
Zain menoleh diiringi erangan penuh keluhan, lalu dipandanginya Alvin dengan tatapan tak suka yang dipresentasikan dengan bibir tipisnya yang maju beberapa senti. Meski begitu Zain tetap menuruti ucapan kakaknya dan melepaskan pelukan dari tubuh Safira.
“Mamah sakit?” tanyanya, memandang wajah Safira.
“Nggak.” Safira menahan tubuh Zain agar tetap di pangkuan saat putranya itu akan beranjak. “Mas Zain marah?”
Zain mengangguk.
“Kenapa?”
Zain melirik Ashqar takut-takut, tapi bercampur kesal lalu sedetik kemudian menurunkan pandangan dan menunduk. “Papah bohong,” bisiknya.
Menyadari gelagat putranya, Safira segera mengusap-usap punggung Zain. “Papah bohong apa?”
“Mamah Zain itu ini.” Zain menyentuh dada Safira. “Bukan Tante Nita.”
Mendengar ucapan yang ingin didengar secara berulang-ulang dari orang yang sangat dicintai adalah obat paling mujarab bagi hati yang gundah. Safira merasakan hangat itu menjalar di sekujur tubuhnya, melewati setiap syaraf hingga masuk ke dalam dada.
Tanpa bisa ditahan, Safira mengembangkan senyum. “Iya, mamah ini mamahnya Mas Zain. Mamahnya Mas Alvin. Mamahnya Harsha.” Safira membelai pipi Zain dan mencubitnya pelan. “Mamahnya Mas Alvin sama Harsha cuma satu, kalau Mas Zain ada dua. Satu mamah satunya lagi Tante Nita.”
Zain seketika kembali merengut. Namun, belum juga anak itu melayangkan protes, Safira lebih dulu berbicara.
“Kenapa Mas Zain marah? Mas Zain benci sama Tante Nita?”
Zain menggeleng, tapi tak juga memberikan jawaban. Sampai akhirnya setelah beberapa kali Safira mengatakan jika anak itu memiliki dua ibu dan bertanya apakah Zain membenci Nita, Zain memberi jawaban.
“Zain nggak tahu. Zain nggak mau pisah lagi sama mamah. Zain nggak mau kalau nggak ada mamah,” katanya lalu disusul isakan yang berubah tangis.
Tangis yang semula putus-putus mulai intens dan Zain mulai menangis tersedu-sedu di pelukan Safira sambil mengulang perkataan yang sama, bahwa dia tidak ingin berpisah dengan Safira.
__ADS_1
Sontak saja Ashqar dan Safira merasakan sinyal peringatan mereka menyala. Lewat lirikan mata keduanya bertukar kata, memberikan isyarat bahwa mungkin sudah cukup untuk memberikan pengertian bagi Zain saat ini. Dan jika mereka terus memaksakan hal ini maka jelas itu tidak baik bagi kesehatan mental Zain juga bagi hubungan mereka.
“Cup. Cup. Mamah nggak akan kemana-mana, Sayang. Mamah nggak mungkin ninggalin Zain,” ucap Safira mencoba menenangkan sambil mendekap semakin erat tubuh Zain.
Safira memandang Ashqar dan Alvin bergantian lalu meminta mereka membantu lewat perkataan yang terucap. Tentu saja dengan bantuan keduanya maka akan lebih mudah untuk membujuk Zain. Alasan lainnya adalah Safira mungkin akan ikut menangis bersama dengan Zain.
Melihat dan mendengar respon Zain membuat hati Safira tak karuan, perasaannya campur aduk. Disatu sisi ia merasa senang karena Zain begitu bergantung dan takut kehilangan dirinya, tapi disisi lain Safira tak ingin mengingkari janji dan hati nuraninya sendiri. Sejak kembalinya Nita dalam kehidupan Zain, Safira sudah bertekad untuk tidak memutuskan tali ibu dan anak diantara mereka.
Dia sangat tahu bagaimana rasanya dijadikan objek oleh orang lain hingga ia sendiri tidak bisa membedakan siapa yang berkata jujur dan siapa yang berbohong. Safira tidak ingin Zain merasa demikian jika suatu hari anak itu tahu siapa orang yang selama ini dianggap ibu olehnya. Dan tentu saja Safira tak akan membiarkan Zain mengetahui kebenaran ini dari orang lain. Namun, dengan keadaan saat ini rasanya sangat mustahil.
