Gaung Rasa

Gaung Rasa
Conversation


__ADS_3

Ashqar menarik napas dalam. Dia menyusun kata demi kata di dalam kepalanya, memastikan serentetan kalimat yang akan keluar dari bibirnya tak akan membebani Safira. Sejujurnya ia pun memiliki banyak hal yang ingin ditanyakan dan dipastikan sendiri oleh istrinya langsung.


“Pak Hendra, Sayang. Ada apa?”


Entah disengaja atau tidak, tapi Safira mengeratkan genggaman tangan mereka.


“Sayang, ada apa?” ulang Ashqar.


Safira menggeleng halus dan merangkul lengan Ashqar posesif. “Nggak apa-apa, Mas. Aku ... penasaran aja.”


Kemudian keheningan kembali menyelimuti pasangan Baswara. Ashqar mendadak ragu untuk melontarkan kalimat yang telah is susun sedemikian rupa dari dalam kepalanya. Namun, setelah perdebatan batin yang cukup sengit akhirnya Ashqar memutuskan untuk berbicara.


“Sayang, boleh aku tanya beberapa hal?” ucap Ashqar dengan nada sehalus mungkin. Dia juga mengeratkan dekapannya di pinggang Safira.


Ashqar bisa merasakan bahwa tubuh istrinya sedikit menegang. Akan tetapi, ia tak berniat untuk mundur. Setidaknya ia harus mendengar kesaksian Safira.


“Boleh, Mas.”


Ashqar menghela napas dalam. “Pak Hendra cerita sama aku, katanya ada dua orang laki-laki nggak dikenal yang masuk ke rumah. Salah satunya memegangi tangan—”


“Bukan pegang, tapi dicengkeram. Yang ini,” potong Safira, menunjuk lengannya kemudian kembali memeluk lengan Ashqar.


“Orang itu cengkeramannya kuat? Kamu sakit?” tanyanya, yang dihadiahi jawaban berupa anggukan halus.


Rahang Ashqar seketika mengeras. Mau tak mau otaknya membayangkan bagaimana Safira berusaha melepaskan diri dari orang tak dikenal itu sampai akhirnya Hendra datang.


Ashqar memejamkan mata dan mengatur napas kemudian berkata, “Sayang, aku minta maaf untuk apa yang udah terjadi hari ini. Ini semua karena kelalaianku. Aku pergi terlalu lama dan ninggalin kamu sendirian di rumah.”


“Mas nggak salah. Hari ini bukan pertama kalinya aku benar-benar sendirian di rumah. Cuma kejadian seperti ini ....”

__ADS_1


“Hush!” potong Ashqar halus. “Aku janji bakal cari mereka dan membuat mereka membayar apa yang udah mereka lakukan ke kamu, Sayang. Aku janji.”


Safira tertunduk dalam. “Mas, aku ta-kut.”


Tengkuk Ashqar meremang saat menyadari suara Safira tertahan dan bahunya bergetar. Dengan perlahan ia membebaskan lengannya dari dekapan Safira lalu meraih kedua bahu istrinya itu. Dia dengan hati-hati meraih dagu Safira, memaksanya untuk bertemu pandang.


Dan seperti yang ia duga, wajah Safira sudah basah dengan air mata. Meski kedua kelopak mata istrinya terpejam, tetapi bulir bening terus jatuh dengan deras.


“Jangan takut, Sayang. Aku disini. Aku nggak akan ninggalin kamu sendirian lagi,” ikrarnya, menarik tubuh Safira ke dalam pelukan.


Kemudian tangis yang sengaja ditahan itu akhirnya lolos juga. Isakan Safira terdengar menyayat hati, menusuk Ashqar dengan ketidakberdayaan yang masih menghantuinya.


Tak ada yang bisa Ashqar lakukan selain membiarkan Safira melepaskan kesedihan dan semua perasaan yang mengganjal di hatinya, juga terus memeluk tubuh mungil istrinya. Sampai akhirnya tangis Safira mereda, Ashqar menawarkan air putih.


