Gaung Rasa

Gaung Rasa
Dua Jagoan Safira


__ADS_3

“Mati aku. Udah dulu ya, Bo.” Rafa berdengung, baru akan mengatakan sesuatu saat Ranee kembali berkata, “Assalamu’alaikum.” Kemudian mematikan sambungan telefon.


Sementara Rafa menggerutu karena sambungannya terputus begitu saja, Ranee justru tengah panik. Dia khawatir kalau Safira mendengar ucapannya barusan dan bisa membuat masalah lain.


Namun, jauh dari dugaan, Safira memasuki kamarnya dengan ekspresi bingung dan tidak ada tanda-tanda akan meledak.


“Mbak Ve, ngapain duduk dibawah?” tanyanya.


Ranee berkedip. Kemudian ia melihat sekeliling dan otaknya segera memproses dengan cepat. Dia duduk di atas karpet, menumpukan tubuh sebelah kanannya di sisi ranjang sedangkan Harsha yang seharusnya berada dibawah pengawasannya ada dikasur masih berceloteh dengan bahasa bayi yang lucu.


“A-ah. Itu ... tadi aku capek karena gendong Harsha terus, jadi istirahat sebentar. Selonjoran.”


Safira memperhatikan Ranee yang berdiri dengan canggung, kerutan dikeningnya menjadi semakin dalam melihat gelagat aneh kakak iparnya. Safira sudah mengenal Ranee cukup baik, berteman selama bertahun-tahun membuatnya hafal kebiasaan dan tingkah laku wanita itu. Jadi saat Ranee bersikap mencurigakan, Safira yakin bahwa ada sesuatu yang iparnya itu coba tutup-tutupi.


“Mbak Ve lagi bohong, ya? Ada apa, sih?” tanya Safira ingin tahu dan hal itu sukses membuat Ranee ketar-ketir.


Diam-diam wanita itu mencoba mengendalikan diri, tapi sayangnya tak langsung berhasil. “Bohong apaan?”


Safira melangkah mendekat, tubuhnya ia condongkan kedepan hingga wajahnya begitu dekat dengan wajah Ranee. Safira memincing dan Ranee menghindarinya. “Tuh, ‘kan! Buktinya Mbak Vera nggak berani natap balik aku.”


Ranee berdecak dan mundur satu langkah, pura-pura kesal. “Kamu ngapain, sih? Nggak jelas banget.” Ranee lalu duduk di pinggir ranjang dan mengambil Harsha untuk ia pangku. “Kamu kesini mau bawa Harsha balik?”


“Iya,” jawab Safira cepat. Pertanyaan Ranee membuatnya tersadar tentang alasan ia berada di kamar Ranee. Safira mengulurkan tangan lalu mengambil Harsha dan menggendongnya. “Papahnya nyariin.”


Ranee merengut. Dia menatap tak rela pada Harsha yang berada dalam dekapan Safira. “Padahal baru sebentar banget, loh. Ashqar ganggu aja, nih.”


Safira mengulum senyum. “Ya, gimana Mbak. Orang anak kesayangan papahnya. Mbak Ve nanti minta aja sama Kak Rafa,” ucap Safira sambil berbalik pergi, meninggalkan Ranee yang semerah tomat.


Meski geli masih menggelitik sudut bibirnya, tapi pikiran Safira terganggu dengan gelagat aneh Ranee. Dia meyakini sesuatu telah terjadi dan ia jadi bertanya-tanya, apakah Ashqar dan Rafa mengalami kesulitan di Jakarta? Dan mereka bertiga menyembunyikan hal itu darinya ... lagi?


“Maa!”


Safira berjengit lalu menundukan wajah, seketika manik matanya bertabrakan dengan manik bulat milik adik bungsu kesayangan Alvin dan Zain. “Dalem, cah ayu?”¹ ucap Safira, mengangkat tubuh Harsha setinggi wajah.


“Maa! Maa!” seru Harsha, kedua tangannya terulur menepuk-nepuk pipi Safira.

__ADS_1


Dengan suara manis dan tingkah menggemaskan, tak mungkin Safira untuk berpaling dari Harsha begitu saja. Sambil terus berjalan menuju ruang keluarga di lantai dua, Safira terus menggoda bayi mungilnya dan sejenak melupakan rasa ingin tahu terhadap Ranee.


Dan belum juga Safira sampai di ruang keluarga, Zain sudah memanggilnya dengan keras. Anak laki-lakinya itu berlari kearahnya sambil memegang ponsel ditangan.


“Mamah lama, sih? Papah nunggu dari tadi,” katanya, menyodorkan layar ponsel yang menampakan wajah Ashqar.


Safira menempatkan Harsha menatap layar ponsel hingga suaminya bisa melihat wajah cantik Harsha yang langsung sumringah melihat wajah ayahnya. “Assalamu’alaikum, papah,” ucap Safira. Dia mengangkat tangan Harsha dan melambaikannya.


