
Ashqar dan Rafa serempak saling melempar lirikan mata kemudian Rafa lebih dulu menyenggol lengan Ashqar menggunakan sikunya. Namun, sayangnya Ashqar memilih pura-pura tidak tahu hingga mau tak mau Rafa yang menghadapi sendirian.
“Saya udah nikah,” katanya singkat sambil mengangkat tangan kanan, menunjukan cincin yang melingkar di jari manisnya.
Perempuan dihadapan mereka berkedip, terlihat bingung, lalu menoleh kebelakang. Teman-temannya serentak menggeleng dan memberi kode, menunjuk pada Ashqar.
“Oh ... bukan kakak,” katanya, lalu menatap Ashqar. “Tapi kakak. Bisa minta kontaknya?”
Ashqar melirik Rafa sambil menahan tawa. Dia yakin iparnya itu pasti merasa malu dan kesal karena penolakan yang baru diterimanya, dan ekspresi itu menjadi hiburan lain bagi Ashqar.
Ashqar berdeham, memandang perempuan didepannya. “Maaf, tapi nggak bisa.”
“Kalau Instagram?” tanya perempuan itu dan dijawab gelengan kepala oleh Ashqar. “Nggak punya? Twitter, deh.” Namun, Ashqar kembali menggeleng sambil tersenyum tipis. “Nggak punya juga? Facebook pasti punya, dong?”
“Saya punya semuanya, instagram, twitter atau facebook. Yang saya nggak punya izin istri saya, jadi mohon maaf,” jelas Ashqar lembut lalu berbalik sambil menyeret Rafa bersamanya.
Sudah cukup lama sejak terakhir kali ada perempuan yang mendekatinya, karena selama ini ia hampir tidak pernah pergi sendiri tanpa ditemani anak atau istri. Sekalipun ada, jauh sebelum bersama Safira, Ashqar tidak pernah akan dengan santai meladeni hal-hal seperti ini. Dia hanya akan memberikan punggung dinginnya dan berlalu begitu saja tanpa sepatah kata.
“Saya mau jadi istri kamu.”
“Hah?” ucap Ashqar dan Rafa bersamaan.
Mereka yang baru dua langkah jauhnya serentak langsung berbalik.
“Siapa yang mau jadi istri siapa, ya?” tanya Ashqar dingin.
Perempuan itu memasang ekspresi malu-malu. “Saya jadi istri kakak,” cicitnya, melangkah maju sambil menyelipkan helaian rambut dibelakang telinga.
Sedangkan Ashqar yang melihatnya hanya bisa terheran-heran. Daya pikir perempuan muda bergaya modis dihadapannya ini ternyata tak semodren penampilannya, atau mungkin rasa percaya dirinya yang melebihi orang lain.
“Mbak, saudara saya ini nggak lagi merayu kamu jadi kamu jangan terlalu percaya diri,” ucap Rafa ketus mendahuli Ashqar. “Dia ini udah menikah, anaknya udah tiga, otw empat malah. Dan dia nggak berminat punya istri lagi, apalagi yang otaknya tumpul kayak kamu. Merusak keturunan aja.”
Setelah mengatakan itu Rafa langsung beranjak pergi, meninggalkan si perempuan yang terkejut dan Ashqar yang bingung bagaimana harus meberi respon. Jadi setelah meminta maaf, entah untuk apa, Ashqar bergegas menyusul Rafa.
__ADS_1
Dan begitu Ashqar bisa menyamai langkah Rafa, ia berkata, “Omonganmu sadis men.”¹ Ashqar merangkul pundak Rafa. “Ora usah nesu, isin mbi liyane.”²
“Berisik,” desis Rafa.
Ashqar lagi-lagi mengulum senyum saat mereka berbelok dan masuk ke salah satu toko mainan anak. Dia memilih untuk tak melanjutkan menggoda Rafa atau mereka akan terlibat baku hantam ditempat umum.
Boneka-boneka besar berbentuk beruang dan panda menyambut mereka di pintu masuk, lalu dibelakang itu ada deretan robot di rak bagian atas dan boneka-boneka karakter di rak bawah. Sungguh ide cerdik dari bagian pemasaran toko untuk menarik pelanggan terutama anak-anak.
