
Beberapa minggu kemudian, keadaan jauh lebih baik dari apa yang Safira harapan dan ia beserta keluarga kecilnya sudah bisa kembali ke rumah. Tentu saja hal itu bukannya tanpa halangan. Protes keras diserukan kakek tua yang beralasan tak ingin berpisah dari cucu-cucunya. Edi tak ingin rumah kembali sepi tanpa kehadiran Alvin dan Zain, juga suara tangis Harsha. Sayangnya, meski begitu Edi tetap tak mampu mengubah keputusan Ashqar dan Safira.
Pasangan suami-istri itu melakukan diskusi panjang dan hati-hati sampai akhirnya mendapatkan keputusan yang menurut mereka baik. Setelah lebih dari sebulan mereka menghindari kemungkinan wartawan akan mengepung rumah mereka, mengawasi perkembangan gosip, laporan kasus penyerangan Safira dan keadaan lingkungan tempat tinggal mereka, akhirnya hari dimana keluarga kecil Ashqar kembali pada kehidupan mereka tiba juga.
Untungnya lagi karena mereka memiliki lingkungan yang sehat. Beberapa wartawan memang datang silih berganti, mengawasi bahkan menunggu berjam-jam di depan rumah Keluarga Baswara. Diantaranya ada pula yang menodong mikrofon ke tetangga terdekat Safira, tapi dengan tegas mereka menolak menjawab. Andai saja Safira masih tinggal di kontrakannya yang lama sudah pasti ia justru akan menjadi bulan-bulanan wartawan dan ibu-ibu yang tak menyukainya.
Jadi atas kesadaran mengenai hal itu, saat Safira membuang sampah pagi ini dan melihat Hendra sedang menyiram bunga maka ia tanpa pikir panjang langsung menghampiri laki-laki paruh baya itu. Dari depan rumahnya ia bisa melihat beberapa bunga sudah tidak berada di tempatnya, sepertinya jumlah tanaman-tanaman kesayangan Hendra berkurang beberapa buah.
“Pagi, Pak Hendra. Apa kabar?” sapa Safira, berdiri di luar pagar kayu setinggi pinggang.
Hendra mengangkat wajah, ada sisa tanah yang bercampur keringat di kening juga pipi kanannya, kemudian menyunggingkan senyum tipis begitu mendapati Safira sudah ada di luar pagar rumahnya. “Pagi, Mbak Fira. Baik, baik.” Hendra meletakan alat penyiram tanaman ke atas tanah. “Mbak Fira sendiri apa kabar?”
“Alhamdulillah, baik. Saya mau berterimakasih buat bantuan bapak tempo hari karena udah membawa saya ke rumah sakit, maaf saya baru sempat bilang.”
Hendra tertawa renyah sambil mengibarkan tangan di depan wajah. “Nggak perlu berterimakasih, Mbak. Kebetulan saat itu saya mendengar ribut-ribut dari rumah jenengan jadi saya langsung menghampiri.”¹
__ADS_1
“Tapi karena bantuan bapak, saya jadi terhindar dari hal-hal yang mungkin jauh lebih buruk.”
Hendra memandanginya lekat-lekat lalu menggeleng halus. “Sudah jadi kehendak Tuhan, Mbak Fira baik-baik saja. Jadi nggak perlu dipikirkan,” kata Hendra, melanjutkan menyiram bunga-bunga kesayangannya.
Safira terdiam, tak tahu harus bagaimana menanggapi ucapan Hendra. Sebelumnya ia selalu hati-hati jika berurusan dengan orang lain, tak peduli sebaik apapun. Namun, dengan pria paruh baya di hadapannya ini Safira seringkali mengendurkan kewaspadaannya.
“Ngomong-ngomong, Mbak. Apa sudah selesai?”
Safira berjengit dan kembali dari lamunan. Akan tetapi otaknya tak bekerja dengan secepat refleksnya. “Iya, Pak. Saya cuma mau bilang itu aja. Maaf kalau mengganggu.”
Hendra tergelak. “Bukan itu maksudnya, mbak,” katanya, menahan pergerakan Safira yang akan berbalik pergi. “Maksud saya urusan yang kemarin.”
“O-oh ... belum, Pak.” Safira tersenyum getir. “Tapi kalau nunggu semuanya selesai pasti butuh waktu lama.”
“Bener, mbak. Lebih baik dihadapi, pelan-pelan keadaannya pasti akan membaik.”
__ADS_1
Safira tersenyum simpul. “Iya, Pak Hendra. Alhamdulillah, berkat bantuan tetangga-tetangga disini termasuk bapak juga makanya wartawan nggak ada yang berhasil mendapatkan berita mengenai keluarga saya.”
Hendra kembali menanggapi dengan ucapan rendah hati, bahwa hal itu harus dilakukan dalam bertetangga. Obrolan mereka berlanjut seperti hujan yang jatuh di awal Bulan September.
Sedangkan dari jarak tak begitu jauh, di belakang gerbang, Ashqar memperhatikan istrinya dengan perasaan campur aduk. Interaksi Safira dan Hendra membuat Ashqar semang dan cemas sekaligus, ingatannya ditarik mundur ke hari dimana Edi menampar Rafa dengan keras.
.
.
.
✄................................................
Nara Note :
__ADS_1
Maapkan kemaren nggak bisa update, jadi hari ini rapelan lagi 3 chapter
¹Jenengan \= Kamu (halus/jawa)