Gaung Rasa

Gaung Rasa
Atos


__ADS_3

“Sejak kapan Mas tahu aku hamil?”


Itu pertanyaan singkat yang harusnya bisa Ashqar jawab dengan mudah. Namun, baginya pertanyaan itu seperti pertanyaan jebakan dalam soal pilihan ganda, peluang benar dan salahnya sama besar.


“Sejak kemarin, saat kamu di UGD. Dokter mendiagnosa kalau kemungkinan kamu hamil, makanya hari ini kita datang ke dokter kandungan,” terang Ashqar yang pada akhirnya memilih jujur. Toh, orang yang paling berhak mengetahui hal ini sudah diberitahu.


“Oh, gitu.”


Ashqar mengerutkan kening mendengar respon Safira. Entah kenapa ia merasa tidak puas. Kemudian Ashqar teringat percakapannya dengan Sari sesaat sebelum mereka memasuki kamar rawat Safira.


Sari menyampaikan apa yang menjadi isi hati Safira yang sebenarnya. Seperti mengadu, tapi Ashqar tahu tujuan ibu mertuanya tidaklah buruk.


“Apa ada lagi yang mau kamu tanyain, Mah?” tawar Ashqar saat Safira kembali diam. “Misalnya ... tentang gosip siang tadi.”


Safira memandang Ashqar dalam, merasa suaminya seperti bisa membaca pikirannya. “Aku nggak perlu bertanya, tapi butuh penjelasan dari kamu, Mas. Karena Mas nggak jujur sama aku. Mas bilang, kalian cuma bertemu dan sempat berbicara tentang gosip ini atau apapun itu yang sebelumnya Mas jelaskan ke aku. Tapi kenyataannya, Mas nggak cerita kapan dan dimana Mas bertemu Mbak Nita.”


Safira menghela napas panjang lalu memalingkan muka. “Dan dari televisi aku tahu kalian ketemu saat malam hari, kapan itu?” Kemudian Safira kembali memalingkan pandangan pada wajah Ashqar. “Apa lagi yang Mas sembunyikan dari aku? Berapa banyak kebohongan yang Mas tutupi?”


Tatapan terluka dan kecewa Safira bagaikan sebilah belati yang menyayat-nyayat bagian tubuhnya, membuatnya merasa bersalah karena gagal menjaga hati dan perasaan istrinya. Ashqar bahkan bisa jika manik Safira berkaca-kaca.


“Apalagi yang bisa aku sembunyikan dari kamu sekarang, Yang.” Ashqar membelai kedua pipi Safira bergantian. “Hal yang aku coba sembunyikan udah kamu ketahui semua, meskipun kamu tahu bukan dari aku sendiri. Pertemuan dengan Nita itu saat kamu sedang marah karena Zain main air. Kami bertemu sebentar, membahas gosip ini, aku juga minta Nita buat menyelesaikan hal ini.”


“Terus kenapa Mas nggak kasih tahu setelahnya? Kenapa tetap diam?”

__ADS_1


“Karena istriku selalu menyimpan prasangka.”


Ashqar tidak bermaksud melukai hati Safira saat mengatakannya, ia hanya sedang berterus terang. Akan tetapi Safira nyatanya merasa demikian.


Wanita itu lantas menundukan wajahnya dalam dan menautkan jari-jarinya satu sama lain. Safira yang selalu mengutamakan kejujuran dibuat tak berkutik dengan pengakuan Ashqar, lalu perlahan ucapan Sari terngiang di kepala.


Ketika Ashqar kembali meraih salah satu tangannya, Safira mencoba melepaskan. Namun, Ashqar bergerak lebih cepat. “Aku tahu kalau kamu nggak suka dibohongi, tapi kebohonganku punya alasan, Yang.”


“Tapi tetap aja itu kebohongan,” cicit Safira.


“Iya, dan aku minta maaf untuk itu. Tapi aku harap kamu mau mendengar alasannya.” Saat Safira mengangguk halus, Ashqar melanjutkan, “Aku nggak mau kamu kepikiran terus berasumsi sendiri dan jadi prasangka buruk. Aku nggak mau kalau sampai nanti kamu terus-terusan curiga atau mikir berlebihan tentang aku dan Nita.”


“Kalau Mas bohong kayak gini justru aku tambah curiga.”


“Kamu itu udah gampang overthinking, keras kepala lagi.” Ashqar memandang Safira dengan lembut dan penuh keseriusan. “Kebohongan memang kebohongan, tapi apa aku pernah sengaja membuat kebohongan hanya untuk kepentinganku aja?”


Safira terdiam, kata-kata Ashqar menusuk hatinya. Safira sendiri tahu betapa keras kepalanya dia, tapi baru kali ini Ashqar mengatakan secara langsung.


“Nggak.” Safira melirik ke arah lain, pada kursi yang kosong. “Sejauh ini,” lanjutnya berbisik.


“Curiga itu manusiawi, Sayang. Dan aku nggak bisa melarangnya, tapi kalau awal dari kecurigaan itu adalah prasangka-prasangka buruk yang kamu pupuk sendiri, itu yang salah,” ucap Ashqar, membelai wajah Safira agar mendapatkan kembali atensi istrinya. “Kepercayaan itu salah satu pondasi sebuah hubungan, jadi aku harap kita bisa saling percaya satu sama lain, ya? Kita hadapi masalah ini sama-sama, ya?”


Safira kembali tertegun. Dia mulai bertanya-tanya, apa yang lebih penting dari rasa sakit hatinya saat mengetahui jika Ashqar berbohong?

__ADS_1


Safira memberanikan diri mengangkat wajah. Dipandanginya wajah dari pria yang sudah menjadi teman hidupnya selama lebih dari satu tahun ini. Matanya yang sipit sering menatap tajam pada orang asing, tapi hangat pada anak-anak dan dirinya. Visual Ashqar mungkin adalah idaman tiap perempuan sebagai laki-laki ideal untuk dinikahi. Namun, ia lah orang beruntung itu.


Jika diingat-ingat lagi, pertemuan pertama mereka tidaklah semanis sekarang. Safira sempat berpikir jika Ashqar adalah pria tidak bertanggungjawab yang tega meninggalkan keluarga hingga anak laki-lakinya berada di panti asuhan, bahkan Safira sempat mengira jika Rahma adalah istri baru Ashqar. Mengingat hal itu membuat Safira mengulum senyum.


“Mas, masalah ini bisa kita selesaikan, ‘kan?”


“Insya'allah. Setiap masalah pasti ada solusinya, yang harus kita lakukan sekarang saling menguatkan,” kata Ashqar. “Aku janji bakal menyelesaikan masalah ini, bersama Rafa juga Bapak. Dan kamu nggak perlu khawatir, Sayang. Cukup jaga kesehatan dan jangan banyak pikiran. Oke?”


Safira mengangguk dan tersenyum tipis. Namun, senyum itu perlahan pudar. “Tapi Mas, gimana cara kita kasih tahu Alvin dan Zain kalau mereka bakal punya adik lagi?”


.


.


.


✄................................................


Nara Note :


Guys, besok aku libur dulu ya. Kejar setoran kantor 😢


Sampai ketemu hari kamis~

__ADS_1


Btw, makasih buat doanya. Semoga kalian juga sehat selalu 🤗 dan makasih juga hadiahnya, sayang kalian banyak-banyak 🖤🖤🖤


__ADS_2