“Minum dulu terus atur napas, ya.” Ashqar menyodorkan gelas yang ia ambil dari nakas samping tempat tidur.


Namun, alih-alih segara melegakan tenggorokan setelah menangis, Safira justru diam menatap gamang tangan suaminya.


Safira menggeleng. “Mas, dua orang itu wartawan. Mereka cari berita tentang Mas dan Mbak Nita.” Safira mengangkat wajah dan menatap Ashqar dengan tatapan yang melukai hati. “Mereka juga bilang kalau kalian mau ... rujuk.”


Ashqar tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. “Fi, kamu tahu itu nggak mungkin, ‘kan? Nggak pernah sedikitpun aku berpikir buat kembali sama dia.”


Safira membisu dan kembali menundukkan kepala. Hal itu jelas sangat mengusik ketenangan Ashqar. Dia tidak bisa membiarkan istrinya berpikir terlalu jauh tentang masa lalunya.


“Safira, kamu harus percaya sama aku.”


“Aku nggak tahu,” cicit Safira. “Orang-orang itu bekerja sangat dekat dengan Mbak Nita. Mungkin aja mereka tahu berita itu dari orang dekat Mbak Nita atau malah Mbak Nita sendiri.”


“Astaghfirullah, Fi.” Ashqar mengusap wajahnya. “Itu mustahil. Aku di hadapan kamu, bersumpah kalau aku sama Nita nggak mungkin rujuk. Aku nggak ada niat untuk itu.”

__ADS_1


“Tapi Mas diem aja!” seru Safira. Wajahnya yang memerah antara amrah dan tangis yang membaur terangkat, matanya menatap tajam pada Ashqar. “Saat gosip itu ditayangin di televisi selama berhari-hari, saat nama Mas disebut dan bahkan foto Mas juga ada, Mas tetap diam. Apa Mas bicara sama Mbak Nita?”


“Demi Allah, Fi. Kamu cuma nggak tahu apa yang udah aku usahakan.”


“Apa yang Mas usahakan?” tanya Safira berang, suaranya tersendat oleh tangisannya. “Kalau Mas beneran mau rujuk? Gitu? Apa Mas tahu? Aku coba kontak Mbak Nita dan dia bilang semua bakal baik-baik aja karena gosip kayak gitu bakal menghilang sendiri. Tapi apa buktinya?”


“Sayang, tolong tenang dulu. Dengerin—”


Ucapan Ashqar terpotong saat Safira mengangkat tangannya tepat di depan wajah Ashqar. “Cukup, Mas. Sekarang aku nggak mau denger penjelasan apapun. Sikap Mas menghadapi gosip itu buat aku udah cukup menjelaskan. Bahkan saat aku bilang kekhawatiranku tentang gosip itu, Mas kayaknya biasa aja.”


Ashqar memejamkan mata sekilas sambil menghembuskan napas kasar. “Sayang, kamu salah paham.”


Safira menggeleng, menghapus jejak air mata dengan kedua tangannya kemudian membaringkan diri. “Aku mau istirahat sekarang. Mas turun aja.”


Bibir Ashqar terbuka dan tertutup beberapa kali. Dia berniat membantah tuduhan Safira. Namun, pada akhirnya ia memilih mengalah. Safira kemungkinan sedang mengandung dan akan berbahaya bagi kesehatan istrinya jika ia terus menempatkan mereka dalam perdebatan.


Jadi dengan agak terpaksa Ashqar kembali ke ranjang setelah memberikan sebuah kecupan di belakang kepala Safira yang untungnya tak ditolak mentah-mentah. Sementara Safira diam-diam kembali menangis.


Sebenarnya dia tak berniat untuk mengatakan semua itu begitu saja, ia ingin mengatakannya pelan-pelan seperti bagaimana mereka selama ini saling berbicara dan mengungkapkan isi hati satu sama lain. Namun, entah bagaimana Safira merasa sesuatu yang mengganjal di hatinya, yang selama ini ia simpan, tak bisa ditahan lagi.


.


.


.


✄................................................


Bersambung~

__ADS_1


Sampai jumpa di Hari Rabu 🤗


__ADS_2