Gaung Rasa

Gaung Rasa
Manuver


__ADS_3

Kadang-kadang Rafa lupa bahwa hidupnya bukan lagi hanya miliknya sendiri, ada seseorang yang menunggu dikabari dan menjadi tempatnya untuk berbagi. Sudah menjadi kebiasaan menahun bahwa ia tak pernah berbagi kabar pada siapapun, tidak dengan Edi atau lebih-lebih dengan Safira. Namun, kini ponselnya menjadi benda paling candu, bukan sekedar untuk memeriksa naik-turunnya grafik atau kabar perjanjian bisnis yang menunggu.


Sayangnya, sering kali pria itu menjadi tak sabaran, mengetik pesan pada aplikasi berbalas pesan daring tidak cukup untuk hatinya. Jadi dia memutuskan menyudahi mengetik kata-kata dan langsung melakukan panggilan telfon. Berharap bahwa nomor yang ia tuju tidak berada disambungan lain atau si pemilik nomor sedang terlalu sibuk hanyak untuk sekedar bertukar halo dengannya.


Hingga akhirnya gayung bersambut, suara lembut menyapa indra pendengara Rafa dan membuat pria itu menarik kecil kedua sudut bibirnya.


“Assalamu’alaikum, Mas Bo.”


“Wa’alaikummussalam. Lagi apa, Jo?”


“Main sama Harsha.”


Rafa melirik jam dipergelangan tangannya lalu mengerutkan kening. “Safira dimana?”


Ranee diseberang sambungan tidak langsung menjawab, suara tawa mengalun lembut disusul dengan celotehan Harsha yang lucu. “Safira lagi nemenin Alvin sama Zain belajar. Gimana acara konferensi persnya, Bo? Aku belum lihat TV jadi nggak tahu udah ditayangin apa belum.”


Rafa menghela napas sambil memalingkan wajah pada jendela mobil, menatap gemerlapnya ibu kota yang berbanding terbalik dengan suasana hatinya. Suram.


Kemudian pria itu menceritakan secara singkat apa yang mereka alami hari ini, bagaimana managemen Nita mencoba menjebak mereka dalam situasi yang sulit. “Untungnya Ashqar berhasil ngadepin media dengan baik, kalau manusia satu itu gugup dan salah ngomong, kelar udah.”


Ranee tergelak. “Jangan bilang kalian bertengkar disaat-saat genting?”


“Nuduh terus.” Rafa tersenyum mengejek. “Gimana pekerjaanmu? Semuanya lancar?”


“Basa-basimu itu loh, Bo. Ra patut blas!”¹ ejek Ranee disusul gelak tawa nyaring. “Sore tadi kita habis chating-an, loh. Kamu mau minta tolong apa, Sayang?”


Rafa yang mendengar ejekan istrinya hanya bisa tertawa pasrah. Dia memang paling canggung untuk berbasa-basi dengan orang lain, terutama istrinya. Entah mengapa Rafa merasa serba salah dalam bertindak, mengatakan terus terang rasanya kurang pas, tapi dia juga tak pandai berbasa-basi.


“Istriku emang yang terbaik,” katanya, dan menerima decakan dari Ranee. “Laporan kasus Safira gimana?”

__ADS_1


“Kamu lupa? Yang ngurus laporannya ‘kan, bapak sendiri.”


“Masa, sih? Bukannya kamu?”


Decakan lain kaluar dari bibir Ranee. “Terakhir bapak ngabarin kalau mau ngurus kasus itu sendiri, terus aku bilang sama kamu. Kamu kayaknya butuh istirahat deh, Bo.”


“A-ah! Iya, iya. Maaf, aku lupa.” Rafa terdengar menyesal. Sepertinya Rafa mulai kehilangan fokus setelah banyaknya hal yang harus dilakukan beberapa hari terakhir, mulai dari urusan bisnis hingga masalah pribadi yang harus segera ia selesaikan. “Ya udah, kalau gitu kamu lanjut main sama Harsha. Nanti kalau aku pulang gantian main sama aku,” ucap Rafa, memelankan nada bicara dikalimat terakhir.


Diujung sambungan Ranee terdengar kelabakan lalu setelahnya wanita berteriak tertahan memanggil nama lengkap Rafa. “Jangan kebiasaan. Disini ada Harsha.”


“Emangnya kenapa? Harhsa nggak akan dengar, kalaupun dengar dia nggak akan ngerti. Kalau kamu nggak percaya sekarang coba aja kasih HP kamu dideket dia, biar aku ulangi―”


“Bo, ini kamu dimana? Kamu nggak di rumah?”Diujung sambungan Rafa mendengar Ranee sesekali membuat suara-suara lucu. “Aku denger suara klakson.”


