
Setelah mendengar jawaban Heru, Nita tidak mengatakan apapun lagi. Disepanjang langkahnya menyusuri koridor hingga sampai di lift dia membisu, tapi hati kecilnya menjadi gundah.
Nita bisa saja mengelak dari pertanyaan yang wartawan ajukan. Namun, mengelak dan membantah fakta bahwa Ashqar adalah mantan suaminya dan Zain adalah putranya membuat Nita merasa keberatan.
“Kenapa?”
Nita tersentak lalu menoleh pada Heru. “Hah? Kenapa, Bang?”
“Kamu ngelamun? Kepikiran sama yang aku omongin?”
Nita kembali diam. Dia menundukan wajah, membenahi kacamata hitam juga topi.
“Nggak usah diambil pusing,” lanjut Heru. “Cukup ikutin apa yang manajemen minta. Aku yakin karier kamu bakal tetap baik-baik aja.”
“Mudah-mudahan aja,” ucap Nita sambil melangkah ke luar begitu pintu lift terbuka.
Memimpin langkah di depan Heru, Nita memperhatikan sekitar dari balik kacamata hitamnya. Mungkin saja seseorang yang mencurigakan sedang memperhatikan dari kejauhan. Dia hanya tidak ingin kecolongan lagi.
Sayangnya, hasil kewaspadaan Nita berbeda dari yang ia harapkan. Begitu dia menoleh, Nita melihat Ashqar dan anggota keluarganya sedang menikmati sarapan pagi dari luar dinding kaca restoran. Seketika ia menghentikan langkah dan membalikan badan.
Tindakan Nita yang tiba-tiba kontan saja membuat Heru terkejut. Manajer artis pendatang baru itu hampir menabraknya jika saja Heru tidak cekatan mengendalikan langkah kaki.
“Kamu ngapain, sih?” omel Heru dari sela giginya yang terkatup.
Nita mencondongkan tubuh lalu berbisik, “Didalam ada mantan suami aku sama keluarganya. Anakku juga ada disana.”
__ADS_1
Heru menyelisik, lalu berhasil menangkap visual Zain yang berdiri memunggunginya. Dia tidak hafal wajah Ashqar, tapi dia tidak akan lupa postur dan wajah Zain yang selalu Nita ceritakan.
“Terus kenapa?” tanya Heru, masih memperhatikan pergerakan Zain. “Kamu pakai masker sama kacamata.”
“Nggak! Nggak!” tolak Nita dengan suara berbisik. “Aku tunggu disana. Abang tolong ambilin sarapan yang bisa dibungkus, roti juga nggak apa-apa.”
Setelah mengatakannya, Nita bergegas menuju sebuah kursi di samping tanaman hias besar yang membelakangi pintu masuk restoran. Sementara Heru hanya bisa pasrah dengan tingkah Nita yang seenaknya sendiri.
Sambil menunggu, Nita sesekali menoleh ke belakang hanya untuk sekedar memastikan bahwa keberadaannya tidak diketahui oleh Ashqar, terutama Rahma.
Mantan kakak iparnya itu sejak dulu tidak pernah suka padanya dan ia rasa sekarangpun akan lebih tidak menyukainya, apalagi dengan gosip yang beredar. Nita tidak yakin Rahma akan membiarkannya makan dengan tenang di dalam restoran.
“Aduh!”
Seruan Heru dari arah belakangnya membuat Nita refleks menoleh. Lalu saat Nita melihat siapa orang yang bertabrakan dengan Heru, dia kembali membalikan badan.
“Nit, ayo.”
“Sstt!” desis Nita, menempatkan telunjuk di depan bibir. “Jangan tanya, orang yang Abang tabrak udah jalan apa masih di tempat?”
Heru mengerutkan kening. “Udah jalan,” katanya, tanpa mau repot-repot melirik tempat kejadian.
Perlahan Nita berdiri membelakangi restoran. “Kita langsung ke mobil aja bisa nggak, Bang? Aku rasanya nggak nyaman lama-lama di hotel, takut orang yang ngikutin aku ternyata ada disekitar sini.”
“Boleh. Mobilnya juga udah siap, tinggal minta Mira turuna aja,” terang Heru, menyerahkan cup kopi.
__ADS_1
Kemudian keduanya berjalan perlahan. Namun, baru beberapa langkah, Nita merasa seperti diperhatikan. Dan tanpa pikir panjang ia langsung menoleh.
Seketika jantung Nita memompa darah lebih cepat untuk beberapa detik yang singkat sebelum akhirnya ia memutuskan untuk mempercepat langkah dan benar-benar meninggalkan area dekat restoran.
Dia bertemu tatap dengan putra Ashqar dan Safira. Meskipun masih harus dipertanyakan apakah benar mereka saling bertukar pandangan atau tidak, mengingat Nita sedang memakai kacamata hitam. Namun, bagi Nita anak itu salah satu ancamannya saat ini. Karena saat Ashqar tidak bisa mengenalinya kemarin, tapi lain hal dengan anak itu.
“Alvin, ada apa?”
Alvin menoleh saat suara Safira memanggilnya, lalu dengan langkah ringan juga ekspresi minim ia menghampiri Safira yang sedang memangku Harsha.
Diselipkannya jari telunjuk ke dalam genggaman tangan kanan Harsha. “Tadi Alvin ....”
“Tadi Alvin? Kenapa?” ulang Safira, bingung saat putranya urung merampungkan kalimat.
Alvin menggeleng. “Tadi Alvin mikir kayaknya kalau makan pempek ditambah kecap enak deh, Mah.”
“Hah?”
.
.
.
✄................................................
__ADS_1
Bersambung...