Gaung Rasa

Gaung Rasa
Permintaan Nita


__ADS_3

Ashqar menggelengkan kepala tanpa mengangkat wajah dari koran yang dibacanya saat teriakan Zain terdengan nyaring. Dia tidak perlu khawatir bahwa Zain sedang dalam masalah atau anak itu tenggelam di kolam, karena pada kenyataannya Zain selalu menjadi yang paling antusias ketika Safira memberikan izin kedua putranya untuk berenang.


“Lima belas menit lagi, anak-anak!” teriak Ashqar tanpa mengalihkan matanya dari koran.


Hal itu sontak mendapat respon tak senang dari Alvin dan Zain. Namun, daripada wajah memelas kedua putranya, Ashqar jauh lebih tidak tega melihat Alvin dan Zain saat mengalami demam karena terlalu lama berada di kolam renang. Belum lagi kemarahan Safira yang sudah pasti menghampirinya seperti topan.


“Biar mereka main sebentar lagi, Papah Ashqar.”


Siku imaginer mendadak muncul di pelipis Ashqar ketika suara Rafa menyapa indra pendengarannya, memanggilnya dengan panggilan yang tak mengenakan telinga.


Sambil melipat koran dan meletakan di sampingnya, Ashqar bangkit berdiri. “Om Rafa, inget umur. Jangan main air lama-lama atau adiknya nanti berkerut.”


Wajah Rafa merah padam. Untung hanya mereka berempat yang berada di kolam, kalau saja Edi berada di sini sudah pasti bapaknya itu akan ambil bagian untuk menggodanya habis-habisan. Andai Alvin dan Zain juga tidak ada, Rafa pasti sudah melontarkan satu-dua patah kata makian untuk iparnya.


“Papah Ashqar, jangan ngomong yang aneh-aneh. Ada anak-anak di sini,” sindir Rafa, menyipratkan air.


Ashqar dengan santai menghindari serangan Rafa dan kembali ke kursi saat ponselnya berdering nyaring. Untuk sesaat Ashqar hanya memandangi benda pipih itu tanpa ada niat untuk mengangkat panggilan tersebut. Sampai akhirnya nada dering berhenti, Ashqar baru mengambil ponsel yang berada di atas kursi.


“Nggak biasanya,” batinnya.

__ADS_1


Panggilan barusan berasal dari Nita dan hal itu membuat Ashqar heran. Mantan istrinya itu lebih sering bertukar kabar dengan Safira sejak hubungan mereka bertiga semakin membaik. Entah sekedar saling bertanya kabar atau membuat janji untuk bertemu dengan Zain.


Lalu tiba-tiba ponselnya kembali berdering, panggilan masuk dari kontak yang sama seperti beberapa saat lalu.


“Halo, assalamu’alaikum. Ada apa, Nit?” tanya Ashqar tanpa basa-basi ketika panggilan itu tersambung.


“Wa’alaikummusalam. Ada yang mau aku obrolin. Kamu lagi sibuk nggak?”


Ashqar mengunci pandangannya pada Alvin dan Zain yang sedang berenang kesana-kemari dengan pelampung tangan mereka. “Nggak. Apa yang mau diobrolin?”


“Aku langsung aja, ya? Minggu ini aku nggak bisa ke sana buat ketemu sama Zain, terus … manajemen minta aku buat merahasiakan status kita juga statusku dan Zain untuk sementara,” ucap Nita lirih. Saat Ashqar tidak berbicara apapun, Nita buru-buru melanjutkan. “Ini bukan berarti aku nggak mau mengakui keberadaan Zain. Kamu tahu sendiri gimana industri hibur—”


Hal seperti ini tidak asing bahkan bagi orang-orang awam sepertinya. Industri hiburan Indonesia tidak pernah luput dari gossip atau sesautau yang dibuat-buat, dan mengingat karir Nita yang mulai menanjak rasanya Ashqar bisa memahami mengapa manajemennya meminta hal seperti itu.


“Apapun yang manajemenmu putuskan, selama nggak mengganggu atau membahayakan Zain maka nggak masalah. Tapi kamu juga harus memenuhi janji yang kamu buat dengan Safira kalau kamu benar-benar mau Zain mengakui kamu sebagai ibu kandungnya.”


“Makasih banyak. Sekarang ini aku masih bisa menjadwalkan buat bertemu Zain seperti biasanya,” kata Nita, terdengar lega dan senang di saat yang bersamaan. “Tolong sampaikan hal ini ke Safira, ya?”


Ashqar mengerutkan kening dan menegakan punggung yang baru saja akan bersandar pada kepala kursi. “Kenapa kamu nggak bilang sendiri?”

__ADS_1


Sekelebat prasangka buruk menghampiri Ashqar. Nita yang biasanya menghubungi Safira, terutama dalam urusan Zain, tiba-tiba saja menghubunginya dan memberitahukan keputusan manajemennya yang menginginkan Nita untuk menutupi statusnya. Hal seperti ini jika dia memberitahukan kepada Safira bukan tidak mungkin istrinya itu akan salah paham.


Terlebih saat ini Safira tengah berbadan dua. Segala sesuatunya menjadi lebih sensitif dari biasanya. Jangankan masalah Nita, dengan Rahma saja Safira pernah cemburu. Lantaran kakak perempuannya itu mengirimkan barang untuknya tanpa memberi tahu lebih dahulu hingga membuat Safira salah paham, mengira kalau nama Rahma yang tertera sebagai pengirim adalah selingkuhan Ashqar. Karena hal itu juga Ashqar harus rela didiamkan Safira selama dua hari penuh.


“Aku nggak enak bilangnya, Qar.”


“Lebih kamu yang bilang sendiri. Aku nggak mau nanti dia salah paham dan berpikir yang nggak nggak.”


.


.


.


✄................................................


Sudahkah kalian siap buat mendukung cerita ini? 🤭


Selamat menunggu kelanjutannya\~

__ADS_1


__ADS_2