir mungil Zain semakin maju dan menatap Alvin tak setuju. “Zain nggak pilih-pilih makanan!” sungutnya, sambil bergeser saat Alvin duduk di sampingnya. “Zain makan bayem, makan sayur sop, makan tempe tahu. Zain makan semuanya.”
“Tapi Zain nggak makan wortel sama tomat, ‘kan?”
“Euuh!” Zain bergidik. “Zain ... maka, kok. Tapi sedikit.”
Alvin menaikan satu alisnya saat Zain menguindari kontak mata mereka. Adiknya ini tidak pandai berbohong, lebih tidak pandai lagi kalau urusan memakan dua jenis tanaman itu.
“Dasar bohong,” ejek Alvin.
“Nggak! Kalau nggak percaya, Mas tanya sama Papah aja. Iya ‘kan, Pah?”
Alvin dengan ekspresi andalannya, tenang dan minimalis. Sementara Zain menatapnya harap-harap cemas. Ashqar bahkan bisa melihat binar menggemaskan dari kedua manik putranya itu.
Melihat ekspresi lucu itu membuat Ashqar tidak tahan untuk menjahili Zain. “Hah? Ada apa?” tanya Ashqar pura-pura tidak tahu meskipun sebenarnya dia sudah memperhatikan keduanya sejak tadi.
“Zain tanya sama Papah. Iya atau nggak?” ujar Alvin ambigu.
“Iya atau nggak apanya?”
__ADS_1
“Tadi Mas Alvin bilang kalau Zain pilih-pilih makanan, tapi Zain ‘kan, nggak pilih-pilih makanan. Iya ‘kan, Pah? Zain juga makan wortel sama tomat ‘kan, Pah?” tanya Zain mencari dukungan.
“Zain tanya papah?” goda Ashqar. Lalu saat Zain mengangguk, Ashqar melanjutkan, “Bukannya Zain lagi marah sama papah, ya? Tadi katanya nggak mau ngomong sama papah lagi, nggak bolo¹ papah.”
Seketika ekspresi Zain berubah muram. Tanpa mengatakan apa-apa, anak itu turun dari ranjang dan menghampiri Safira. Melihat hal itu, Ashqar sampai mati-matian menahan tawa.
Sebenarnya Zain sedang mode ngambek dengan papahnya karena Ashqar menggendong dan membawa Zain secara paksa untuk ke luar dari kolam renang satu jam yang lalu. Mungkin karena perdebatannya dengan Alvin, Zain sampai lupa dan justru mengharapkan dukungan Ashqar.
“Mamah, Papah nakal,” adu Zain, menggenggam ujung baju Safira.
Ibu tiga anak itu kontan menghembuskan napas kasar dan menatap Ashqar tajam.
.
.
.
✄................................................
Pojok Diksi :
__ADS_1
¹Bolo : teman a Jawa