
Banyak pasang mata diam-diam mencuri pandang kearah dua pria yang berjalan berdampingan. Beberapa diantaranya bahkan ada yang terang-terangan menatap dengan pandangan penuh ketertarikan, tak sedikit pula yang hampir mematahkan leher mereka karena mengikuti gerak langkah pria-pria itu.
Keberadaan pria tampan disebuah pusat perbelanjaan memang bukan hal yang langka, tapi lain cerita jika pria itu memiliki visual seperti tokoh komik percintaan remaja atau lebih tepatnya seperti tokoh utama dalam sebuah drama korea. Tentu saja hal itu akan memancing rasa ingin tahu dari orang disekitarnya.
“Perasaan aja atau dari tadi kita emang lagi diliatin, ya?”
Ashqar memutar bola mata. “Baru sadar? Udah dari tadi kali!” cibirnya.
“Hah? Masa, sih?” Rafa melirik ke sekeliling. “Ngapain juga mereka ngelirik kita? Kurang kerjaan banget.”
Ingin rasanya Ashqar menukar tambah Rafa dengan voucher makan gratis disalah satu restoran yang sempat mereka lewati setelah mendengar pertanyaan menyebalkan itu. Iparnya ini benar-benar tidak peka atau hanya pura-pura bodoh?
Sudah jelas karena dandanan berlebihan yang pria itu kenakan makanya mereka menjadi pusat perhatian. Setelan jas formal, sepatu pantofel hitam mengkilap dan tatanan rambut klimis ala brand ambassador merek pomade, hanya kurang dasi kupu-kupu untuk melengkapi setelan tak tahu tempatnya itu. Ashqar hanya tak habis pikir dengan tingkah Rafa yang kekanak-kanakan.
Hanya karena Ranee memuji penampilannya, Rafa menjadi panas dan tak senang. Seakan-akan ia dengan sengaja dan terang-terangan merayu Ranee. Demi Tuhan, Ashqar pasti sudah gila jika hal itu sampai terjadi apalagi didepan istrinya sendiri.
“Katanya buru-buru mau pergi. Eh, nggak tahunya video call sama kampret satu ini,” sindir Rafa yang tiba-tiba muncul entah darimana dan langsung merebut ponsel dari tangan Ashqar.
“Ini mau pergi, Bo. Lagian yang telfon Safira kok, aku cuma ikut nimbrung aja.”
__ADS_1
“Terus ngapain pake muji-muji segala? Suamimu ini kurang ganteng apa?” Rafa berdecak keras. “Kamu kayak anak muda banget style-nya,” cibir Rafa menirukan ucapan Ranee sebelumnya yang memuji Ashqar.
Lalu tiba-tiba saja angle kamera berganti. Wajah masam Safira seketika memenuhi layar ponsel. “Apaan sih, Kak? Jijik banget,” ucap Safira. “Nggak pantes kakak cemburu macem ABG gitu. Inget umur! Lagian aku telfon suamiku, jadi kasih HP-nya sekarang.”
Rafa merengut, menyadari bahwa benda pipih ditangannya bukanlah miliknya sendiri dan dengan enggan menyerahkan kembali pada si empunya. Lalu setelahnya pria itu berbalik menuju kamar.
Ashqar pikir jika Rafa hanya mengambil barang atau mungkin koper yang lupa dibawa, tapi ternyata pria itu mengganti pakaian dengan setelan formal. Sambil menghampiri Ashqar yang masih tersambung pada panggilan video dengan keluarga kecilnya, Rafa memamerkan kemesraannya dengan Ranee. Pria itu melakukan panggilan video juga.
Dan yang membuat Ashqar benar-benar tak habis pikir adalah saat ia mengatakan akan mampir ke salah satu mall untuk membeli oleh-oleh untuk Alvin dan Zain, Rafa justru sangat percaya diri dan antusias untuk pergi tanpa berganti pakaian. Jangan kira bahwa Ashqar tak mengingatkan iparnya itu untuk memakai sesuatu yang lazim, tapi Rafa dengan tegas menolak dan berpikir bahwa tak ada yang salah dengan pakaiannya.
“Emang nggak salah sih sama pakaiannya, yang salah itu otaknya,” batin Ashqar.
Ashqar melirik sinis. Namun, bibirnya tetap tidak mengeluarkan sepatah katapun. Dia sedang tidak selera untuk ribut dengan Rafa. Ashqar harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin, membelikan oleh-oleh pesanan kedua putranya, juga untuk istri dan putri kecilnya kemudian segera menuju bandara. Dan jika ia meladeni mood Rafa yang sedang buruk maka tidak mungkin mereka akan ketinggalan pesawat.
“Heh! Kam―”
“Permisi, Kak,” sela seseorang dari belakang mereka.
Sontak keduanya berbalik dan mendapati seorang perempuan muda, mungkin sekitar pertengahan dua puluhan.
__ADS_1
“Ada apa?” tanya Ashqar.
“Temen saya naksir kakak,” kata perempuan itu, menengok kebelakang.
Ashqar dan Rafa tanpa sadar saling bertukar pandang lalu mengikuti kemana perempuan didepan mereka menoleh. Sekelompok perempuan lainnya, tiga orang diusia pertengahan dua puluhan, cekikikan sambil mencuri pandang kearah mereka kemudian berpaling kearah lain setelah mereka ketahuan.
“Saya boleh minta kontak kakak?” sambung perempuan dihadapan Ashqar dan Rafa.
.
.
.
✄................................................
Nara Note :
Yang bingung sama alur chapter ini silahkan dibaca ulang 🤭
__ADS_1
Selamat menunaikan ibadah puasa buat kalian yang melaksanakan, semoga ibadah kita lancar terus sampai penghujung Ramadhan ya 🤗