Manuver yang cantik. Rafa bisa membayangkan ekspresi dibalik suara tenang terencana Ranee pasti ada wajah merah padam. Wanitanya mungkin sangat garang dalam balutan seragam, lengkap dengan senjata api yang seringkali disembunyikan dibalik baju yang dikenakan. Namun, hanya Rafa yang tahu bagaimana manisnya Ranee ketika seragam itu ditanggalkan dan wanita tangguh itu berubah menjadi rubah kecil tak berdaya.


Sial. Pikirannya berjalan terlalu jauh. Istrinya ini memang paling jago mengubah topik pembicaraan. “Aku lagi di mobil. Mau ketemu seseorang,” kata Rafa setelah berhasil mengendalikan diri.


Tanpa sadar Rafa mendesis mendengar nada bicara Ranee, terasa seperti sedang diintrogasi. “Cemburuan banget, sih. Aku mau ketemu sama salah satu wartawan yang kemarin nyerang Safira.”


“Kamu ... mau apa, Bo?” tanya Ranee, terdengar penuh antisipasi.


“Nggak mau apa-apa. Cuma mau ketemu aja, mau tahu tujuan dia sebenernya apa.”


“Tapi itu tugas polisi, kamu nggak perlu repot-repot kayak gini. Lagian laporannya udah masuk dan sedang proses, aku yakin besok atau lusa kita udah dapet perkembangan terbarunya.”


“Kamu ini kenapa, sih?” Rafa tanpa sadar menaikan nada bicaranya. “Aku cuma mau ketemu orangnya secara pribadi, bukan mau ngebunuh dia. Tolong berhenti curiga kayak gitu.”


Nada dingin yang Rafa ucapkan seketika membuat Ranee terdiam. Keduanya terlibat dalam kebisuan untuk beberapa saat hingga akhirnya Rafa menyadari kekeliruannya. Namun, belum sempat ia menyampaikan penyesalan, Ranee sudah lebih dulu berbicara.

__ADS_1


“Aku bukannya curiga, tapi aku khawatir. Aku tahu bagaimana kamu menghadapi orang-orang seperti itu dan aku nggak mau kamu melakukan kesalahan, Fa.”


Rafa mengetatkan katupan rahang seraya menarik napas dalam. Ranee dengan tenang berbicara dan memanggil namanya. Nama pendek, hanya dua huruf dan itu sangat membuatnya tak senang. Sialnya, Rafa tak bisa berbuat banyak atau mereka akan terjebak dalam pertengkaran, sedangkan mereka sedang terpisah jarak dan akhirnya ia sendiri yang akan merasa frustasi karena dibaikan Ranee. Istrinya itu mempunya kebiasaan yang sama dengan Safira dalam membalas dendam.


“Aku tahu, Sayang. Aku minta maaf karena udah bicara berlebihan sama kamu.”


“Bagus kalau kamu tahu,” ucap Ranee tanpa menyembunyikan kekesalan. “Terus soal pihak Royal Entertaiment. Apa kamu udah ngehubungin Pak Handoko lagi?”


“Baru aja, Jo. Fikri, mampir ke McD, ambil layanan drive thru dan pesen kayak biasanya,” ucap Rafa pada dua orang sekaligus. “Aku minta Pak Handoko buat mecat Siska dan Bram.”


“Cuma itu? Kamu nggak ngelakuin yang lainnya, ‘kan?” tanya Ranee ragu.


Rafa terbahak lalu setelah tawanya reda, pria itu berkata, “Cuma itu, Jo. Aku bisa menjanjikan kebaikan buat mereka nggak lain karena mereka selama ini menjadi orang kepercayaan Pak Handoko, tapi sekarang perusahaan itu milikku dan aku nggak menginginkan mereka lagi.”


“Terus orang yang mau kamu temuin ini, gimana? Mau kamu apain kalau udah tahu alesannya?”


“Kita lihat aja nanti kalau itu,” ucap Rafa ringan. “Tapi yang pasti, aku nggak bisa menjanjikan kebaikan yang sama buat orang-orang yang berani menyakiti Safira. Minimal mendekam dipenjara buat waktu yang lama dan nggak bisa keluar meski pakai jaminan, itu udah paling baik."


Diujung sambungan Ranee menghembuskan napas kasar beberapa kali. “Aku mau ngomel, tapi males soalnya buang-buang energi. Apapun keputusanmu, Bo. Kamu harus hati-hati dan penuh pertimbangan, Safira juga harus tahu tentang hal ini kecuali soal Royal Management pastinya. Biar bagaimanapun dia itu kor—”


“Mbak Vera!”


.


.


.


✄................................................

__ADS_1


Pojok Diksi :


¹“Ra patut blas!”: “Nggak cocok banget!”


__ADS_2