Gaung Rasa

Gaung Rasa
Sibling


__ADS_3

Saat Safira berdiri di samping Rafa di balkon kamar hotel, menatap langit mendung Kota Semarang dan jalanan di bawahnya yang masih padat bahkan saat hari hampir mencapai ujungnya, dia menyadari bahwa betapa waktu begitu cepat berlalu.


Rasanya baru kemarin Rafa berkunjung ke rumahnya untuk sarapan dan mengobrol tentang hal-hal nostalgia, meskipun berakhir dengan dia yang tak sadarkan diri entah karena alasan apa, sampai saat ini Safira masih bingung dengan hal itu. Namun, hampir empat bulan berlalu dan disinilah ia sekarang, menemani Rafa selama lebih dari lima belas menit tanpa pembicaraan apapun.


“Apa kita bakal disini sepanjang malam? Memandang langit dan barisan mobil di bawah sana?” tanya Safira pada akhirnya.


Sambil melirik, Rafa menaikan satu ujung bibirnya. “Aku nggak keberatan selama berduaan sama kamu.”


Safira mengerling. Jawaban Rafa semenjengkelkan biasanya. “Apa Kakak sedang mencoba menggodaku?”


“Berhasil?”


“Nggak sama sekali,” katanya, menggelengkan kepala dan menggedikkan bahu bersamaan.


Kemudian keduanya kembali pada kebisuan. Semilir angin menerpa wajah Safira, tetapi sensasinya lebih dari itu, merayapi tubuh melalui celah serat kain dari pakaiannya. Dan tidak ada yang bisa Safira lakukan selain menggosok telapak tangan satu sama lain.


Pemandangan langit abu-abu dan jalanan yang macet tentu bukan alasan yang membuatnya enggan beranjak, Safira berpikir bahwa dia membutuhkan sedikit waktu untuk dirinya sendiri meski itu berati ia harus terjebak dengan Rafa yang kembali membisu.


Kedua putranya sudah jatuh terlelap, lelah selama perjalanan, wisata sejarah dan masih mengikuti rangkaian acara malam midodareni di kediaman Ranee, membuat Alvin dan Zain kehabisan banyak daya dan langsung tertidur setelah Ashqar bersusah payah membuat keduanya tetap terjaga untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Sementara Safira, sudah kepayahan hanya dengan membuat Harsha tenang diperjalanan jauh pertamanya.

__ADS_1


Waktu satu setengah jam nyatanya sangat jauh dari perkiraan Ashqar dan Safira, mereka menempuh hampir dua kali lipat dengan menggunakan mobil karena bayi perempuan pasangan Baswara itu jauh lebih rewel dari biasanya. Mereka sering berhenti hanya untuk membuat Harhsa tenang atau tertidur meskipun tak sampai setengah jam akan terbangun lagi. Harsha bahkan tidak membiarkan Safira untuk duduk barang sejenak, karena bayi perempuan itu akan langsung menangis begitu Safira duduk.


“Kamu kedinginan?” tanya Rafa, menyadari gerakan kecil Safira yang sesekali. Namun, yang membuat Rafa benar-benar menyadarinya adalah hembusan napas Safira yang terdengar keras beberapa kali.


Biarkan kakaknya menebak apa yang ia rasakan, tapi tak ingin diungkapkan. Jadi Safira memilih diam dan membiarkan Rafa mengambil kesimpulan sendiri.


Lalu tak sampai satu menit, Rasa sudah menyampirkan jaket di pundak Safira. “Dasar, perempuan. Sukanya ngode ngode padahal bisa bilang langsung.”


“Dih! Seenaknya aja Kakak ini.” Safira cemberut pada kakaknya. “Perempuan itu nggak bermaksud ngode selama laki-lakinya peka.”


Rafa tidak bisa menyangkal ucapan Safira karena dia menyadari bahwa perempuan selalu menjadi pihak yang benar dan sekalipun salah maka posisi itu tidak akan membuat keadaan berubah. Lagi pula, sekalipun dia mencoba untuk mendebat itu hanya akan memperburuk keadaan, pengalaman mengajarkan hal itu padanya.


“Begitulah,” jawab Safira, menghela napas panjang dan menghembuskannya cepat. Ketika Rafa menyodorkan kaleng cola, dia mengenyampingkan sebentar bahwa menjaga pola makan adalah hal yang terpenting bagi ibu menyusui sepertinya. “Ini perjalanan jauh pertamanya Harsha. Dia mungkin merasa nggak nyaman sama perjalanan yang lama.”


Rafa meringis, agak merasa bersalah karena ponakan kesayangannya harus mengalami hari yang sulit. “Buat pulangnya aku pesan tiket pesawat aja, gimana?”


Tatapan Safira langsung tertuju pada Rafa. Dia bahkan hampir tersedak cola, untungnya benda cair coklat itu berhasil melaju ke saluran pencernaan dengan baik tanpa menyakiti hidungnya.


“Nanti mobilnya bisa diantar ke rumah, jadi nggak usah khawatir. Kelas bisnis kalau perlu.”

__ADS_1


“Semarang-Solo? Pakai kelas bisnis?” Itu jelas kesalahpahaman yang Rafa baca dari ekspresi wajahnya, tapi Safira tentu tidak akan menolak tawaran menggiurkan itu. “Kakak beneran banyak uang, ya?”


.


.


.


✄................................................


Hi!


Ada yang merindukan aku? 👉🏻👈🏻


Lebih dari yang aku bilang, tapi aku kembali. Makasih banyak buat doa dan dukungan dari kalian semua. Semoga kalian masih mau nunggu kelanjutan ceritanya dan see you next chapter 🖤


Nara Corner :


Midodareni : bahasa Jawa 'widodari' alias bidadari dalam bahasa Indonesia. Masyarakat Jawa tradisional percaya bahwa pada malam tersebut para bidadari dari kayangan akan turun ke bumi dan menyambangi kediaman calon pengantin perempuan. (source by google)

__ADS_1


__ADS_2