“Apa yang kami lakukan ini salah?” batin Safira.
✿✿✿
Keadaan di Kediaman Baswara senyap, seakan-akan keceriaan dan kehangatan direnggut paksa dari seluruh penghuni rumah. Begitu sepinya hingga suara tetesan air pada keran cuci piring sampai bersaing nyaring dengan denting jam dinding. Meski begitu, mereka tak bisa benar-benar menang dari lenguh pilu yang sesekali terdengar.
“Mas, apa kita terlalu memaksakan Zain?” bisik Safira, meremas tangan Ashqar yang membelai pipinya.
Dia menaikan pandangan. Wajah Ashqar tampan seperti biasanya, rambut hitam yang mulai panjang, alis lebat membingkai netranya yang tajam dan garis-garis wajah tegas yang selalu berhasil membuatnya terpikat. Namun, keindahan itu saat ini tertutup kabut.
Safira bisa melihat kesedihan pada manik mata Ashqar yang tengah menatap wajah Zain, dan perasaan itu tersampaikan dengan baik kepadanya.
“Kayaknya iya, Yang. Anak yang sudah lebih besar aja pasti sulit menerima keadaan seperti ini apalagi Zain.” Ashqar mengalihkan pandangannya pada Safira. “Selama ini yang dia tahu kamu adalah ibu buatnya, dan satu-satunya. Jadi ....”
Hembusan napas Ashqar terdengar berat. Pria itu menengadahkan wajah sebentar lalu membuang pandangan ke arah lain.
“Andai aja hal seperti ini nggak terjadi atau lebih baik lagi jika Nita nggak pernah muncul ke kehidupan kita.”
“Mas,” panggil Safira lembut. “Jangan bilang seperti itu. Mas pernah bilang kalau berandai-andai dan menyesali apa yang udah terjadi itu perbuatan yang nggak baik.”
__ADS_1
Safira menegakan tubuh setelah berhasil melepaskan dekapan Zain pada lengannya dengan cukup usaha. Kemudian ia menangkup wajah Ashqar dengan kedua tangan.
“Kita bisa melewati ini dengan baik, mas. Kamu itu sebaik-baiknya pemimpin bagi keluarga ini, kamu adalah contoh untuk aku dan anak-anak, kamu juga sandaran kami. Tolong jangan berputus asa. Ayo kita keluar dari situasi ini sebaik mungkin.”
Ashqar menatap lurus pada manik Safira dan melihat pantulan wajahnya disana. Tatapan istrinya begitu tulus meski ada lapisan tipis yang ia tebak adalah air mata yang ditahan. Lalu dengan perasaan bersalah sekaligus lega, Ashqar menarik Safira kedalam pelukannya.
“Maaf. Maaf. Aku terlalu ingin masalah ini cepat berlalu, aku ingin Zain bisa memahami keinginan kita. Tapi melihat reaksinya tadi, aku jadi bingung sendiri. Aku nggak tahu bagimana lagi menghadapai situasi-situasi tak terduga seperti ini.” Ashqar melepaskan pelukannya lalu mencium kening Safira lama. “Makasih udah mengingatkan aku, Sayang,” bisik Ashqar di depan wajah Safira.
Safira mengangguk halus. “Sama-sama. Itu udah jadi kewajiban aku buat mendukung dan mengingatkan mas disaat-saat seperti ini. Ngomong-ngomong, aku kepikiran buat ngobrol sama Mbak Rahma besok tentang hal ini. Menurut mas gimana?”
Ashqar terdiam sejenak. Dia mencoba mencerna saran Safira, tetapi otak cerdas kebanggannya enggan diajak bekerja sama.
“Aku pikirin dulu, ya.”
“Ada apa, mas?”
Ashqar menggeleng. “Nggak apa-apa. Cuma sekarang mas nggak bisa berpikir jernih. Mas mau keluar sebentar.”
Safira bergumam sebagai jawaban, pandangannya mengikuti pergerakan Ashqar yang beranjak dari kamar dan menghilang di balik pintu yang sudah tertutup. Dia sebenarnya menginginkan jawaban pasti saat ini juga, tapi sepertinya Safira harus menunggu untuk itu. Jadi lebih baik ia menyusul Zain sementara Harhsa masih terlelap sebelum putri kecilnya itu menangis karena lapar atau buang air.
.
.
.
✄................................................
Bersambung~
__ADS_1