Gaung Rasa

Gaung Rasa
Pergulatan


__ADS_3

Balik lagi ke cerita~


﹏﹏﹏﹏。:゚nara゚:。﹏﹏﹏﹏


Safira memaksakan diri untuk memfokuskan pandangannya. Tak lama, samar-samar visual seorang pria berperawakan pendek dan agak bulat tertangkap netranya.


“Pergi!” Safira mengayunkan tangan sembarangan. “Atau saya telfon polisi,” ancam Safira lirih.


Bukan merasa iba atau setidaknya tahu diri dimana posisinya, pria itu menarik lengan atas Safira dan memaksanya berdiri.


“Danu, foto!” titah pria itu pada laki-laki yang sebelumnya ditolak Safira. “Kita bikin viral orang ini.”


“P-pak, jangan gitu.”


Pria itu menoleh dan melemparkan tatapan tak senang. “Saya bilang foto, ya foto!”


Danu merasa tak tega dengan istri mantan suami Nita yang terlihat seperti akan pingsan, tapi dia juga tak memiliki kuasa untuk melawan perintah seniornya. Jadi dengan setengah hati dia mengarahkan lensanya pada Safira yang meski terlihat akan tumbang tapi tetap melakukan perlawanan.


Safira yang berusaha mempertahankan kesadaran berusaha menutupi wajahnya dengan tangan yang bebas sambil terus mencoba melepaskan diri dari cekalan di lengannya.


“Lepas!” jerit Safira sekuat tenaga. “Kalian bakal saya laporkan ke polisi.”


Pria itu tertawa mengejek. “Laporin aja. Laporin!” tantangnya, menarik tubuh Safira semakin tinggi. “Saya bisa tuntut balik kamu dan akhirnya kamu yang bakal susah sendiri. Kamu harus tahu gimana media berkuasa saat ini.”


Ditengah rintihannya Safira masih bisa berdecih. “Kamu berurusan sama orang yang salah.”

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, Safira menarik napas dalam dan mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk melepaskan diri. Begitu ia terbebas, ia mencekik leher pria yang tidak lebih tinggi darinya, meski sebelumnya dia hampir kehilangan keseimbangan, lalu menghimpit pria itu ke tembok.


Sementara Danu terlihat panik dengan keadaan yang berbalik, Safira mendadak tuli. Dia tidak terpengaruh hal lain, tidak dengan derasnya hujan, terangnya kilat atau suara guntur yang terus menggelegar. Bahkan leraian Danu dianggap angin lalu.


“Kamu bakal menyesal karena udah membuat berita bohong seperti itu,” desis Safira. “Aku akan pastikan itu.”


Rasa takut terbersit dibola mata pria tambun itu. Dia berusaha melepaskan cekalan tangan Safira dari lehernya. Namun, entah bagaimana perempuan yang sebelumnya terlihat lemah kini terlihat berbeda 180°.


“Bu, saya minta maaf. Tolong dilepasin, Bu.” Danu dengan panik mencoba melepaskan cekikan Safira. “Bu, Pak Roby bisa meninggal. Tolong. Tolong.”


Safira goyah, menyadari arah ucapan laki-laki di sampingnya. Dia tidak ingin mengotori tangan dan lebih tak ingin jika hal ini sampai ke meja hukum dan membuatnya masuk ke dalam penjara. Tidak! Dia tidak ingin kehilangan keluarganya.


Cekalan tangan Safira di leher pria tambun perlahan mengendur. Hal itu jelas memberikan efek luar biasa untuk suasana di sekitar mereka, ketegangan berangsur menurun. Sayangnya, itu hanya sekejap mata.


“Berani-beraninya kamu ngancem saya! Hah!”


“Lepas! Atau saya bakal teriak!”


Mendengar ancaman Safira, pria tambun semakin terpancing emosinya hingga dengan gelap mata dia mengayunkan kepalan tangan yang menjambak rambut Safira ke tembok. Untungnya Danu menahan kepala Safira dengan tangannya.


Suara debaman terdengar keras disusul bunyi 'kretek' dan erangan tertahan Danu membuat Safira terpaku, begitu juga dengan si pria tambun. Namun, tak berapa lama Safira memanfaatkan momen untuk melepaskan diri dan berjalan ke teras rumah.


“Tolong! Tolong!”


“Kamu apa-apaan?” hardik pria tambun, menarik lengan Safira.

__ADS_1


Safira acuh. “Tolong! Tol—”


Pria tambun itu membekap mulut Safira. “Diam!”


“Siapa kalian?”


Seruan dari arah gerbang membuat pria tambun terkejut, Danu yang baru ke luar dari rumah pun demikian. Keduanya tak menyangka jika seseorang akan datang secepat itu.


“Siapa kalian?” ulang Hendra, berjalan cepat menghampiri orang tak dikenal yang menahan tetangga depan rumahnya. “Mau apa kalian?”


Menyadari situasi yang tak menguntungkan, pria tambun itu melepas cekalannya pada Safira dan bergegas melarikan diri. Begitupun dengan Danu yang secepat kilat meloloskan diri dari hadangan Hendra.


Hendra hampir mendapatkan lengan jas hujan Danu saat suara rintihan Safira menyambangi indra pendengarannya. Seketika ia mengalihkan perhatiannya dan menoleh ke belakang. Dan betapa terkejutnya Hendra saat melihat Safira sudah jatuh di lantai.


“Fira! Fira!” serunya, menyangga tubuh bagian atas Safira di lengannya.


.


.


.


✄................................................


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2