Gaung Rasa

Gaung Rasa
Serangan Awal


__ADS_3

Meski sempat ragu dan perlu waktu lebih dari satu jam untuk berpikir, tapi pada akhirnya Ashqar berlapang dada dan setuju dengan saran yang Safira berikan. Mereka menitipkan Alvin dan Zain pada Rahma dengan alasan menghadiri acara resepsi pernikahan. Sementara Harsha tentu saja tidak bisa ditinggal.


Lalu kini mereka berada di Retro Resto, berjalan lambat di koridor menuju sebuah ruangan VIP bergaya klasik tahun 80-an. Dindingnya terpajang lukisan-lukisan kayu bergambar vespa, plat kendaraan dan beberapa poster-poster bergaya lawas. Cat dindingnya pun berwarna coklat terang dengan tekstur kayu, ditambah penerangan kekuningan dari lampu bohlam menambah kesan kuat pada desain restoran.


Suasana hangat yang seharusnya bisa membuat hati lebih tenang ternyata tidak begitu adanya bagi Ashqar. Dia sudah merasa tegang sejak melangkah masuk ke dalam restoran dan hal itu tak luput dari pengamatan Safira yang berjalan di sampingnya.


“Mas nggak apa-apa?” tanya Safira, memecah keheningan.


“Nggak.”


“Apa mau berubah pikiran dan pulang?”


Ashqar tiba-tiba menghentikan langkah, menoleh dan menatap Safira jengkel. “Kita udah sampai sini, loh. Masa tiba-tiba berubah pikiran.”


“Habisnya ... mas kelihatan ragu-ragu gitu.”


“Nggak, kok.”


Ekspresi wajah Ashqar melembut. Dia mengulurkan tangan dan mengambil Harsha yang berada didalam gendongan Safira, lalu mendekap tubuh mungil si bungsu dengan tangan kanan. Sementara tangan kirinya meraih tangan Safira, menggenggamnya dan kembali berjalan hanya saja lebih lambat.


Netra Safira membola, tapi ia tetap berjalan berdampingan dengan suaminya. Sambil mengawasi langkah, Safira sesekali memandang wajah Ashqar. Meski masih terlihat gurat ragu yang sama, tapi ada kemantapan juga yang entah datang darimana.


Safira tanpa sadar mengembangkan senyum dan menatap lurus ke depan. Optimisme yang sempat meredup kembali menyala. Safira sudah berniat untuk menyelesaikan masalah, mengeratkan tali silaturahmi yang sempat merenggang antara mereka dan Nita sejak ia ke luar dari rumah. Dengan membawa niat baik, Safira percaya bahwa hal yang baik juga akan terjadi.


Pintu besar terbuat dari kayu berlapis pernis setinggi dua meter berdiri gagah di depan Ashqar dan Safira, perlahan dibuka oleh pelayan yang menuntun mereka ke ruangan.

__ADS_1


“Silahkan, pak, bu.”


“Makasih,” ucap Ashqar, menyelipkan selembar uang seratus ribu ke saku baju si pelayan lalu melenggang masuk bersama Safira.


Rafa dan Nita yang duduk bersebelahan di sisi kanan menjadi pemandangan pertama yang Safira lihat. Kakak laki-lakinya itu terlihat santai seperti biasanya dan tentu saja ada kesan tengil yang tak bisa lepas. Sedangkan Nita, wanita itu langsung tertunduk begitu mereka tak sengaja saling bertemu pandang.


“Hai, adikku yang cantik!” teriak Rafa, menghampiri Safira dengan tangan yang terbentang.


Buru-buru Safira berdesis, menempatkan jari telunjuk di depan bibir. “Berisik,” desisnya, mendorong dada Rafa saat kakaknya itu berada di depannya.


Rafa berdecak. “Pelit.” Kemudian Rafa mengalihkan pandangan ke samping Safira. Bukan pada Ashqar, tapi Harsha. “Ikut pakde ya, Dek Harsha.”


Rafa secepat kilat mengambil Harsha dari dekapan posesif Ashqar dan membawanya duduk di tempat semula sambil mempersilahkan Ashqar dan Safira untuk duduk di hadapan mereka.


“Mbak,” sapa Safira, duduk di hadapan Nita.


Alih-alih menjawab sapaannya dengan layak, Nita tetap diam.


“Mbak, kenapa?”


Nita menggeleng lalu mengangkat wajah, tapi tak menatap wajah Safira. “Nggak apa-apa,” katanya, tersenyum tipis.


Kedua sudut bibir Safira terangkat semakin tinggi. Dia sangat maklum dengan respon canggung Nita. Bahkan suaminya pun hanya diam dan menghindar untuk memandang ke arah Nita.


“Mbak Nita apa kabar?”

__ADS_1


Pertanyaannya memang pertanyaan klise penuh basa-basi, tapi itu adalah hal yang benar-benar ingin Safira ketahui mengenai Nita. Sejak gosip semakin besar Nita semakin sulit dihubungi hingga akhirnya dia tak bisa dihubungi sama sekali.


“Baik. Kamu gimana?”


Safira terdiam sesaat, memandang wajah Nita yang terlihat lebih tirus lamat-lamat.


“Sulit. Aku mengalami kesulitan.”


Jawaban Safira yang lugas tentu saja menarik atensi seluruh orang di dalam ruangan―kecualikan Harsha, yang hampir bersamaan menatapnya terkejut. Dari sudut matanya, Safira melihat Rafa ternganga saking kagetnya. Safira mungkin sudah menyemburkan tawa melihat ekspresi langka kakaknya jika saja ia tidak langsung mengalihkan pandangan.


Safira berdeham. Lalu kembali memusatkan perhatian pada Nita. “Baik aku, Mas Ashqar atau anak-anak, kita semua mengalami hari-hari yang sulit. Jadi gimana bisa Mbak Nita baik-baik aja?”


Air muka Nita berubah pucat. Wanita itu seakan kehilangan kata-kata dan hanya bisa membuka menutup mulut beberapa kali. Safira yang melihat reaksi Nita tetap mempertahankan senyum. Dia memang sengaja mengajukan pertanyaan itu.


.


.


.


✄................................................


Bersambung~


ps. sampai jumpa nanti malam, gaes...

__ADS_1


__ADS_2