Gaung Rasa

Gaung Rasa
Es Krim Coklat feat Corndog


__ADS_3

Salah satu yang bisa membuat suasana hati Safira semakin baik, selain makanan enak, adalah tingkah lucu anak-anaknya. Meski terkadang dibalik itu ada saja yang membuat geleng-geleng kepala.


Safira tak bisa berhenti tersenyum setelah melihat video singkat pada layar datar di tangannya. Berdurasi kurang dari satu menit, video itu memperlihatkan Zain dengan wajah belepotan sedang asik dengan dua jenis makanan berbeda. Ditangan kanannya tergenggam es krim coklat sementara tangan kiri anak itu menggenggam corndog dengan mayones.


Entah bagaimana rasanya ketika rasa manis es krim coklat berpadu dengan rasa corndog yang gurih. Membayangkannya saja membuat Safira bergidik ngeri.


Safira menyodorkan ponselnya ke hadapan Ashqar. “Mas lihat, deh.”


“Apa?” tanya Ashqar, mengalihkan pandangan dari jalanan untuk beberapa detik. “Itu siapa?”


“Sama anak sendiri nggak kenal. Zain,” cibir Safira. “Ini anak kelakuannya aneh banget, deh. Masa makan es krim coklat dicampur corndog.”


“Hah? Kok, bisa? Dicampur gimana?”


Safira tak langsung menjawab. Dia sengaja menunggu laju mobil berhenti saat melihat jika di depan lampu lalu lintas baru saja berubah merah.


“Lihat, deh.” Safira langsung menunjukan video Zain kepada Ashqar begitu kendaraan mereka berhenti.


“Ini ibu yang ngirim?” tanya Ashqar, yang dijawab anggukan antusias oleh Safira. “Nggak aneh, kok. Mirip kamu.”

__ADS_1


Protes keras langsung Safira layangkan pada suaminya. Safia mengakui jika ia sangat suka makan makanan enak, tapi ia tidak mungkin memakanan yang rasa berseberangan secara bersamaan.


“Jelas-jelas mirip kamu, mas. Siapa coba yang suka nyampur minuman berda rasa digelas yang sama?”


“Nggak salah? Yang doyan makan manis terus selesai telen langsung pindah makanan asin atau pedes siapa?” kata Ashqar tak mau kalah. “Lagian aku nggak nyampur minuman, itu namanya hemat gelas supaya nggak banyak gelas kotor.”


Baru saja Safira akan melanjutkan protes, Ashqar tiba-tiba menginjak pedal gas dan membuat tubuhnya tersentak. Untung saja Safira menggunakan sabuk pengaman, kalau tidak sudah pasti keningnya akan mencium dashboard mobil.


Saat ia mengomel, memarahi Ashqar karena tindakan sembrononya, suaminya itu justru tertawa terpingkal-pingkal. Semakin Safira mengomel maka semakin kencang tawa Ashqar, sampai-sampai Safira memilih diam karena lelah sendiri tidak ditanggapi.


Safira merengut, memalingkan wajah ke jendela samping lalu mulai mendumel. Melihat kelakuan istrinya, Ashqar mengulurkan tangan dan mengacak surai coklat Safira. Namun, dengan cepat tangannya di tepis Safira.


“Kamu. Kamu.” Ashqar memukul pinggul Safira pelan. “Nggak sopan sama suami.”


“Bodo amat,” ucap Safira.


Sepanjang perjalanan mereka, Safira terus mengabaikan Ashqar. Wanita itu sibuk bertukar pesan dengan ibu mertuanya, mengomentari tingkah Zain. Tepat sebelum ia dan Ashqar menjemput Zain jam sepuluh tadi, Harti menghubunginya dan berkata sudah dalam perjalan ke rumah mereka.


Safira sempat protes karena Harti tak menghubunginya lebih cepat agar ia bisa menjemput ibu mertuanya itu di rumah Rahma, untungnya pula ia belum meninggalkan rumah dalam keadaan kosong atau ia dan Ashqar akan membuat ibu mertuanya menunggu diluar. Namun, jawaban Harti membuat Safira kehilangan kata-kata.

__ADS_1


“Ibu ini masih sehat, masih bisa kemana-mena sendiri. Jadi ngapain harus antar jemput kayak nenek-nenek jompo. Lagi pula ibu niat bertamu ke rumahmu, kalau kamu nggak di rumah berarti yang salah ibu karena dateng diwaktu yang nggak pas.”


Begitu katanya. Sudah pasti Safira tak mampu menyanggah, tapi merasa tak enak secara bersamaan. Jadi ia memilih mengalah, menunggu kedatangan Harti sementara Ashqar menjemput Zain dari sekolah.


Maka tak heran saat ia dan Ashqar pergi menjemput Alvin, Zain bisa mendapatkan kemenangan ganda. Bersama neneknya, anak itu akan dimanjakan sementara Safira hanya akan memberikan salah satunya. Nenek memang selalu menjadi pahlawan untuk cucu-cucunya.


“Masih marah, Yang?” tanya Ashqar, tapi tak ditanggapi Safira. “Kita udah sampai, Sayang.”


Namun, lagi-lagi Safira masih membisu. Merasa kesal, akhirnya Ashqar membuka sabuk pengaman dan mencondongkan tubuh kearah Safira. Betapa terkejutnya ia mendapati Safira ternyata tertidur.


“Pantesan diem aja padahal mobil udah berhenti. Nggak tahunya tidur,” batin Ashqar, menggelengkan kepala. Ashqar melihat jam di pergelangan tangannya lalu melihat ke gerbang sekolah Alvin yang masih tertutup. Sepertinya jam pelajaran belum berakhir.


.


.


.


✄................................................

__ADS_1


__ADS_2