
Wah! Ide yang sangat praktis sekali. Jarak rumahnya dengan rumah Rafa sangat jauh, 45 menit jika lalu lintas lancar. Lalu bagaimana jika pagi hari? Sudah pasti bisa sampai satu jam lebih dan Rafa berpikir mengirim orang untuk mengantar-jemput Alvin dan Zain adalah sebuah solusi.
“Punya pikiran, mas?” tanya Ashqar sinis.
“Punya, lah.”
“Dipake. Pantesan aja Safira marah.” Ashqar mengambil ponsel, membuka aplikasi Whatsapp dan langsung menuju kontak Safira. “Yang, buka blokiran Rafa. Ini orangnya nyusahin.”
Pesan suara terkirim dan Ashqar menunjukannya kehadapan Rafa.
“Udah, nih.”
Rafa tersenyum, kelewat sumringah. “Gitu, dong. Ini baru namanya ipar yang baik dan berbakti.”
Ashqar berdecak. “Safira itu bukan anak kecil lagi, kalau mau kasih perhatian jangan terlalu berlebihan. Kamu sendiri tahu gimana tabiatnya. Giliran kena omel terus kontaknya diblokir jadi bingung, kan?”
“Iya, iya. Nggak usah bawel,” timpal Rafa dengan mulut yang penuh dengan nasi. Kemudian setelah menelan makanan di mulutnya, Rafa menyangkal ucapan Ashqar. “Bagi aku, Safira tetep bocah yang harus diawasin. Kamu harusnya juga lebih tahu kalau Fira itu kelakuannya suka nggak ketebak dan spontan, mirip anak kecil. Anak kecil yang bisa bikin anak lebih tepatnya.”
Ashqar hanya bisa mendesah pasrah. Iparnya ini mana mau kalah, kalau pun sudah diujung tanduk, dia pasti bisa menemukan cara untuk membalik keadaan atau memaksa agar demikian. Jadi percuma saja Ashqar menghabiskan tenaga untuk menasehati atau melawan argumen Rafa, ujung-ujungnya ia juga yang harus menelan kekalahan.
“Ngomong-ngomong ....”
“Telen dulu,” omel Ashqar saat melihat Rafa berbicara dengan mulut penuh.
__ADS_1
Rafa mendesis setelah berhasil menelan makanan di mulutnya. “Safira gimana?”
“Baik.”
Rafa mendelik. “Baik apanya? Orang kemaren dia hampir ketabrak orang.”
Ashqar sontak menatap Rafa penuh curiga, sendok yang ia pegang sampai tertahan di udara. “Darimana kamu tahu?” tanyanya penuh selidik.
Setelah hampir mengalami kecelakaan, Safira memang sempat mengatakan jika ia hampir ditabrak oleh ibu Aldi. Itu kenapa kekesalan istrinya terhadap ibu dari teman anaknya itu kian berapi-api. Dan yang mengetahui kejadian itu―selain orang-orang di lokasi kejadian, hanya ia, Alvin dan Safira pastinya. Namun, bagaimana Rafa bisa mengetahui hal ini?
“Dari Fira sendiri. Dia cerita sama Ranee.”
“Lancar banget ini orang kalau bohong,” batin Ashqar. Dia menaruh sendok ke atas piring, sedikit keras hingga membuat bunyi yang cukup nyaring. “Kamu nempatin orang buat mata-matain kami lagi?”
“Nuduh terus. Nggak ada yang mata-matain. Orang Fira yang cerita sendiri sama Ranee kemarin.”
Tentu saja Ashqar berbohong. Kalau istrinya benar-benar tidak memegang ponsel sama sekali, ia tidak mungkin jadi sasaran kekesalan Safira atas komentar-komentar tak bertanggungjawab dari netizen. Namun, Ashqar yakin jika Safira tidak akan memberitahukan peristiwa kemarin pada siapapun karena istrinya itu tidak ingin menambah beban pikiran anggota keluarga lain, baik keluarganya atau keluarga mertuanya, dengan masalah yang masih saling berkaitan.
Dan hal itu sudah menjadi keputusan bersama kemarin sebelum mereka masuk ke dalam rumah setelah menjemput Alvin. Jadi tentu saja alasan Rafa sama sekali tidak bisa ia terima. Itu hanya akal-akalan iparnya saja.
Ashqar menatap Rafa lamat dengan pandangan tajam. “Ngaku aja. Percuma kamu ngeles lagi,” katanya dingin.
Alih-alih mengakui kebohongannya, Rafa justru menggeleng dengan senyum tiga jari yang menghiasi wajah. “Ngapain aku ngaku? Wong aku nggak bohong.”
__ADS_1
Ashqar berdecak keras. Dia menarik punggung untuk bersandar di kepala kursi dengan kedua lengan yang terlipat rapih di dada.
Ashqar sangat menghargai perhatian dan usaha Rafa dalam membantu permasalahan keluarga kecilnya. Namun, sering kali beberapa tindakan Rafa dirasa sangat mengganggu untuknya. Seakan-akan ia dan keluarga tak memiliki privasi dengan terus dalam pengawasan Rafa.
Jikalau ada hal mendesak yang harus ia atau Safira kabarkan, mereka pasti akan mengabari saudara terdekat untuk diberitahu atau dimintai bantuan. Sekalipun ada hal-hal yang terjadi didalam keluarganya dan ia atau Safira memilih untuk menyimpan itu sebagai rahasia maka tidak seharusnya orang lain mencampurinya.
Ashqar tidak bisa menerima dengan cara Rafa melindungi Safira yang seperti ini.
“Rafa, serius. Kamu ini nggak menghargai aku sebagai suami adikmu atau bagaimana?” tanya Ashqar tajam.
.
.
.
✄................................................
Nara Corner :
Begini nih kl mode rajin, upload chapter dari kemaren malem jam 22.00 ... sampe jam 12 siang nggak lolos review 😤 padahal disetel up jam 10 pagi, NT kau lucu lah 🙄
maapkan curcol, gaes..
__ADS_1
ini hasil reupload
btw, selamat berakhir pekan 👋🏻