
“Nggak apa-apa, Mbak. Ini aku udah di kamar rawat. Dokternya masih di perjalanan dan aku juga masih nunggu pembukaannya lengkap,” terang Safira pada Rahma lewat sambungan telefon.
Reaksi kakak iparnya itu hampir mirip dengan Rafa, hanya jauh lebih kalem. Mungkin karena mereka sama-sama perempuan dan Rahma juga sudah pengalaman dengan persalinan. Namun tetap saja, hal itu tidak menghilangkan khawatir dari nada suaranya.
Rahma bahkan hampir mengalami kecelakaan, mungkin, saat Safira meminta untuk menjemput Alvin dan mengabarkan bahwa ia sudah berada di rumah sakit untuk melahirkan. Safira bisa mendengar suara decitan yang cukup keras sebelum akhirnya Rahma memberondonginya dengan pertanyaan.
“Mbak nggak habis pikir. Gimana bisa kamu yang cuma mau mastiin kamar rawat di rumah sakit justru masuk rumah sakit?”
Safira tertawa halus. Dia pun tidak menyangka jika hal seperti ini bisa terjadi, tapi untungnya dia belum begitu jauh dari rumah sakit tadi dan bisa putar balik.
“Aku juga kaget, Mbak. Tapi untungnya tadi nggak begitu jauh.”
Rahma menghembuskan napas keras. “Alhamdulillah. Sekarang yang penting kamu tenang dan jangan tegang supaya begitu pembukaannya lengkap, lahirannya bisa lancar.” Terdengar bunyi ‘beep’ sampai akhirnya Rahma melanjutkan, “Ini mbak udah sampai bandara. Mbak jemput ibu dulu baru jemput Alvin, nanti mbak juga telfon gurunya supaya Alvin nunggu di sekolah.”
“Iya, Mbak. Makasih, maaf ngerepotin.”
“Kamu tuh kebiasaan. Kayak sama siapa aja, sih. Ya udah, mbak tutup dulu. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikummusalam.” Begitu sambungan terputus, Safira menaruh ponselnya di atas nakas.
Kelegaan menghampiri Safira, hatinya jadi sedikit lebih tenang. Hanya satu hal lagi, selain kenyataan bahwa dia tengah menghadapi persalinan tentunya, seseorang yang sempat menangis kencang karena berpikir dirinya tengah sakit. Meskipun itu juga tidak salah.
__ADS_1
“Zain,” panggil Safira dengan nada sehalus mungkin.
Namun, anak laki-lakinya yang duduk di samping ranjang enggan mengangkat kepala. Sambil menghela napas dalam, Safira mengulurkan tangan dan mengusap surai Zain.
“Zain lihat, deh. Mamah nggak apa-apa.” Safira tidak berharap Zain meresponnya dengan senyum lebar seperti biasanya. Tetapi saat Zain tetap diam, hal itu membuat ia sedih.
Dia menduga jika Zain merasa terkejut dan bingung dengan situasi yang terjadi sebelumnya. Walaupun anak itu tidak berada di tengah-tengah situasi carut-marut karena panik, semua perawat menanganinya dengan tenang dan professional, tapi Zain sepertinya menyadari di mana mereka berada. Putranya dan rumah sakit memang bukan teman baik.
“Tapi tangan Mamah ditusuk,” cicit Zain, meraih jari kelingkingnya. “Mamah sakit karena adik, ya?”
Safira tidak tahu harus merasa terenyuh dengan perhatian Zain atau geli dengan pemikiran polosnya. “Mamah nggak sakit karena adik, Sayang. Sekarang ini mamah lagi nunggu adik lahir. Zain juga mau lihat adik, ‘kan?” katanya ceria, mencoba mengalihkan rasa khawatir Zain.
Zain mengangkat wajah dan menatap Safira dengan matanya yang berair. “Kenapa nunggu adiknya di rumah sakit? Kenapa nggak di rumah aja? Kalau di rumah sakit, ‘kan, buat orang sakit.”
“Kenapa nggak bisa sendiri?”
“Soalnya adik masih kecil. Semua adik bayi yang mau lahir harus dibantu sama dokter.”
Kening Zain berkerut, bibir tipisnya maju beberapa senti sementara manik matanya menatap lurus pada perut besar Safira. “Waktu aku bayi juga gitu, Mah?” tanyanya, mengalihkan pandangan pada wajah Safira.
Safira termangu dan tanpa sadar menahan napas. Dia tidak yakin untuk menjawab pertanyaan Zain, tapi binar keingin tahuan yang terpancar dari matanya membuat Safira goyah. Andai saja dia lah orang yang melahirkan Zain, maka pertanyaan itu tidak akan begitu sulit untuknya.
__ADS_1
“Sayang, kamu nggak apa-apa?” seru Ashqar bersamaan dengan pintu kamar rawat yang terbuka.
Jangan tanyakan bagaimana reaksi dua orang beda usia yang berada di dalam ruangan. Zain tersentak kaget, sementara Safira tiba-tiba merasa mulas. Entah memang karena kontraksinya kembali datang atau seruan Ashqar yang memicu kontraksi itu.
“Dasar, nggak sopan.” Rafa meninju lengan Ashqar dengan serius. “Kamu bikin bayi Safira kaget.”
Ashqar melayangkan tatapan permusuhan kepada iparnya. Dia bahkan sempat berpikir untuk membalas tinjuan Rafa saat lelaki itu melewatinya menuju ranjang. Hal yang membuat Ashqar tersadar dan langsung mengekori Rafa.
“Maaf. Kamu kaget, ya?” tanya Ashqar begitu berada di sisi ranjang.
Ekspresi Safira menjawab dengan baik pertanyaan Ashqar. Rasa sakit di perutnya datang dua kali lipat dari sebelumnya hingga membuat Safira hanya bisa berdesis sambil memejamkan mata.
.
.
.
✄................................................
Pagi\~
__ADS_1
Selamat membaca dan jangan lupa kasih dukungan kalian ke cerita ini, Luv! 🖤🤗