Begitu tawa Harsha mengalun, Ashqar tak menahan diri dari menggoda putri kesayangannya itu. Pria tiga anak itu menutup wajah dengan kedua telapak tangan lalu membukanya, menunjukan wajah yang dibuat lucu hingga Harsha terpingkal.


Akan tetapi, keseruan Ashqar harus terhenti saat Zain membalikan ponsel kearahnya. “Papah bercandanya nanti aja. Kasihan mamah harus bungkuk sambil gendong adek,” omel Zain yang dihadiahi pujian Ashqar.


“Perhatiannya anak papah ini, sekarang udah bisa jagain mamah.”


Zain tersenyum lebar. Sambil memegang ponsel ditangan kiri dan tangan kanannya menggandeng tangan Safira, bocah itu berjalan ke sofa dimana Alvin sedang asyik menonton siaran kartun di televisi.


“Zain gitu, ‘loh.” Senyum bangga belum lepas dari wajah manis anak laki-laki itu sampai ia duduk ditengah-tengah antara Alvin dan Safira. Kemudian Zain menyerahkan ponsel kepada Safira dan ikut bergabung dalam panggilan video.


“Papah pikir Harsha belum udah tidur,” ucap Ashqar.


“Kenapa, Mah?”


“Nggak apa-apa, Pah. Urusan papah sudah selesai?”


Ashqar terdiam sebentar lalu wajah tampannya dihiasi senyum tipis, persisi seperti milik Zain. “Udah, Mah.” Ashqar mejadi heran saat Safira hanya menjawabnya dengan gumaman dan anggukan kepala. Namun, alih-alih bertanya secara langsung, Ashqar justru membuat Zain menjadi perantara mereka. “Zain, apa mamah anter-jemput Zain sama Mas Alvin?”


Zain menggeleng. “Nggak, Pah. Yang jemput Zain sama Mas Alvin tadi Uti Sari,”


“Nggak? Terus kenapa mamah kelihatan capek, ya?”


Pertanyaan Ashqar sontak menarik Zain dan Alvin untuk menoleh kearah Safira. Zain menjadi yang pertama mendekatan wajah ke wajah Safira dan memperhatikan paras ibunya dengan seksama, setelahnya disusul Alvin yang perlahan mendekat. Kedua anak laki-laki itu seakan ingin mencari kebenaran dari perkataan ayah mereka.


“Mamah capek?” tanya Alvin, mengusap kening Safira.


“Mas Alvin. Mas Alvin aja yang gendong Harsha.” Zain dengan cepat turun dari sofa dan mencoba menggendong Harsha, tapi Safira dengan sigap menghalangi.

__ADS_1


“Mamah nggak capek Mas Zain, Mas Alvin,” katanya, menenangkan kedua putra posesifnya. Kemudian Safira menatap tajam Ashqar yang ternyata sudah cekikikan. “Papah! Sengaja, ya?”


Ashqar kesulitan menahan tawanya yang hampir meledak. Pria itu bahkan sampai harus sedikit mengigit lidah agar rasa geli yang menggelitik perutnya segera reda. “Habisnya mamah ditanyain jawabannya nggak memuaskan.”


Safira langsung cemberut. “Papah nyebelin.”


“Papah nakal, ya?” seru Zain, merebut ponsel dari tangan Safira. “Papah itu nggak boleh nakal sama mamah.”


“Papah nggak nakal, ya. Sekarang HP-nya tolong kasihin mamah lagi ya, Mas Zain.


Dengan enggan, Zain memberikan ponsel kembali ke tangan Safira. Kemudian duduk disamping ibunya, mengapit Safira diantara dirinya dan Alvin.


“Mah,” panggil Ashqar dengan suara lembut saat kamera ponsel kembali mengambil visual Safira. “Ada apa? Kalau kamu mau bicara secara pribadi minta anak-anak buat ke kamar.”


Safira menggeleng. “Gelagat Mbak Vera kelihatan aneh, aku jadi penasaran apa terjadi sesuatu. Urusanmu berjalan lancar, ‘kan?”


“Alhamdulillah. Semuanya lancar, Mah.” Senyum Ashqar terlukis lebar. “Besok malem aku dan Rafa udah sampai di Solo.”


“Yey! Papah besok pulang!” seru Zain heboh hingga membuat Harsha terkejut. Sementara Alvin dengan tenang mengingatkan Ashqar untuk membawa oleh-oleh yang banyak.


.


.


.


✄................................................


Pojok Diksi :


¹“Dalem, cah ayu? ” \= “Dalem, anak cantik?”


Dalem biasanya kata yang dipake saat dipanggil oleh orang yang lebih tua. Menurut KBBI artinya adalah saya, tapi prakteknya sering digunakan sebagai kata sahutan. Kalau dikeluarga aku, dari kecil diajarin pakai kata dalem atau nun, saat dipanggil orang tua.


Mungkin akan berbeda disetiap daerah. Jadi silahkan share juga adab didaerah kalian atau kebiasaan yang diajarkan. Itung-itung jadi referensi aku juga. 😁

__ADS_1


__ADS_2