
“Ini, Mbak. Saya tadi beli bakso di depan gang.”
Safira terdiam, tetapi tangannya tetap menerima uluran plastik hitam sedang yang Hendra berikan.
“Ini Pak Hendra sengaja beli buat ....”
“Iya, Mbak,” potong Hendra cepat. Senyum canggung menghiasi wajahnya yang tak lagi semuda dulu. “Saya inget Alvin dan Zain waktu beli bakso di depan gang tadi, makanya saya sengaja beli lebih. Nggak apa-apa‘kan, Mbak?”
Safira menggeleng cepat. “Nggak apa-apa, Pak. Maaf, saya cuma nggak enak sama Pak Hendra. Soalnya Bapak sering banget kasih anak-anak ini-itu, takut malah ngerepotin.”
Tawa Hendra terdengar renyah. “Nggak kok, Mbak. Saya senang dengan anak-anak. Apalagi saya tinggal sendirian. Kalau gitu saya permisi ya, Mbak. Udah mulai hujan.”
Safira tersentak. “Iya, Pak. Maaf malah nggak ngajak masuk.”
“Nggak papa. Nggak papa,” jawab Hendra melambaikan tangan.
Hendra berlalu sambil tak melepaskan senyum lebar di wajahnya, dan Safira segera menutup gerbang lalu berbalik masuk ke dalam rumah.
Dia sedikit merasa tidak enak dengan Hendra. Tetangganya itu sangat baik pada keluarganya sejak pertama kali pria paruh baya itu pindah ke lingkungan mereka, terutama pada dua krucil kesayangan Safira.
__ADS_1
Alvin dan Zain bahkan betah berlama-lama jika main ke rumah Hendra walau hanya di halaman rumah. Safira tidak memberikan izin kedua putranya untuk masuk ke dalam rumah Hendra. Bukan tanpa sebab, biar bagaimanapun Hendra adalah orang asing dan Safira tidak ingin mengambil resiko bagi anak-anaknya jika ia melepaskan pandangan dari keduanya.
Begitu Safira sampai di dapur, ia mendengar hujan sudah turun dengan deras. Sontak hal itu membuatnya sadar jika ia sedang sendirian di rumah, tanpa Ashqar, dua krucil dan Harsha. Dengan perasaan cemas ia melangkah ke ruang tamu lalu membuka tirai.
“Ya, Allah. Ini kok, malah belum pada di rumah semua,” bisik Safira, meremas tirai sambil terus melirik pagar. “Harsha gimana, ya? Duh! Ini gara-gara Bapak, nih.”
Safira menghembuskan napas kasar dan melempar dirinya ke atas sofa, berbaring menatap langit-langit ruang tamu. Terbayang di benaknya, di atas lapisan putih plafon ruang tamu, wajah lucu Zain dengan senyum lebar dan mata sipitnya saat tersenyum, juga ekspresi mau tak mau Alvin yang menggemaskan.
Mendadak rasa rindu menyerang Safira tanpa aba-aba dan tanpa sadar membuat maniknya berkaca-kaca. Ini mengapa Safira tidak begitu menyukai hujan, terkadang tanpa alasan ia bisa merasa melankolis.
“Biasanya kalau hujan deras gini anak-anak pada nyusul ke kamar,” monolog Safira, berbaring miring menatap pintu kamarnya yang tak tertutup.
Safira menegakan badan dengan cepat dan membuat rasa pening kembali datang. Namun, dia tak ambil pusing. Sambil menahan rasa sakit di kepala, Safira berjalan ke luar rumah, berpikir bahwa Ashqar atau Edi yang baru saja membuka gerbang.
Sayangnya, bukan.
Safira membeku di tempat. Otaknya bekerja cepat, mengidentifikasi orang di depannya. Dengan jas hujan basah, air menetes membasahi lantai dan wajah yang tertunduk membuat Safira kebingungan.
“Kamu siapa? Kok, main masuk rumah orang tanpa permisi?” tanya Safira dingin. Sorot mata Safira penuh antisipasi, sambil melipat tangan di dada.
__ADS_1
Orang itu menaikan wajah, air turun satu per satu dari rambutnya yang basah. “Bu, bisa ngobrol sebentar?”
Kening Safira berkerut dalam. Orang di depannya ini ternyata seorang laki-laki muda, mungkin umurnya baru awal dua puluhan. Dan satu hal yang pasti, dia jelas bukan orang yang Safira kenal.
“Kamu ini siapa?” ulang Safira.
Safira bisa melihat raut kebingungan di wajah laki-laki di depannya dan seklias ia pun bisa melihat ketakutan disana.
“Saya ... saya ....” Laki-laki itu melirik-lirik ke sembarang arah, menghindari tatapan Safira. Lalu dalam satu tarikan napas, ia berjalan maju. “Saya mau wawancara,” katanya, tepat di depan wajah Safira.
.
.
.
✄................................................
Bersambung~
__ADS_1