
Ashqar mengulum senyum, ide jahil mendadak muncul dipikirannya. “Yah ... mau gimana lagi. Suamimu ini emang ganteng.”
“Mas!” protes Safira.
Tawa Ashqar mengalun nyaring. “‘Kan, emang kenyataannya begitu, Sayang. Tapi tenang aja, biarpun kegantengan ku dipuji banyak perempuan, tetep kamu satu-satunya istri dan perempuan yang aku mau jadi pendamping hidup sampai maut memisahkan.”
“Gombal!” Safira memukul dada Ashqar pelan. “Mas itu mulutnya manis banget.”
Memang menyenangkan jika bisa menggoda Safira meski ia tetap harus pandai-pandai membaca perubahan suasana hati istrinya. Wajah kesal dan malu-malu Safira menjadi candu bagi Ashqar.
“Mas,” panggil Safira lirih.
Mendengar suara istrinya membuat kening Ashqar berkerut. Firasatnya jadi tak enak. “Dalem.”
“Alvin.”
Seketika Ashqar bisa menebak kemana arah pembicaraan Safira. “Nggak apa-apa, Sayang. Sabar buat sementara waktu sampai hal ini reda, sambil kita terus ngawasin anak-anak.”
“Aku ngerasa gagal ngelindungi Alvin, mas. Harusnya dia nggak perlu terlibat dalam perundungan.” Safira mengeratkan dekapannya di lengan Ashqar. “Aku sangat tahu gimana rasanya jadi objek perundungan. Meskipun diluar Alvin kelihatan baik-baik aja, tapi hatinya pasti terluka.”
__ADS_1
Napas Ashqar tertahan di tenggorokan. Dadanya bergemuruh dengan rasa bersalah. “Tolong jangan menyalahkan diri sendiri, Sayang,” ucap Ashqar dengan suara tercekat. “Semua ini karena aku yang kurang tanggap nanganin masalah ini dari awal. Tapi nasi udah jadi bubur, yang sekarang bisa lakukan adalah melindungi anak-anak dan memberikan meraka dukungan moral sebaik mungkin.”
“Aku harap hal seperti ini bakal cepat berlalu,” ucap Safira mencengkram erat lengan Ashqar.
Ashqar mengulurkan tangan, kembali membelai wajah damai Safira. Begitu tangannya menyentuh pipi, tepat pada jejak-jejak air mata, dada Ashqar lagi-lagi bergemuruh. Pikirannya masih berkelana sampai tiba-tiba Safira melenguh dan merenggangkan tubuh yang membuat ia kembali dari lamunan.
Dengan sigap Ashqar menepuk pelan pelipis Safira dan mengusap kepalanya sampai istrinya itu kembali tenang dalam buaian mimpi. Kemudian ia beranjak dari ranjang, berjalan pelan menuju pintu dan keluar dari kamar.
Jam menunjukan pukul sepuluh saat Ashqar berada di ruang keluarga. Ibu dan kedua anak laki-lakinya sudah terlelap di atas kasur menghadap televisi yang masih menyala. Ashqar menggeleng sembari mengitari sofa lalu mematikan televisi.
Jika bukan karena permintaan kekanak-kanakan Zain yang ingin tidur bersama nenek dan kakak laki-lakinya, sudah pasti Ashqar tidak akan mengizinkan mereka untuk tidur di ruang keluarga. Namun, berkat bujuk rayu Harti dan juga persetujuan Alvin maka Ashqar tidak bisa berkata tidak.
“Ashqar?” panggil Harti dengan suara parau.
Harti berkedip dan hendak duduk, tapi tubuhnya tertahan oleh tangan kecil Zain yang mendekap tubuhnya. Hingga akhirnya ia memilih kembali berbaring di kasur. “Kenapa belum tidur,” katanya, melirik jam di dinding.
“Ngelilir, bu,”¹ dusta Ashqar lalu ia membenahi selimut Alvin yang lebih dekat darinya. “Ibu tidur lagi aja.”
Harti mengangguk. Ibunya terlihat sudah sangat mengantuk meski dipaksa untuk tetap sadar dan berbicara dengannya. Jadi dengan penuh pengertian, Ashqar beranjak. Namun, bukan kamar tidur yang menjadi tujuannya melainkan teras depan rumah.
__ADS_1
Angin dingin menyapu wajah Ashqar begitu ia berada di teras. Dia mengangkat wajah, menatap langit sepi tanpa bintang. Lalu seketika beban di pundaknya kembali singgah.
Ashqar pikir setelah keadaan sudah mulai tenang maka segalanya akan kembali pada tempatnya. Akan tetapi, seperti yang banyak orang bilang, kaca yang jatuh dan pecah akan tetap meninggalkan bekas sekalipun bisa dikembalikan kebentuk semula. Jadi mungkin inilah efek lain dari masalah yang sebelumnya mereka hadapi. Sekali lagi, masalah yang berhubungan dengan publik figur tidak mungkin hanya menjadi milik pribadi.
Padahal sebenarnya hubungan Ashqar, Safira dan Nita tetap baik-baik saja, tapi beberapa orang sepertinya terus ingin mencoba menggali-gali masa lalu atau yang lebih parah membuat masalah baru dengan berita yang dipertanyakan kebenarannya. Begitu pula dengan pihak sekolah Alvin dan Zain yang sebenarnya sangat kooperatif dengan lingkungan anak-anak didik mereka. Semuanya berada dalam rencana Ashqar, setidaknya begitu yang ia pikirkan sebelumnya.
Ashqar menghembuskan napas kasar. “Kayaknya aku terlalu percaya diri,” gumamnya, menyisir rambut.
.
.
.
✄................................................
Pojok Bahasa :
¹Ngelilir \= Bangun tiba-tiba saat sedang tertidur (Jawa)
__ADS_1
Btw, makasih doa baik kalian 🙏🏻
Juga buat dukungannya. Sayang kalean banyak banyak 🤗