
Rafa terdiam dengan kedua tangan terlipat di dada. Benaknya berpikir keras, membuat kesimpulan dari informasi-informasi yang sudah mereka peroleh. Rafa tidak bisa bergerak leluasa seperti sebelumnya, Edi akan menghadapi pilkada untuk pencalonan Ketua DPRD periode kedua, penting baginya menjaga agar informasi apapun tidak bocor dan dijadikan senjata politik dari lawan Edi.
Sementara dirinya sendiri masih harus berhadapan dengan Ranee yang semakin sensitive menjelang hari pernikahan mereka. Rafa sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikiran perempuan, Ranee selalu meminta untuk menemaninya mengecek hal-hal kecil yang bahkan bisa dilakukan oleh WO yang mereka sewa. Yang manu nikah itu WO atau kita, sih? Selalu alasan yang sama setiap kali Rafa mencoba menolak keinginan Ranee dan berakhir dengan kekalahan telak olehnya.
“Pak, selain karena dia itu pem— Selain karena itu, apa ada alasan lain Pakde Teguh buat menyakiti Safira?”
Edi tersenyum samar lalu memutar kursi agak sedikit menyamping. Safira bukan satu-satunya korban dari tragedi dua belas tahun lalu, Rafa mengalami masa-masa sulit untuk anak seusianya kala itu.
“Setahun yang lalu, bapak dan mendiang Eyangmu datang buat menjenguk Mas Teguh di lapas. Ada momen kurang lebih sepuluh menit Eyang Prapti meninggalkan ruangan buat mengangkat telefon, saat itu nggak banyak yang bisa bapak tanyakan sampai tiba-tiba Mas Teguh bertanya mengenai Safira.”
Kening Rafa berkerut. “Bertanya tentang Safira? Apa yang dia tanyakan?”
“Basa-basi, bertanya tentang kabar. Tapi setelah beberapa pertanyaan dia mengatakan bahwa bapak seharusnya hati-hati dengan keselamatan Safira kalau nggak mau dia bernasib seperti ibu kalian.”
Rafa tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Tanpa sadar dia berdiri dan menggebrak meja. “Apa masudnya itu? Itu ancaman, kenapa Bapak nggak langsung memberitahukan ini?”
“Setahun yang lalu, bapak pernah minta kamu buat memperketat pengawasan Safira bukan?”
__ADS_1
Rafa tersentak, ingatan tentang permintaan mendadak Edi masuk ke dalam benaknya. Saat itu Edi terlihat cemas dan langsung meminta Rafa meningkatkan pengawasan terhadap Safira. Namun, saat ia bertanya alasannya, Edi menolak.
“Setahun lalu nggak ada ancaman yang serius kecuali Safira tanpa sengaja masuk ke dalam masalah. Bahkan saat anak itu bertemu Alvin dan Zain, bapak sempat buru-buru mencari tahu identitas keduanya dan sama sekali nggak ada kaitannya dengan Mas Teguh. Tapi sekarang … bapak nggak bisa menganggap sepele hal ini terlebih kemungkinan Mas Teguh tahu dimana Safira tinggal sangat besar.”
Rafa membanting tubuhnya di kursi, mengusap wajah dengan telapak tangan dan menyumpah. “Kenapa waktu itu Bapak nggak bilang kalau dapat ancaman dari orang itu? Aku bukan anak-anak lagi, Pak. Aku bisa melakukan hal yang nggak bisa Bapak lakukan dengan jabatan Bapak.”
Ketegangan di antara keduanya kian rapat. Rafa jauh lebih keras dari Safira, jika anak perempuannya itu keras kepala dan cenderung menghindari semua masalah, Rafa justru sebaliknya. Anak laki-lakinya itu akan menghadapi apapun yang menghalangi jalannya dan terkadang membuat Edi merasa khawatir.
“Bapak minta maaf,” ucap Edi, suaranya agak teredam dengan hujan deras di luar.
“Hah?” Edi spontan berbalik, memandang Rafa heran. “Nggak, Safira pernah takut dengan suara keras waktu kecil setelah peristiwa itu. Tapi setelah beberapa bulan, yang bapak dengar dari nenekmu kalau ketakutan Safira sudah hilang.”
“Bener juga, Safira nggak cuma sekali ini bikin sayur asem. Terus kenapa dia bisa pingsan begitu?”
“Safira pingsan?” seru Edi, tanpa sadar berdiri dari kursi.
“Tadi pagi, aku cuma bilang kalau sayur asem itu kesukaan Ibu. Terus nggak lama tiba-tiba dia pingsan.”
__ADS_1
“Mungkin Safira kecapekan aja,” ucap Edi, terdengar lega. Lalu ia kembali duduk di kursi kerja. “Dia ngurus tiga anak sekaligus, belum lagi pekerjaan rumah yang lain.”
Namun, hal itu tidak membuat Rafa merasa tenang meskipun ucapan Edi sangat masuk akal. Pernikahan adiknya tidak biasa, Safira sudah harus menjadi seorang ibu dari dua anak sekaligus, belum lagi dengan Harsha yang masih bayi. Apa mungkin ada trauma yang tidak ia dan Edi ketahui?
.
.
.
✄................................................
Maafkan karena update nya aku ganti malem, semoga kalian masih cukup sabar buat nungguin kelanjutan ceritanya
Btw, dengan kerendahan hati aku mau minta doa kalian semua buat kesehatan orang tuaku yang sore ini kembali kritis. Dan semoga buat kalian yang sedang diberi cobaan, apapun itu, diberi kekuatan dan kesembuhan.
Buat kalian yang sehat dan masih berjuang ditengah pandemic, PPKM, sehat selalu yaa… Meskipun tetep harus kerja di luar rumah, tetap patuhi protocol kesehatan. Love u semuanya 🖤
__ADS_1