Gaung Rasa

Gaung Rasa
Taktik Zain


__ADS_3

Sementara itu, Ashqar yang diduga tengah melakukan wisata kuliner ternyata sedang diseret oleh putra tengahnya menuju kolam renang hotel. Tubuh besarnya kesulitan menjaga keseimbangan, langkah kecil Zain membuat Ashqar harus ekstra hati-hati agar tidak tersandung dan jatuh menindih tubuh Zain yang berada di depannya.


“Zain ke kolamnya nanti aja, ya? Tunggu sampai acaranya Om Rafa selesai dulu,” bujuk Ashqar untuk kesekian kalinya.


“Nggak mau!” tolak Zain keras kepala. Anak itu menyeret tubuh besar ayahnya dengan susah payah. “Kemarin Papah udah janji mau ajak Zain berenang.”


Bocah lima tahun itu rupanya sudah cukup bersabar dan menahan diri dari keinginannya untuk segera bertemu air, hingga perkataan Ashqar tidak lagi mempan padanya.


“Iya, tapi berenangnya kalau acara Om Rafa sama Tante Ranee udah selesai Zain.” Ashqar sempoyongan menahan langkah, berjalan cepat dengan langkah kecil-kecil membuatnya kesulitan. “Ayo, balik yuk.”


Zain tiba-tiba menghentikan langkah, menghempaskan genggaman tangan Ashqar dan membalikan badan. “Kok, Papah bohong sih?” sungut Zain, melipat kedua lengan di dada. Wajah mungilnya berubah masam dengan bibir yang maju beberapa senti. “Papah nggak boleh bohong, bohong itu dosa tahu.”


Ashqar menghembuskan napas pasrah mendengar tuduhan Zain. “Alvin bantuin papah, dong,” bisik Ashqar pada Alvin yang berdiri di sampingnya.


“Nggak, ah. Zain nyebelin kalau udah maksa kayak gitu,” tolak Alvin, asik menikmati semangkuk pudding rasa coklat dan strawberry. “Mending turutin aja, Pah. Daripada nanti ngambek terus mogok makan kayak waktu itu. Nanti Papah diomelin Mamah, loh.”


Ashqar tidak berkutik. Putra sulungnya terlalu masa bodoh dan asik sendiri dengan makanan penutup yang sudah dibawa sejak mereka meninggalkan ball room. Sedangkan dia sendiri hanya baru memakan semangkok kecil bakso yang bahkan belum habis karena sudah keburu ditarik paksa oleh Zain.

__ADS_1


Belum lagi ucapan Alvin yang sukses membuat Ashqar ketar-ketir. Bayangan Safira yang mengomel selama satu jam lebih karena perkara Zain yang mogok makan karena merasa kesal pada Ashqar yang tidak menepati janji membuat ayah tiga anak itu pada akhirnya meraih tangan Zain dan berjalan bersama menuju kolam renang hotel.


Ashqar sudah pasrah jika Safira akan memarahinya karena membuat Zain kembali mogok makan atau karena membiarkan Zain bermain di kolam sementara pesta pernikahan Rafa masih berlangsung.


“Nggak bisa! Kalau gitu aku sama-sama kena omel, belum lagi kalau sampai nggak dapet jatah sebulan,” batin Ashqar. Kemudian dengan sedikit memaksa, Ashqar mengangkat tubuh Zain dan menggendongnya.


Tentu saja hal itu bukan sesuatu yang bisa Ashqar tangani dengan mudah. Dia masih harus menenangkan Zain yang memberontak dan meminta turun.


“Zain berisik. Kamu ganggu orang lain tahu,” tegur Alvin.


Ucapan Alvin yang tanpa basa-basi justru lebih ampuh daripada bujukan Ashqar dan membuat Zain langsung terdiam sambil memperhatikan sekeliling. Bocah lima tahun itu pada akhirnya menyadari jika ada beberapa pasang mata yang melirik ke arahnya.


“Zain malu dilihatin banyak orang,” terang Alvin, menyuapkan potongan terakhir dari pudding miliknya. “Ayo balik, Pah.”


Butuh beberapa detik sampai akhirnya Ashqar mengikuti langkah Alvin. Dia mendadak mengagumi bagaimana putra pertamanya itu menangani sikap egois dan manja Zain. Dan kalau diingat-ingat pun, Alvin cukup sering membantunya mengatasi situasi yang kurang lebih mirip seperti tadi meskipun hal itu juga cukup sering membuat Ashqar meringis mendengar kalimat-kalimat tajam Alvin yang entah bagaimana justru mempan pada Zain.


“Zain mau jalan sendiri,” bisik Zain.

__ADS_1


Kemudian kaki kecilnya berjalan lambat di samping ayahnya. Ashqar menduga jika Zain saat ini sedang kecewa dan marah karena tidak mendapatkan apa yang anak itu inginkan. Namun, yang tak Ashqar ketahui jika kepala kecil Zain sedang mencari cara agar dapat merealisasikan keinginannya untuk bisa berenang.


Zain perlahan melepaskan tangannya dari genggaman tangan Ashqar. Sambil memperhatikan sekeliling—dua orang dewasa dengan pakaian rapih seperti ayah dan kakaknya, seorang laki-laki dewasa memakai topi dan baju hijau yang membawa koper besar, lalu anak itu melirik dari belakang tubuh Alvin. Ruang besar yang ayahnya sebut lobi ada di depan, setelah itu mereka pasti akan naik lift dan kembali ke ruang besar. Dan Zain tidak suka.


Anak itu tidak suka suasana ramai dan lebih tidak suka jika harus kembali sebelum berhasil masuk ke dalam kolam renang.


“Pokoknya harus ke kolam!” batin Zain penuh tekad, menghentikan langkah dan berpura-pura membenahi tali sepatu.


Sambil menunduk, Zain melirik ke dapan. Ayah dan kakaknya sama sekali tidak curiga, mereka bahkan terus berjalan tanpa menyadari jika Zain sudah berbalik dan berlari kecil ke arah kolam renang.


.


.


.


✄................................................

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2