
Penolakan tidak akan menjadi penolakan jika yang menolak pada akhirnya setuju. Begitu kira-kira yang Ashqar teriakan dalam hati sebagai penghibur diri. Padahal belum ada usaha yang dilakukan untuk membujuk Safira.
Satu-satunya pergerakan yang dilakukannya adalah kembali duduk di atas sofa, merenggangkan kedua tangan di kepala sofa dan menarik napas dalam-dalam.
Kenyataannya, bukan hanya Safira yang menikmati akhir pekan damai tanpa teriakan nyaring Zain, gertakan Alvin karena adiknya banyak tingkah dan tangisan Harsha karena merasa terganggu dengan perdebatan kedua kakak laki-lakinya, tapi dia juga.
“Telingaku bolong,” bisiknya, menoleh ke arah dapur.
Walau Ashqar tidak bisa melihat secara menyeluruh ruang teritori istrinya, tapi dia yakin jika setiap sudut dapur kinclong seperti teras masjid kompleks mereka. Padahal tiga hari sebelumnya, dapur itu benar-benar seperti kapal pecah.
Tanpa sadar Ashqar tergelak mengingat raut kesal Safira menghadapi kenakalan si tengah dan si bungsu.
Sore itu Ashqar tidak ada di tempat kejadian perkara, ia sedang menemani Alvin membantu mengerjakan tugas sekolahnya. Sampai tiba-tiba Safira berkata dengan suara lantang, memanggil nama Zain.
Dan hal itu tentu saja membuat dirinya dan Alvin saling pandang, kemudian bergegas ke luar kamar, takut kalau sesuatu yang buruk sedang terjadi.
“Ada apa, Mah?” tanya Ashqar, bersamaan dengan pintu kamar yang terbuka.
Safira menoleh dramatis, sorot matanya antara kesal dan sedih membuat Ashqar kebingungan.
“Zain sama Harsha, Pah.” Safira sisi tubuhnya ke pintu kulkas. “Pada mainan susu.”
“Harsha sama Zain mandi susu, Pah.” Alvin berdiri di samping Safira sambil menggelengkan kepala seperti orang dewasa.
__ADS_1
Ashqar menoleh ke samping, sejak kapan Alvin sudah berpindah tempat?
“Kok, bisa? Biasanya ‘kan, Mamah taroh susu di laci atas,” kata Ashqar, menghampiri Safira. Dan begitu ia berada di samping Safira, Ashqar menepuk jidat. “Astagfirullah.”
Di bawah meja konter, Zain dan Harsha saling menyuapkan susu bubuk satu sama lain. Entah bagaimana kedua anak itu bisa sampai mandi susu, bukan hanya baju, tapi dari kepala sampai kaki penuh dengan susu bubuk dan beberapa bagiannya basah.
“Mah?” panggil Ashqar, merangkul Safira. “Tadi Mamah kemana?”
“Ambil paket,” jawab Safira lemas.
“Mbak Jum, kemana?”
“Beli garem sama bumbu dapur.”
“Shasha~” Ashqar mencoba menghindari serangan dari tangan mungil putrinya. Lalu ia menoleh pada Zain yang sepertinya mulai menyadari situasi yang sedang terjadi. “Zain,” panggil Ashqar dengan suara dalamnya.
Zain yang namanya dipanggil hanya bisa menunduk. Bocah lima tahun itu mulai menyadari raut wajah Safira yang tidak bersahabat.
“Zain,” ulang Ashqar.
“Mamah~” cicit Zain, menatap dengan mata berkaca-kaca.
Safira menghela napas panjang sambil memijit pangkal hidung, matanya terpejam, pasrah. Tidak ada yang bisa ia lakukan kecuali membersihkan kekacauan yang kadung terjadi.
__ADS_1
Safira melirik Ashqar. “Pah, tolong ajak anak-anak dulu. Mandiin sekalian, ya? Aku beresin ini dulu.”
“Ok! Ayo kita mandi, Sha!” Ashqar mencoba mencairkan suasana yang cukup tegang. “Ayo, Zain.”
Zain tidak langsung menggapai uluran tangan Ashqar, dia mencuri pandang pada Safira yang sedang mengikat rambut. Namun, Zain buru-buru menyambut uluran tangan Ashqar saat bertemu pandang dengan ibunya.
“Mas Alvin, tugasnya diselesaiin sendiri bisa?”
Alvin mengangguk. “Ok, Pah.”
Alvin berbalik, kembali menuju kamarnya. Sementara Ashqar, membawa kedua anaknya yang sudah lengket ke kamar mandi. Dan Safira, hanya bisa menyalurkan kekesalan dengan membereskan kekacauan Zain dan Harsha.
Ashqar tanpa sengaja melihat figura kecil di samping televisi. Ngomong-ngomong, Safira tidak suka memajang foto ukuran besar. Kemudian dia jadi merindukan keramaian dari tiga krucil, tapi yang lebih membuatnya rindu adalah kemesraan dengan Safira yang hampir mulai tersingkirkan dengan kenyamanan anak-anak mereka.
“Sayang! Ayo, jalan!” seru Ashqar, menoleh ke pintu kamar. Namun, tidak ada jawaban. Jadilah Ashqar menghampiri Safira di kamar.
.
.
.
✄................................................
__ADS_1