Gaung Rasa

Gaung Rasa
Objek Kecurigaan


__ADS_3

Pada akhirnya obrolan Safira dan Ranee berubah menjadi perdebatan. Sementara Safira sibuk menyangkal, Ranee terus mendesaknya dengan kalimat-kalimat menohok.


Seperti; bagaimana Safira bisa begitu keras kepala, beberapa kali menjadi tak sabaran, mengambil keputusan tanpa pikir panjang, bertindak seenaknya dan ceroboh. Dan yang paling sering Ranee garis bawahi adalah sikap over thinking sahabatnya itu. Lantas apa yang membuatnya bertahan menjadi salah satu orang terdekat Safira?


Tidak lain karena rasa sayangnya pada Safira. Meski tak bisa dipungkiri jika alasan pertama Ranee mendekati Safira adalah untuk memperkuat alibinya dalam penyamaran. Akan tetapi, hal itu lambat laun benar-benar merubah perasaannya seiring kedekatan dirinya dan Safira.


Ranee sendiri merasa jika memiliki Safira sebagai teman baiknya merupakan hal luar biasa, lebih seperti mimpi yang menjadi nyata. Hal yang begitu ia dambakan setelah bertahun-tahun menjadi satu-satunya anak perempuan diantara dua lelaki. Terlebih saat ia berhasil menggoda Safira dan memancing reaksinya, hal itu sangat menghibur Ranee. Safira sudah hampir menjadi sosok adik bagi Ranee, dan sekarang memang begitu.


Jadi ketika sahabat sekaligus iparnya itu terus terjabak dalam kemelut yang ia buat sendiri, Ranee tak bisa tinggal diam. Kali ini dia tak mau menoleransi sikap Safira. Iparnya itu harus mengerti bahwa logika harus diutamakan ketimbang perasaan dan prasangka tak beralasan disituasi seperti sekarang ini.


Dengan membawa perasaan kesal, Ranee berjalan menuju ruang kerja ayah mertuanya. Dan begitu sampai di depan pintu, ia langsung membukanya.


“Apa kalian udah selesai?” tanya Ranee, masuk ke dalam ruang kerja Edi.


Rafa dan Ashqar yang sedang serius membicarakan sesuatu kontan berbalik, sedikit terkejut. Menyadari siapa yang menerobos masuk ruang kerja Edi, Ashqar kembali berbalik dan fokus pada kertas-kertas yang sempat dibacanya. Sementara Rafa menyambut Ranee dengan berdiri.


“Bee? Kok, kamu disini? Katanya mau nemenin Fira?”


Ranee mengibaskan tangan di depan wajah. Dari ekspresinya, Rafa sudah bisa menebak jika kedua wanita kesayangannya itu mungkin terlibat perdebatan.


Rafa menyentuh pundak Ranee dan berkata, “Aku sama Ashqar belum selesai. Ada apa? Apa kamu butuh sesuatu?”


“Nggak ada apa-apa, kok.” Ranee mengabaikan Rafa dan mengambil tempat di hadapan Ashqar. “Kalian lagi bahas apa? Apa ada yang bisa aku bantu?”

__ADS_1


Ranee menarik selembar kertas yang tertumpuk di atas meja, membacanya dan terkejut. “Ini data diri siapa?”


Danu Priyogi


Banyuwangi, 27 Maret 199X


Reporter Magang


“Ini ... data orang yang melukai Safira?” Ranee tercekat, ia bahkan tak menyelesaikan bacaannya. Kemudian menatap Rafa dan Ashqar bergantian.


“Kamu tahu?” tanya Rafa yang sudah kembali ke tempat duduk.


“Safira yang cerita.” Ranee kemudian membaca lembar lainnya dengan judul yang sama, hanya saja berbeda isi. “Jadi mau kalian apakan kedua orang ini?”


“Aku dan Rafa berencana memberi mereke pelajaran dengan—”


Rafa menatap Ranee dramatis. “Ya ampun, Bee. Ashqar belum selesai loh, itu ngomongnya. Kok, kamu malah udah nuduh sembarangan.”


Ranee melipat lengan di bawah dada. “Kamu itu emang objek yang patut dicurigai, Boo. Aku nggak mau kalau kalian bertindak sembarangan apalagi sampai melanggar hukum, ya.”


“Astaga!” keluh Rafa, menghembuskan napas kasar. Kemudian ia menepuk pundak Ashqar. “Tolong dijelasin rencana kita, Kar.”


Ashqar yang sejak tadi hanya menjadi penonton langsung mengeluhkan sikap pasangan pengantin yang masih terhitung baru ini, menceramahi mereka karena membuatnya menjadi nyamuk.

__ADS_1


Lalu setelahnya Ashqar dan Rafa bergantian menjelaskan rencana mereka dalam menangani permasalahan penyerangan Safira dan gosip antara Ashqar dan Nita yang beredar. Keduanya juga berencana untuk memindahkan sementara Safira, Alvin, Zain dan Harsha ke rumah Edi. Detail rencana satu per satu Rafa jabarkan pada istrinya dan sesekali Ranee memberikan pendapat agar solusi mereka tidak membentur hukum yang justru dapat menyusahkan pihak mereka.


“Jadi besok Ashqar bakal buat laporan ke Polsek dan aku bakal menghubungi kenalan di Polda, terus Mas Rafa minta orang buat mengontak tempat kerja kantor dua wartawan itu,” terang Ranee. “Mas Rafa, aku peringatkan, jangan bertindak berlebihan. Paham?”


“Iya, Sayangku.”


“Aku pergi sekarang.” Ashqar berdiri. Namun, saat ia baru saja akan beranjak Ranee langsung menyela.


“Ashqar. Tolong bicara lagi sama Safira, yakinkan dia supaya nggak terus-terusan keras kepala. Hal itu nggak bagus buat kondisi dia sendiri dan janinnya, apalagi disaat seperti ini.”


Kening Ashqar berkerut. “Dia ... cerita apa? Apa ada masalah lain?”


“Masih yang sama, harusnya. Tapi tanyain aja sendiri. Aku nggak mau jadi tukang ngadu.”


.


.


.


✄................................................


Ha to the lo. Halo! 😂

__ADS_1


Apa kabar? Mudah-mudahan kita semua dalam keadaan baik.


Sampai jumpa di chapter berikutnya 👋🏻


__ADS_2