
Netizen Heboh! Nita Diduga Melakukan Penelantaran Anak.
Beginilah Potret Ganteng Putra Nita Dan Mantan Suaminya.
Nita Dan Mantan Suami Rujuk? Istri Sah Shock Berat.
Viral! Sepupu Nita Angkat Bicara Soal Keponakannya.
Dan sederet judul artikel lain terpampang memenuhi layar ponsel. Beberapa sudah Ashqar baca, tapi tentu saja lebih banyak yang ia abaikan. Biar bagaimanapun, ia yakin isinya akan mirip-mirip satu dengan lainnya. Dia tidak tahu bagaimana artikel-artikel itu muncul begitu banyak dan cepat dalam satu hari, padahal ia sendiri tidak pernah memberikan wawancara apapun kepada media manapun. Sementara Nita sama sekali tidak bisa Ashqar hubungi untuk ditanyai.
Tatapan Ashqar beralih, memandang jauh pada kanvas langit yang gelap dan masih menumpahkan titik-titik air pada bumi yang mulai sunyi. Angin yang bertiup terasa seakan menembus kulit dan menusuk lebih dalam, tapi Ashqar masih enggan meninggalkan balkon kamar. Padahal kantuk sudah membujuk untuk segera tidur, sayang otaknya menolak untuk dibujuk.
Hal ini membuatnya gila, setiap menit ia mencoba menenangkan diri setelah membaca lebih dari sepuluh artikel secara beruntun, tapi usahanya berbuah nihil. Rasa khawatir merayap di dada, memberikan gambaran jelas tentang apa yang sedang ia dan keluarga kecilnya hadapi. Wajah-wajah yang terkasih silih berganti mengisi benak Ashqar, senyum dan tawa yang pernah mereka lalui bersama memberi kekuatan juga beban lebih dipundaknya. Ashqar melamun.
Sampai hampir setengah jam kemudian Ashqar menyadari bahwa ia sudah duduk di tepi ranjang, menghadap pintu kaca balkon yang masih terbuka. Dia terkejut tentang bagaimana ia berpindah tempat tanpa sadar. Lalu seketika Ashqar menyadari betapa kacaunya ia saat ini, terlebih setelah menerima telefon dari Safira selepas magrib tadi.
Diawali menceritakan kesehariannya dan anak-anak, lalu memberitahu bahwa ia membaca beberapa artikel di portal berita online yang membuat perlahan suara tenang Safira dihiasi isakan-isakan kecil. Dan itu sukses menikam Ashqar dengan perasaan bersalah, meski setiap permintaan maafnya ditolak mentah-mentah oleh Safira yang beralasan bahwa satu-satunya yang bersalah adalah keadaan.
Ditengah carut-marut suasana hati, sebuah panggilan telefon kembali masuk ke ponsel Ashqar. Setengah hati ia melirik jam dinding dan ponsel bergantian lalu keningnya berkerut. Waktu sudah menunjukan pukul 23.40, siapa yang menghubunginya selarut ini?
Namun, begitu Ashqar menyadari siapa si penelfon, ia langsung menerima panggilan itu.
“Halo. Assalamu’alaikum, Bu.”
“Wa’alaikummussalam. Belum tidur, Nak?”
Tanpa sadar kedua sudut bibir Ashqar tertarik simetris melengkung keatas. Suara lembut dari wanita yang melahirkannya membuat mendungnya hilang seketika.
__ADS_1
“Belum, Bu. Ibu sendiri kenapa belum tidur jam segini?”
Dari seberang sambungan Harti menghembuskan napas halus. “Ibu nggak bisa tidur.”
Senyum Ashqar berubah kecut. “Ibu kepikiran soal anak-anak dan Safira?”
“Kamu juga, Bas.”
Ashqar tertegun. Nada suara ibunya sama seperti biasanya saat bicara, lembut dan penuh perhatian. Namun, panggilan wanita tercintanya itulah yang membuat Ashqar tersentuh dan menyadari bahwa ikatan seorang ibu tidak bisa ia sangkal meski sekarang ia pun telah menjadi orang tua.
Ashqar hampir masuk kepala tiga, sudah lama sekali sejak keluarganya, terutama sang ibu, memanggil nama kecilnya. Baskara. Dan entah untuk alasan apa, hal kecil itu membuat hati Ashqar tersentuh dengan cara yang sangat tepat.
“Bas?”
Panggilan Harti membuat Ashqar mendapatkan kembali fokusnya. “Aku baik-baik aja, Bu. Ibu jangan khawatir, jangan jadi pikiran nanti malah sakit.”
“Lha piye, Le. Jenenge wae wong tuo.”¹
Hembusan napas Harti kembali terdengar dan Ashqar tidak yakin apakah itu tanda kelegaan atau malah sebaliknya.
“Bu, ada apa?” tanya Ashqar. Namun, Harti tidak langsung memberikan jawaban hingga beberapa detik kedepan sampai akhirnya ibunya itu berbisik memanggil namanya dan membuat rasa penasaran Ashqar mencuat.
“Ibu ... baca artikel tentang Nita yang menelantarkan Zain dan narasumbernya—”
“Subagyo, Pakdenya Zain,” potong Ashqar. “Aku udah baca, Bu. Safira juga.”
Perkataan Ashqar sukses membuat Harti menjerit tertahan.Walau tak saling bertatap muka, tapi Ashqar yakin bahwa ibunya pasti merasa sangat terkejut.
__ADS_1
“Kenapa dibolehin? Terus Safira gimana? Dia pasti sakit hati, ya? Apa besok ibu ketempat Pak Edi?”
“Bu.”
“Iya, deh. Besok ibu ketempat Pak Edi. Ibu mau lihat keadaan Safira.”
“Bu, tenang dulu,” sergah Ashqar, setengah menahan tawa. “Safira nggak baik-baik aja, tapi bukan berarti dia nggak kenapa-kenapa juga.”
“Maksudnya giamana sih, Bas?”
“Nggak, Bu. Safira baik-baik aja,” ralat Ashqar cepat. “Makasih buat perhatiannya ya, Bu.”
“Hush! Udah pasti ibu perhatian, kalian itu anak-anak ibu. Walaupun kalian udah punya anak sendiri, tapi tetep aja dimata ibu kalian ya seperti Alvin dan Zain, atau Ratri dan Ratih.”
Kamudian obrolan yang semula tegang perlahan berangsur-asur mencair dan mengalir dengan lancar hingga hampir satu jam berlalu.
.
.
.
✄................................................
Pojok Diksi :
¹Lah gimana, Nak. Namanya juga orang tua.
__ADS_1
Btw, selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankannya 🙏🏻
mohon maaf kalau aku ada salah sama kalian ya, terutama soaal update yang jarang-jarang 🤭