Gaung Rasa

Gaung Rasa
Pakde


__ADS_3

Jangan tanyakan bagaimana cara Rafa membawa mobil. Untungnya Ranee sudah sangat hafal dengan tempramen Rafa yang satu ini. Meski itu adalah salah satu daya tarik tersembunyi Rafa yang selalu sigap demi anggota keluarganya, tapi Ranee tak bisa memungkiri bahwa Rafa selalu berhasil membuatnya senam jantung disaat seperti ini.


Ranee sesekali mengingatkan Rafa untuk menyetir dengan kecepatan wajar setiap kali mereka berhenti di lampu merah. Sayangnya, Rafa tak menggubris. Dan setelah kurang dari satu jam yang mendebarkan, mereka tiba di kediaman Rahma dan Dani.


Begitu Rafa membuka slot kunci gerbang, ia langsung disambut suara nyaring Zain. Bocah itu sepertinya sengaja duduk di depan pintu demi menunggu dirinya.


“Pakde Rafa!” teriak Zain, memeluk kaki Rafa.


Rafa yang baru saja satu langkah melewati gerbang hampir menabrak Ranee yang berada di belakangnya. Dia menunduk dan berkata, “Pakde, panggil Om gitu.”


Zain menggeleng. “Kata Mamah nggak boleh. Soalnya Pakde Rafa itu kakaknya Mamah, kayak Bude Rahma kakaknya Papah. Gitu,” terang Zain, memamerkan deretan giginya. “Pakde. Pakde. Pakde mau jemput Zain, ‘kan?”


“Nggak. Pakde mau jemput Mas Alvin aja, kok.”


Zain merengut, melepaskan pelukannya dan mundur dua langkah lalu tangan mungilnya terkepal memukul paha Rafa sekuat tenaga. “Pakde Rafa nyebelin! Zain ndak bolo Pakde Rafa!”


Perdebatan laki-laki beda usia yang seakan teman satu kanak-kanak itu berlanjut dan menjadi begitu seru sampai-sampai Ranee haru mengabaikan mereka dan menuju pintu rumah. Setelah salam dan dua kali ketukan, Rahma muncul dengan setelan daster lengan panjang seperti kebanyakan ibu rumah tangga pada umumnya lengkap dengan kerudung yang menutupi dada.


“Ranee? Kok, sendirian? Rafa mana?”

__ADS_1


Ranee dengan kikuk menunjuk Rafa dan Zain. “Berantem sama Zain, Mbak.”


“Ya, ampun! Nggak bapaknya, nggak pakdenya, sama aja,” keluh Rahma, menepuk jidat. “Zain! Nak, ayo diberesin dulu mainannya terus sama Mas Alvin siap-siap, ya.”


Zain yang sedang dalam posisi tidak menguntungkan, menjadi korban gelitikan Rafa, langsung kabur ke dalam rumah. Sementara Rafa hanya bisa tersenyum kikuk melihat ekspresi istri dan kakak ipar adiknya yang tak jauh berbeda. Kemudian ia mengekor Ranee saat Rahma mempersilahkan mereka untuk masuk ke dalam rumah.


Begitu mereka duduk tak lama suami Rahma, Dani, menghampiri dan menjamu keduanya. Obrolan sore itu diawali dengan pertanyaan klise tentang kabar, kesibukan dan lainnya. Namun, begitu Rahma datang dengan nampan berisikan empat cangkir di atasnya, obrolan mereka seketika berubah arah.


“Maaf ya, jadi ngerepotin. Kalian jauh-jauh dateng kesini buat jemput Alvin dan Zain,” ujar Rahma, menaruh cangkir pada masing-masing orang kamudian mengambil duduk di samping Dani.


“Nggak apa-apa, Mbak.” Ranee menjawab kalem.


Rahma sebenarnya merasa serba salah. Satu sisi ada janji pada keluarga besar suaminya bahwa mereka akan datang demi memenuhi undangan pernikahan keponakan Dani sekaligus kumpul keluarga yang sempat tertunda lebaran tahun lalu. Namun, disisi lainnya ada adik iparnya yang saat ini terbaring di rumah sakit.


Bahkan ia dan Dani pun sempat mendiskusikan perubahan rencana agar ia tetap di Solo sementara Dani dan kedua putri kembar mereka tetap pergi ke Magelang.


“Nggak apa-y, Mbak. Justru nggak enak sama keluarga Mas Dani kalau janjinya tiba-tiba dibatalin.”


“Tapi, kita jadi nggak enak,” ucap Rahma sungkan. Dan suasana seketika berubah canggung.

__ADS_1


Menyadari itu, Dani berdeham. “Rafa, gimana kondisi Safira? Kenapa tiba-tiba bisa masuk rumah sakit?”


Rafa dan Ranee saling bertukar pandang. “Saya juga belum tahu, Mas. Ashqar belum cerita apa-apa. Apa mas dan mbak nggak dikasih tahu Ashqar detailnya?”


Kebingungan melanda Rahma dan Dani. Keduanya pun memberikan tanggapan yang sama.


“Ashqar nggak bilang banyak. Dia cuma bilang kalau sekarang Safira sedang di rumah sakit dan anak-anak bakal dijemput kalian,” terang Rahma.


Mendengar itu, Rafa menyadari bahwa Ashqar sepertinya sengaja menutupi kebenaran tentang kondisi Safira. Dan dia jelas sangat penasaran tentang hal itu.


.


.


.


✄................................................


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2