Gaung Rasa

Gaung Rasa
Ayam Bakar Madu


__ADS_3

Zain membawa kaki kecilnya berlari memasuki rumah, membuat tas bergambar lego di punggungnya bergerak naik-turun seirama dengan botol minum yang ia tenteng di tangan. Dengan suara lantang anak itu memberi salam lalu memanggil ibu kesayangannya.


“Mamah!” serunya, menghambur ke arah Safira yang berada di dapur. Kemudian saat visual Safira sudah didepan mata, Zain langsung memeluk erat kaki Safira. “Assalamu’alaikum, mamahnya Zain yang cantik.”


“Wa’alaikummussalam, anaknya mamah yang ganteng.” Safira menunduk dan mendapati wajah Zain yang berbinar-binar menatapnya. “Mas Zain kok, teriak-teriak sambil masuk rumah. Nggak sopan anak ganteng, jangan diulangi lagi.”


Zain tersenyum simpul dan tertawa polos. “Maaf, mah. Habisnya Zain nggak sabar mau ketemu mamah.”


Safira mengulum senyum. Dia sebenarnya tahu bahwa putranya ini sedang merayu dan satu-satunya alasan adalah karena sejak kemarin malam Zain sudah meminta untuk dimasakan ayam bakar madu dengan tambahan kerupuk udang. Maka tak heran jika putranya ini bertingkah jauh lebih manis daripada biasanya.


Safira mengulurkan tangan, membelai puncak kepala Zain seraya mesejajarkan tubuh dengan Zain hingga pelukan di kakinya terlepas. “Manis banget ucapan anaknya mamah yang satu ini,” kata Safira, mejawil puncak hidung Zain. “Sekarang ganti baju dulu baru setelah itu kita makan siang sama-sama, ya?”


“Mas Alvin?”


“Mas Alvin ‘kan, pulangnya masih nanti.”


Zain menepuk keningnya. “Oh! Iya, ya. Zain lupa. Kalau gitu Zain ganti baju dulu, mah.”


Safira hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Zain. Kemudian dari arah ruang tamu terdengar suara Ashqar yang melafalkan salam dan disusul visual tegap berbalut kemeja biru langit yang lengannya tergulung hingga ke siku berjalan menuju ke arahnya.


“Wa’alaikummussalam, mas,” ucap Safira saat Ashqar berdiri di depannya. “Mas ganti baju dulu, aku mau angetin makan siang.”

__ADS_1


“Cantiknya istriku,” kata Ashqar, mencolek dagu Safira. Lalu Ashqar mengedarkan pandangan ke sekeliling rumah. “Harsha kemana?”


“Tidur.”


Safira mulai memanaskan panggangan di atas kompor, mengeluarkan kotak berisi ayam bumbu kecap.


“Mbak Jum?”


“Nganter uang arisan ke Bu RT.” Safira mengangkat wajah. “Siapa lagi yang mau mas tanyain?”


Alih-alih menjawab pertanyaan Safira, Ashqar justru mengunci mulut rapat-rapat dengan senyum simpul ala model iklan pasta gigi. Namun, selain itu, ia dengan cepat mencuri sebuah ciuman di bibir dan langsung melenggang pergi menuju kamar meninggalkan Safira yang mematung dengan panggangan panas yang berdesis.


Bibir tipis Safira terus melontarkan gumaman kelakuan Ashqar, tentang bagaimana suaminya itu hampir selalu mencari dan mencuri kesempatan untuk menggodanya terutama saat keadaan sepi. Meski sedang sibuk dengan pekerjaannya, pikiran Safira langsung teralihkan oleh ciuman singkat beberapa saat lalu. Hal itu membuat wajah Safira menjadi merah dan terasa panas.


Safira mengibaskan telapak tangan di depan wajah sementara tangan lainnya ia gunakan untuk membolak-balikan potongan daging ayam di atas panggangan. Sampai akhirnya Zain datang dan mempertanyakan tindakannya, Safira buru-buru memberi alasan.


Wangi aroma manis dan gurih menyebar ke ruang makan yang bersebelahan dengan dapur. Di meja makan sudah duduk bersebelahan pasangan suami-istri dan di depan mereka Zain sudah sibuk dengan sepiring nasi ditambah dua potong paha ayam bakar madu yang dipegang di tangan kanan dan kiri.


“Mas Zain, pegang ayamnya satu aja jangan dua begitu,” tegur Ashqar saat Zain memakan daging ayam bergantian di tangan kanan dan kirinya.


“Tenapha, pah?” tanya Zain, mulutnya penuh dengan makanan.

__ADS_1


“Coba taruh dulu ayam yang di tangan kiri,” kata Ashqar. Begitu Zain menuruti ucapannya, Ashqar melanjutkan, “Mas Zain, makan dengan dua tangan sekaligus terus gigit bergantian kayak gitu nggak boleh. Tahu nggak kenapa?”


Zain menggeleng.


“Karena nggak sopan. Seperti orang rakus, seperti orang yang nggak pernah makan. Iya ‘kan, mah?”


Safira mengulum senyum. Bisa saja suaminya ini melempar bola kepadanya agar ia yang menjelaskan lebih lanjut pada Zain. Dengan gerakan halus yang sudah direncanakan, Safira mengambil tisu dan menyeka saus di mulut Zain.


“Papah benar, Nak. Makan itu harus pelan-pelan, kalau buru-buru nanti bisa tersedak.”


“Kaya waktu Zain makan keripik singkong ya, mah?” tanya Zain. “Sakit banget leher sama hidungnya Zain.”


Safira menjawil puncak hidung Zain. “Bener sekali. Terus kalau makan buru-buru sampai tangan kanan-kiri naik semua, itu nggak sopan. Mas Zian di sekolah ‘kan, diajarin adab makan yang baik. Inget nggak yang diajarin bu guru?”


.


.


.


✄................................................

__ADS_1


__ADS_2