
Ashqar tersenyum tipis, hampir tak terlihat, saat sebuah ide jahil melintas dibenaknya. “Tapi papah bolo sama Zain,” katanya, kembali melaju begitu lampu lalulintas berubah hijau.
“Nggak!”
“Iya.”
“Nggak!”
“Kalau nggak bolo berarti nggak boleh tidur sama Mamah nanti.”
Kerutan di kening Zain semakin dalam, bibirnya maju beberapa sentimeter dan tangannya terkepal siap melayang dan mendarat di pundak Ashqar.
“Nggak mau!” jeritnya, memukul pundak Ashqar sekuat tenaga. “Zain tidur sama Mamah, Papah tidur di luar aja.”
“Dih! Nggak mau, Mamah itu harus tidur sama papah.”
“Nggak. Sama Zain.”
“Sama papah.”
Perdebatan antara ayah dan anak itu terus berlanjut dan semakin tidak jelas, tak ada tanda-tanda akan selesai. Yang kecil tak ingin mengalah, sementara yang jauh lebih tua tak sadar diri.
Keributan yang Ashqar dan Zain buat hampir bisa menyaingi suara klakson mobil lain. Jelas, hal itu membuat dua orang lainnya yang sedari tadi diam menjadi kesal. Jadi saat suara Ashqar dan Zain kian meninggi, Safira dan Alvin bereaksi.
__ADS_1
“Zain berisik!”
“Papah tolong diam!” ucap Safira, dan Alvin hampir bersamaan.
Sementara Alvin masih dalam posisi sebelumnya, lain halnya dengan Safira yang menatap Ashqar tajam. Lalu sejurus kemudian, setelah keduanya berhenti berdebat, Safira mengalihkan pandangan pada Zain dan memanggil namanya.
Begitu Zain menatap matanya, Safira berbicara, “Mamah tahu kalau Mas Zain masih marah sama Papah. Mas Zain pasti sebel waktu Papah minta Mas Zain sama Mas Alvin pulang duluan sama Uti Sari, iya?”
Zain mengangguk. “Zain mau sama Mamah, tapi Papah malah nyuruh pulang duluan.”
“Papah emang curang,” Alvin menanggapi.
Safira menggeleng saat mendengar Alvin juga melontarkan protes. Sepertinya ia tahu mengapa putra sulungnya itu terlihat kesal sejak tadi. “Zain boleh kok, marah. Boleh kesel juga, tapi jangan lama-lama. Soalnya marah lama-lama itu nggak baik.”
“Iya, Mah. Zain marahnya nggak lama, deh,” katanya. “Tapi sekarang Zain masih marah sama Papah.”
“Ya udah, kalau gitu—”
“Mas,” panggil Safira, penuh peringatan. “Jangan jahil.”
Dia tak habis pikir bagaimana bisa suaminya bisa begitu kekanak-kanakan, berdebat dengan Zain sampai tidak ingin mengalah. Namun, jika boleh ia jujur sebenarnya Safira cukup merasa terhibur dengan kelakuan suami dan anaknya.
✿✿✿
__ADS_1
Ashqar berjalan di sepanjang koridor rumah besar milik Edi. Sejak hubungan keluarga istrinya itu membaik, Edi dan Sari memutuskan untuk pindah dari rumah yang selama ini mereka tinggli ke rumah ini.
Langkah besar Ashqar terhenti saat ujung matanya tanpa sengaja menangkap visual dari foto keluarga yang terpasang di dinding. Foto yang diambil saat Safira hamil besar sebagai bentuk salah satu nyidam istrinya itu.
“Kali ini dia apa bakal nyidam kayak gini lagi, ya?” monolog Ashqar, lalu melanjutkan langkah.
Ashqar berjalan menuju ke arah ruang kerja Edi, tentu setelah memastikan Safira dan anak-anaknya berada dibawah pengawasan yang aman, dibawah pengawasan Sari dan Ranee. Lalu begitu pintu ruang kerja Edi tertangkap pengelihatannya, Ashqar mempercepat langkah.
“Kamu bawa rekamannya?” todong Rafa, begitu pintu terbuka.
Ashqar sedikit tersentak. Rafa duduk di sofa tunggal, menyilangkan kaki, wajahnya bahkan tak terangkat dari dokumen yang sedang ia baca. Ashqar merasa seakan-akan Rafa memang sudah menunggu kedatangannya.
.
.
.
✄................................................
Bersambung~
Sampe jumpa besok 👋🏻
__ADS_1