
Empat bulan berlalu dan semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Kebahagiaan tidak berkurang dari keluarga Ashqar dan Safira meskipun beberapa masalah hadir di tengah-tengah mereka.
Bukan hanya soal Zain yang terkadang masih menyimpan kecemburuan terhadap Harsha, tapi juga kesalahpahaman-kesalahpahaman kecil antara Ashqar dan Safira. Namun, Safira sendiri menganggapnya sebagai bumbu dari kehidupan rumah tangganya saat ini. Dan sekarang kebahagiaan lain akan datang dikehidupannya sebagai hadiah besar.
Pernikahan Rafa dan Ranee yang kurang dua minggu lagi akan digelar. Pada akhirnya dari harapan Safira selain kebahagiaan keduanya adalah Rafa tidak akan lagi merecokinya atau Ashqar tentang curhatan galau menjelang pernikahan atau perselisihan Rafa dan Ranee saat menyiapkan pernikahan.
Bukannya Safira keberatan membantu permasalahan Rafa, tapi kakak laki-lakinya itu seperti bukan dirinya kalau berhadapan dengan Ranee. Safira sendiri tahu betul bagaimana watak calon kakak iparnya itu, teguh pendirian, mandiri dan logis.
“Persiapan pernikahannya udah sampai mana, Mbak?” tanya Safira, membenahi selimut Harsha.
Keduanya berada di kamar Safira. Ranee beralasan kangen dengan keponakannya itu dan beberapa waktu belakangan dia juga tidak bisa bertemu dengan Safira atau Harsha. Bahkan saat Safira melahirkan sampai acara aqiqah Harsha, Ranee tidak bisa datang lantaran tugas negara terlalu posesif padanya dan hanya dua kali setelah acara itu.
“Kira-kira 85%. Tinggal konfirmasi ke WO buat acaranya aja sama nyebar undangan, sisanya paling yang kecil-kecilnya.”
“Pedagang alun-alun diundang juga?” tanya Safira setengah bercanda.
“Yang bener aja, Fi.” Ranee melirik sebal Safira lalu dengan cepat kembali beralih pada Harsha, memainkan jemari mungilnya. “Itu namanya bunuh diri.”
Tawa Safira mengalun halus. Dia paling senang menggoda Ranee dengan menggunakan identitas palsunya saat menjadi pedagang kue pukis. “Barang kali Mbak Vera kangen sama suasana alun-alun.”
__ADS_1
“Kamu mau sampai kapan manggil aku pake nama itu, sih?”
Safira merengut. “Selamanya,” katanya, berbaring miring menghadap Ranee yang duduk di tepi ranjang. “Buat aku, Mbak Vera tetep Mbak Vera. Kalau aku panggil nama asli Mbak, aku ngerasa kalau orang yang aku kenal itu berbeda meskipun satu orang yang sama.”
Ranee hanya bisa menghembuskan napas pasrah mendengar jawaban Safira yang tetap sama tiap kali ia menanyakan perihal nama panggilannya. “Ngomong-ngomong, Fi. Kalau aku ngundang Tante Sari, kamu gimana?” tanya Ranee, keraguan jelas ada di nada suaranya.
Ekspresi Safira berubah. Manik matanya menghindari tatapan Ranee, memperhatikan wajah pulas putrinya. “Kenapa Mbak malah minta izin sama aku? Itu mah terserah Mbak Vera aja.”
Sementara Safira mencoba menghindar dari tatapannya, Ranee justru melempar keseriusan pada Safira. “Aku nggak minta izin, aku tanya perasaan kamu.”
“Perasaanku harusnya nggak ada hubungannya sama jalan acara pernikahan kalian, termasuk tamu undangan. Jadi nggak masalah.”
“Kamu tuh paling nggak bisa bohong, ya.” Ranee mencubit pipi Safira dan mengabaikan protes yang ditujukan padanya. “Aku harap hubungan kamu dan Tante Sari membaik, karena kamu sendiri ‘kan yang memberi izin Bapak dan Tante Saru buat rujuk.”
Safira terlihat muram. “Aku juga berharap gitu, tapi rasanya masih sangat sulit. Setiap kali melihat wajah Tante Sari yang terlintas dibenakku adalah keadaan Alvin dan Zain di kantor polisi setelah penculikan itu.”
“Kamu pernah bilang, waktu adalah obat paling mujarab untuk hati yang terluka. Tapi menurutku, menerima rasa sakit itu dan berusaha buat menghadapinya adalah cara terbaik daripada hanya membiarkannya aja.” Ranee mengulurkan tangan, mengusap surai Safira. “Sama seperti waktu itu, kamu menerima masa lalu kamu dan menghadapi Bapak juga Rafa terus perlahan semuanya membaik ketimbang saat kamu terus-terusan lari dari mereka.”
“Tapi aku butuh bertahun-tahun,” sergah Safira. “Dan alasan kuat kenapa aku memilih buat menghadapi mereka adalah keluarga kecilku, tapi buat Tante Sari ….”
__ADS_1
“Demi aku dan Rafa,” ucap Ranee, menatap wajah Harsha dan Safira bergantian. “Atau demi Harsha juga dua krucil.”
Safira tertegun. Dia masih menghindari tatapan Ranee yang seakan tengah menelanjanginya, tak ada kalimat yang mampu Safira keluarkan sebagai sanggahan. Namun, dia juga tahu bahwa alasan yang Ranee tawarkan adalah hal paling masuk akal.
Hanya saja, memaafkan tidak pernah selalu mudah dan dalam kasus Safira, rasanya hampir tidak mungkin. Sementara pernikahan kakaknya sudah di depan mata, dia tidak ingin Rafa kehilangan muka di depan keluarga Ranee.
.
.
.
✄................................................
I’m back! Akhirnya 🤧
Dari dua hari kemaren nggak bisa nulis karna nungguin yang sakit, maaf banget yaa…
Makasih juga buat kalian atas doa-doanya, dan selalu jaga kesehatan ya gaes. Jangan banyak gadang, makan teratur dan istirahat cukup. Semoga kita semua senantiasa diberi kesehatan karena sakit itu nggak enak dan mahal
__ADS_1
ps. buat yang bingung nggak ada pemberitahuan, aku kasih info dari IG sama grup yaaa 😘