Gaung Rasa

Gaung Rasa
Waspada


__ADS_3

Ashqar dan Rafa berjalan dengan terburu-buru, setengah berlari, menuju sebuh ruangan. Mendung hitam menghiasi wajah mereka, tapi Ashqar terlihat jauh lebih baik jika dibandingkan dengan Rafa. Pria itu seakan-akan siap menyambarkan petir pada siapa saja yang berpapasan dengannya.


“Apa mereka sengaja memajukan acara tanpa memberitahu kita?” ucap Ashqar ketika mereka berbelok di ujung koridor.


“Itu udah jelas,” jawab Rafa dari sela-sela giginya yang tertutup.


Dia menahan amarah yang siap meletus, tapi ditahannya semata-mata demi martabat dan nama baiknya. Namun, bukan berarti Rafa akan diam saja dan menerima tindakan semena-mena ini tanpa sedikitpun perlawanan.


Rafa menarik napas dalam hingga dadanya membusung dan membuangnya perlahan bersamaan dengan langkah kaki yang kian lambat. Kemudian setelah otaknya terisi oksigen dan mampu berpikir jernih, Rafa spontan menghentikan langkah dan berbalik.


“Dengar, Ashqar,” katanya, penuh peringatan. “Situasi kita sekarang nggak menguntungkan, tapi kita nggak bisa diam aja dan membuat mereka merasa menang. Kamu langsung ke aula, minta maaf karena dateng terlambat dan jawab pertanyaan dengan baik.”


Ashqar berkedip, kepanikan tercermin tipis di indra pengelihatannya. “Tapi apa nggak masalah kalau aku tiba-tiba dateng sementara acara udah dimulai?”


“Masalah atau nggak itu nggak penting, yang jelas kamu harus ada disana. Karena kita yang minta mereka buat bikin acara ini jadi mau nggak mau kamu harus maju atau kalau nggak, dilain kesempatan mereka bisa menjatuhkan pihak kita.” Rafa melirik kebelakang saat riuh terdengar dari ruang aula yang tak jauh dari mereka. “Aku serahin hal ini sama kamu.”


Setelah mengatakan hal itu, Rafa melangkah begitu saja melewati Ashqar tanpa sedikitpun melirik kebelakang. Sepanjang langkahnya, Rafa tak berhenti mengepalkan tangan, otak cerdasnya dengan cepat menyusun rencana.


Saat Rafa berbelok menuju arah mereka datang, Ashqar masih terdiam ditempat. Kepalanya berjejalan banyak kata-kata dan kalimat, tersusun secara acak hingga perlahan menjadi kesatuan yang utuh. Dia pun berusaha menyusun langkah, tak layak baginya atau keluarganya berada dalam masalah yang kian rumit setelah semua hal yang terjadi.


Namun, saat pria itu hendak mengayunkan kaki, ia justru hanya mengangkat kaki setinggi betis. Sinkronasinya gagal dan membuat Ashqar terpaku, mrngurungkan niat. Hingga tiba-tiba saja perkataan Safira dan kedua anaknya pagi tadi saat mereka melakukan panggilan telefon kembali terngiang ditelinga.

__ADS_1


“Semangat ya, Pah. Semoga lancar. Aku sama anak-anak berdoa semoga semua cepet selesai dan papah cepet pulang.”


“Papah cepet pulang. Zain kangen,” rengek si tengah, bibirnya maju beberapa sentimeter.


Sementara Alvin yang duduk di samping Safira hanya diam, memperhatikan layar ponsel yang penuh dengan wajah mereka bertiga. Dan saat Safira melirik kearahnya, Alvin tahu bahwa ibunya ingin ia mengatakan sesuatu.


“Papah sehat sehat. Kalau pulang nanti ajak kita semua liburan, jangan lupa oleh-olehnya.”


Lalu celotehan demi celotehan membanjiri Ashqar. Hanya beberapa hari tak bersua, tapi rasa rindu menghujamnya dengan begitu kuat. Dia rindu berkumpul bersama keluarga kecilnya, rindu pertengkaran kecil Alvin dan Zain, aroma masakan Safira dan harum tubuh Harsha sehabis mandi.


Mengingat hal itu hati Ashqar mendapatkan kembali keteguhannya, dengan mantap ia melangkah maju dan memasuki aula pertemuan. Saat ia membuka pintu tak ada yang menyadari kedatangannya kecuali Nita yang menatapnya dengan wajah tegang sekaligus lega, entah karena apa, juga Robi yang duduk diapit Siska dan Heru.


Kemudian Ashqar berjalan melewati bagian samping hingga ke muka aula, tempat dimana meja panjang ditempatkan dan orang-orang dari managemen Nita duduk dibelakangnya. Ashqar bisa melihat bagaimana senyum picik manager Nita saat melihat dirinya mendekat, yang sialnya hanya sebuah senyum tipis hingga ia tak yakin jika kamera akan mendapatkan hal itu.


Tanpa basa-basi Ashqar mengambil tempat disamping Robi, kursi yang sebelumnya Heru tempati, kemudian ia mengambil mic dan mulai bicara.


“Assalamu’alaikum,” buka Ashqar, menarik seluruh atensi pers dihadapannya. “Sebelumnya saya minta maaf karena keterlambatan saya. Sayang sekali karena sepertinya ada miskomunikasi antara pihak saya dan Royal Entertaiment yang membuat saya datang terlambat.”


Setelah pembukaan penuh sarkas, Ashqar membiarkan juru bicara konferensi kembali mengambil alih. Dia sedikit mendapat penjelasan tentang wawancara yang sudah terjadi dan Ashqar langsung mendapatkan gambaran singkatnya, bahwa pihak Royal Entertaimen ingin membuat mereka tampak sebagai korban sehingga dia tidak akan berkutik menghadapi pertanyaan tajam.


“Pak Rafa kemana, Pak?” bisik Robi. “Saya dikabari kalau beliau ada urusan penting.”

__ADS_1


“Saya juga nggak tahu,” jawab Ashqar singkat. “Bapak sudah dari tadi?”


“Baru lima menitan, Pak. Ini diluar rencana kita.”


Ashqar mengangguk. Kemudian ia menjadi waspada saat seorang wartawan dibagian tengah mengangkat tangan lalu setelahnya memegang mic.


“Sebelumnya Kak Nita mengakui bahwa dia pernah menikah dengan anda dan memiliki satu orang anak laki-laki. Apa itu benar?”


“Ya.”


“Lalu kalian bercerai dan hak asuh ada ditangan anda?” tanya laki-laki muda itu lagi dan Ashqar kembali memberikan jawaban singkat yang sama. “Tapi dari berita yang beredar mengatakan bahwa Kak Nita-lah yang sebenarnya mendapatkan hak asuh itu, tapi dia melakukan penelantaran. Apa itu benar?”


.


.


.


✄................................................


Update pagi biar bikin kaget 😅🤭

__ADS_1


Berhasil atau nggak, gaes? kkk~


__ADS_2