Gaung Rasa

Gaung Rasa
Keceplosan


__ADS_3

Ashqar berbaring di ranjang dan mencoba untuk menggapai lelap, tapi tidak bisa. Pikirannya dipenuhi oleh banyak hal dan yang paling mendominasi tentu saja tentang Safira dan pertengkaran mereka sesaat lalu.


Dia tak menduga jika Safira menyimpan perasaan seperti itu dan mengungkapkannya dengan cara yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ashqar selalu berusaha berpikir logis dan bersikap sesuai dengan logikanya dalam menghadapi hal-hal yang menyangkut dengan mantan istrinya. Semata-mata agar ia tak meluapkan emosi yang mungkin akan menjadi masalah lain.


Namun, ternyata kehati-hatiannya memberikan dampak berbeda dari yang ia duga. Bukan hanya dari sisi kepopuleran Nita dan beberapa gosip yang menyertai mantan istrinya itu, tapi juga dari prasangka Safira.


Ashqar mengangkat ponselnya di atas wajah, membuka aplikasi WhatsApp dan mencari kontak Nita. Dan begitu ia menemukannya, Ashqar mengetik pesan singkat.


Kita perlu bicara


Telfon segera


Ceklis dua. Ashqar hanya berharap Nita segera membaca pesannya dan ia bisa menagih janji yang pernah Nita berikan. Kemudian Ashqar menyimpan ponselnya dengan perasaan gamang, beberapa hal belum sepenuhnya terselesaikan. Baik gosip, kemungkinan Safira yang tengah mengandung, identitas dua penjahat dan keberadaan Hendra.


Ashqar sangat penasaran tentang bagaimana mertuanya bersikap seakan-akan Hendra adalah orang yang bertanggungjawab atas Safira dan juga seakan mereka sudah kenal sebelumnya. Karena seingat Ashqar, mertuanya dan Hendra belum pernah bertatap muka.


Ashqar menggeram tertahan dan mengusap wajah. Sudut matanya tanpa sengaja menemukan punggung sempit Safira. Dia bisa melihat pergerakan halus dari pundak istrinya, mungkin Safira sudah tertidur. Kemudian bayangan wajah Safira yang berlinangan air mata kembali teringat, dan itu menyiksanya.


Ashqar baru saja memutuskan untuk berjalan-jalan guna menjernihkan pikiran saat Edi muncul di ambang pintu.


“Safira tidur?” tanya Edi. Namun, belum sempat Ashqar menjawab, Rafa lebih dulu menyela.


“Kita keluar sebentar, Pak.” Rafa berdiri di dekat pintu saat Edi hampir mendekati ranjang Safira. “Ashqar.”

__ADS_1


Ashqar masih diam bahkan saat Rafa sudah berbalik dan diikuti Edi. Dia menarik tubuhnya dari ranjang, menatap Ranee yang sudah berada di sisi Safira.


“Aku tahu. Aku bakal jaga Safira baik-baik.”


Ashqar mengangguk kemudian melangkah menyusul ipar dan mertuanya. “Makasih,” bisiknya ketika melewati Ranee.


Sedikitnya Ashqar bisa menebak alasan apa yang membuat Rafa memintanya untuk ke luar ruang rawat Safira. Kemungkinan besar adalah alasan Safira berada di rumah sakit.


Ashqar menyamakan langkah di samping Edi ketika mertuanya itu berhenti di depan lift bersama Rafa. “Kita mau kemana?” tanyanya.


“Kafetaria.” Rafa yang berada di depan menjawab tanpa menoleh sama sekali. “Aku masih butuh penjelasan kenapa Safira bisa berada disini.”


Ashqar melemparkan tatapan tak suka pada punggung Rafa. Terlepas dari kelalaiannya, dia cukup muak dengan Rafa yang seakan selalu ikut campur dengan urusan mengenai Safira.


“Aku bisa katakan meskipun hal itu bukan sesuatu yang harus kamu tahu juga.”


Ashqar melipat kedua lengannya di dada. “Rafa, mungkin kamu lupa kalau Safira bukan lagi tanggungjawab kamu. Ada yang lebih berhak atas dirinya bahkan Bapak sekalipun.”


“Jadi ini yang kamu maksud tanggungjawab?” Rafa berdecih dan mendekatkan diri ke arah Ashqar. “Aku nggak tahu apa yang coba kamu atau Bapak sembunyikan, tapi apapun itu aku berhak tahu.”


“Sudah. Cukup, Rafa. Jangan buat keributan,” tegur Edi bersamaan dengan pintu lift yang terbuka.


Kemudian tanpa mengatakan apapun, Rafa langsung berbalik dan melangkah lebih dulu untuk masuk ke dalam lift disusul Ashqar dan Edi. Ruangan besi itu terasa lebih hening, hanya suara kabel katrol yang samar-samar terdengar. Sampai akhirnya berhenti di lantai satu.

__ADS_1


Ketiga kemudian berjalan beriringan menuju kafetaria dan mengambil meja di sudut ruangan. Untungnya keadaan kafetaria sudah sepi, hanya ada dua orang yang mungkin anggota keluarga pasien rumah sakit dan satu orang perawat wanita yang tengah memesan minuman.


Rafa menyandarkan punggungnya ke kepala kursi sambil melipat lengan di dada. “Tolong penjelasannya, Ipar.”


“Bukan masalah serius. Safira terpeleset dan pingsan di teras rumah. Kebetulan tetangga yang bawa dia kesini.”


“Tetangga? Terus kamu dimana waktu Safira terpeleset?” todong Rafa, lalu menoleh pada Edi. “Dan Bapak? Bukannya Bapak ada di rumah mereka?”


Edi menghela napas dalam. “Rafa, cukup. Kamu nggak bisa menanyakan hal-hal seperti itu seolah-olah ini kesalahan kami.”


“Bagaimana bisa itu bukan kesalahan kalian, Pak?” ucap Rafa, menaikan sedikit nada suaranya. Dia masih cukup waras untuk menyadari dimana ia saat ini. “Bapak tahu ‘kan, kalau saat ini Safira bisa aja dalam bahaya?”


“Dalam bahaya?” beo Ashqar. “Apa maksudnya?”


Ashqar memandang Rafa dan Edi bergantian. Dia bisa melihat kepanikan di wajah keduanya dan mendadak ia merasakan firasat buruk.


.


.


.


✄................................................

__ADS_1


Bersambung~


Sampai ketemu Hari Jumat 😘


__ADS_2