Begitu di dalam toko, Ashqar langsung menuju deretan mainan untuk anak laki-laki, mencari mainan yang menjadi request putra sulungnya. Ini juga bisa dibilang pertama kalinya Alvin meminta untuk dibelikan mainan, biasanya anak itu akan mengatakan terserah setiap kali Ashqar bertanya oleh-oleh apa yang diinginkan atau mainan apa yang ingin ia miliki. Namun, kali ini Alvin menggebu-gebu meminta dibelikan Lego edisi Lego City, mainan yang biasanya menjadi favorit Zain.
“Maaf, Pak. Ada yang bisa saya bantu?”
Sebuah suara datang dari belakang Ashqar dan Rafa.
Ashqar lebih dulu menoleh dan mendapati seorang karyawan toko laki-laki berperawakan kurus sudah berdiri didekatnya, sebuah keranjang merah berada ditangannya.
“Nggak, Mas.” Ashqar dengan halus menolak kehadiran si karyawan toko. Untungnya si karyawan cukup peka dan meninggalkan tempat, bukan tipe pegawai toko yang membuntuti pelanggan hingga membuat pelanggan merasa risih.
Ashqar berdesis lirih. “Ranee yang bilang?”
“Dari Safira.” Rafa langsung memutar tuduhan, meskipun hal itu sebenarnya tidak perlu.
“Aku tolak.”
“Terus?”
“Nggak terus terus.” Ashqar bergeser pada rak selanjutnya yang memajang Lego edisi khusus. “Kita akhirnya ngobrol via telfon, bahas masalah konferensi dan kasus penyerangan Safira. Dia minta maaf soal konferensi kemarin.”
Kening Rafa berkerut, merasa ada sesuatu yang kurang. “Cuma gitu aja?”
“Kamu berharap apa?” gerutu Ashqar. Dia menghela napas dalam dan menatap kotak ditangannya. “Banyak masalah yang terjadi, banyak hal yang mau diluruskan. Bahkan kalau diantara kami mau mengkonfirmasi sesuatu, rasanya mungkin jadi serba salah. Jadi memang mungkin untuk saat ini lebih baik berkomunikasi seperlunya supaya nggak menimbulkan persoalan lain.”
Mendengar ucapan Ashqar membuat Rafa seketika terdiam dan menelan kembali pertanyaan-pertanyaan yang ingin ia ajukan. Jika Safira dan Ashqar sudah membuat keputusan maka sebagai saudara ia harus menghormati itu.
__ADS_1
“Bukannya Zain nggak suka sama edisi city?” tanya Rafa saat ia melihat kardus yang Ashqar pegang.
“Ini buat Alvin. Dia minta dibeliin Lego City.”
“Alvin?” beo Rafa, heran. “Biasanya dia jarang minta mainan, kalau minta sesuatu juga biasanya buku.”
“Aku juga nggak tahu. Tapi nggak masalah, sih. Justru aku seneng kalau dia nggak sungkan buat minta dibeliin sesuatu tanpa harus dibujuk, kamu pasti paham.”
Rafa mengangguk. Dia sangat paham bagaimana karakter anak pertama Ashqar dan Safira. Alvin begitu tahu diri hingga membuat orang-orang disekitarnya ingin menarik anak itu keluar dari tempat persembunyian, termasuk dirinya.
Pernah suatu hari saat Rafa mengajak Alvin dan Zain pergi diakhir pekan hanya untuk sekedar mengisi waktu libur menonton film di bioskop dan ditutup dengan mengajak keduanya ke toko mainan, tapi hanya Zain yang antusias memilih berbagai jenis mainan sedangkan Alvin berjalan tenang di belakang adiknya. Dan saat Rafa menyanyakan hal itu, Alvin hanya mengatakan bahwa dia tidak menginginkan mainan apapun. Makanya Rafa lebih sering langsung membelikan Alvin daripada menunggu anak itu memilih.
“Benar-benar anak yang nggak biasa,” batin Rafa.
Kemudian saat Ashqar mengambil dua kardus Lego dan berjalan menuju kasir, Rafa terheran-heran. “Udah?”
“Udah,” jawab Ashqar, mengangkat dua kardus berukuran sedang ditangannya.
Rafa berdecak melihat itu dan kembali pada rak-rak sebelumnya, mengambil dua kardus lagi dengan seri berbeda untuk kedua keponakannya.
.
.
.
✄................................................
Pojok Diksi :
¹“Omonganmu sadis men.” \= “Omonganmu sadis banget.”
²“Ora usah nesu, isin mbi liyane.” \= “Udah nggak usah ngambek/marah, malu sama yang lain.”
__ADS_1