
“Tapi aku berharap kehidupan rumah tangga kita akan baik-baik aja dan nggak ada hal-hal menyakitkan seperti yang pernah kita alami, Kak. Yang seperti itu cukup kita berdua aja yang merasakan, anak-anak kita nantinya harus hidup penuh rasa syukur dan bahagia.”
Untuk kesekian kalinya Rafa melirik pada Safira. Adik perempuan yang selalu ia perlakukan seperti bocah kemarin sore ternyata jauh lebih dewasa dari yang ia anggap selama ini.
“Kakak baru sadar kalau sekarang kamu berbeda dari Safira satu tahun yang lalu. Safira yang belum menikah, Safira yang sering main kucing-kucingan dengan Bapak dan kakak, Safira yang membayar semua fasilitas alih-alih menerima pemberian Bapak dan kakak secara gratis.”
“Itu pujian?”
“Bukan.” Rafa beranjak, berdiri ke hadapan Safira sambil bersandar pada pagar balkon. “Kamu udah jauh lebih dewasa ketimbang sebelumnya, itu baru pujian.”
Safira kebingungan untuk menanggapi ucapan Rafa. “Aku nggak tahu harus gimana kalau Kakak tiba-tiba memuji aku kayak gini.”
“Cukup bilang terimakasih?” ucap Rafa, melempar senyum menggoda.
Kening Safira berkerut, terlihat geli dengan reaksi Rafa. “Makasih, Kakak Rafa.”
__ADS_1
Perasaan menyenangkan itu merambat keseluruh tubuh, menguar mengisi ruang diantara Rafa dan Safira. Seperti satu hari hujan diantara minggu-minggu pancaroba yang kering, atau hari tenang setelah enam hari sibuk dengan pekerjaan menumpuk. Begitu yang pasangan kakak beradik ini sering alamai, tidak selalu bersama dan saling mengerti. Namun, ada saat dimana keduanya duduk berdua dan saling berbagi.
Rafa melirik cincin di jari manis kirinya lalu tanpa sengaja dia melihat cincin pernikahan milik Safira. Cincin putih dengan permata itu berkilap diterpa cahaya lampu, membuat Rafa teringat hal yang sempat mengganggu pikirannya pagi tadi.
“Fi, ada yang mau kakak tanyain sama kamu.”
“Apa, Kak?” tanya Safira, agak terkejut. Dia menyandarkan punggung semakin dalam ke kepala kursi dan menatap wajah Rafa dengan rasa penasaran, kakak laki-lakinya itu tiba-tiba menjadi serius.
Rafa mengatur napas, memutar otak untuk menyusun kalimat. “Pagi ini kakak nggak sengaja lihat berita di media online tentang ….”
“Mbak Nita?” potong Safira, ada nada sumbang yang terdengar. Namun, segera berhasil Safira atasi. “Kakak nggak perlu khawatir, itu cuma gosip.”
Dan bohong jika Safira tidak merasa khawatir atau bingung harus bagaimana menanggapi hal itu. Dia sendiri tahu bahwa gosip itu sama sekali tidak benar. Ashqar dan Nita tidak sedang berkencan atau berusaha rujuk dengan membawa anak-anak bersama mereka untuk liburan, Safira tahu itu hanya berita yang sengaja dibuat untuk menarik atensi publik. Namun, dia tidak bisa untuk tidak merasa cemas.
Kenyataan bahwa Nita ternyata pernah menikah bahkan memiliki anak sudah membuat publik heboh, bagaimana jika mereka tahu bahwa laki-laki yang diberitakan akan rujuk dengannya ternyata sudah memiliki istri dan anak. Safira tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi publik terhadap hal ini. Baik karier Nita ataupun kesehatan mental anak-anaknya akan terganggu.
__ADS_1
“Kakak nggak mungkin nggak khawatir, apalagi kamu dan Ashqar juga merasa begitu. Tapi kalian jelas tidak sedang baik-baik aja.” Rafa menarik tangan Safira, menyentak tubuh adiknya agar jatuh dalam pelukan Rafa. “Kakak nggak bisa bilang semua akan baik-baik aja apalagi setelah semua berita-berita itu berseliweran di media, tapi kakak nggak akan pernah biarin kamu sendirian buat ngadepin ini, Fi.”
“Maaf, maaf aku bawa masalah saat hari bahagia Kakak. Maaf, Kak.”
Pada akhirnya, Rafa dan Safira menghabiskan beberapa menit dengan saling berbagi pelukan. Menghabiskan malam yang kian larut tanpa banyak kata selain suara malam dan riuh deru mesin kendaraan yang belum juga surut.
.
.
.
✄................................................
Nara Corner :
__ADS_1
Hi! Ada yang kangen aku? Wkwkk
Btw, makasih buat doa baik kalian semua. Maaf nggak bisa aku bales satu-satu