
Taxi online yang Safira tumpangi bersama Zain perlahan melaju meninggalkan halaman parkiran Rumah Sakit Ibu dan Anak. Safira tidak pernah seantusias ini saat memeriksa kamar yang sudah ia pesan untuk persalinannya kelak. Bahkan saat terakhir kali ia pergi bersama Ashqar, Safira merasa agak enggan.
Mungkin hal ini berkat wejangan yang Harti berikan padanya. Seperti sebuah mantra, lebih ampuh dari sekedar musik klasik, ucapan yang ibu mertuanya itu tujukan untuknya menenangkan Safira. Kekhawatiran terkikis dan perlahan ketakutan yang ia rasakan pergi. Dia sudah jauh lebih baik dalam menghadapi persalinan yang tinggal menghitung hari.
Bisa mengantarkan bayi mungil lahir ke dunia adalah sebuah nikmat yang luar biasa, Fi. Nggak semua perempuan di dunia ini mendapatkan kesempatan untuk merasakan nikmat itu. Jadi daripada kamu memikirkan hal buruk tentang persalinan, lebih baik kamu memikirkan rencana masa depan. Kira-kira apa aja yang mau kamu lakukan bersama anak-anakmu nantinya.
Safira mengulum senyum sambil memandang jalanan dari balik kaca mobil. Dia memiliki mertua yang luar biasa baik. Sampai-sampai anggapan bahwa mertua perempuan dan menantu perempuan adalah musuh bebuyutan terasa terlalu berlebihan untuknya.
Kemudian tatapan penuh rasa syukur Safira berubah sendu. Bayangan mendiang ibunya terlintas dalam benak Safira. Rupa dari wanita yang sangat ia rindukan itu perlahan mulai kabur dalam ingatan, bahkan dia tidak yakin bahwa dia benar-benar ingat bagaimana wajah ibunya.
“Andai ibu masih ada, apa beliau juga akan mengatakan sesuatu seperti ibu mertuaku?” batin Safira, tanpa sadar mengusap perut besarnya.
“Mamah kenapa? Adik bayi nendang perut Mamah, ya?”
Safira berkedip seraya menoleh. “Nggak, Sayang. Adik cuma ngulet¹ aja.”
Zain menatap lurus Safira dengan matanya yang bening. “Adik kalau ngulet pelan-pelan aja, ya?” katanya, mengusap sisi perut Safira.
Safira terenyuh. Sikap Zain selalu mampu membuat hatinya merasa hangat dan sangat dicintai. “Kalau adik udah lahir, berarti nanti Zain bakal dipanggil kakak. Kakak Zain.”
“Zain maunya dipanggil mas, kayak Mas Alvin,” ucap Zain, masih sibuk dengan perut besar Safira.
__ADS_1
Safira tidak menyahut, dia mengapit tubuh Zain dengan lengannya. Sambil mengusap surai Zain, Safira memperhatikan jalanan dari balik kaca. Teriknya sinar matahari membuat fatamorgana di atas jalanan aspal yang panas. Beruntung hari ini dia memilih untuk tidak menggunakan motor kesayangan, sebenarnya itu dengan paksaan Ashqar.
“Kamu itu lagi hamil besar, sebentar lagi udah mau melahirkan. Bisa nggak, nggak ngeyel dan nurut omongan suami kamu? Aku ini khawatir kamu kenapa-napa di jalan, belum lagi bonceng dua anak sekaligus.” Ashqar mengomel. Hampir mirip seperti neneknya saat ia ketahuan bolos sekolah demi bekerja di warung makan.
Ah … masa-masa itu. Memang bukan hal yang bisa dikenang hanya dengan sebuah senyuman, akan ada getir setiap kali Safira mengingatnya. Namun, rindu juga terselip di dada, bertengger manis saat mengingat bagaimana dulu nenek selalu berusaha mencukupi kebutuhannya dengan usahanya yang susah payah.
Seakan mengerti perasaan ibunya, bayi dalam kandungan Safira bergerak halus. Kemudian Safira mulai merasakan perutnya sedikit kram. “Mamah nggak sedih, Sayang. Tolong tenang, ya,” batin Safira, menggunakan tangannya yang lain untuk mengusap perutnya.
Namun, hal itu tidak membantu seperti biasanya. Bayinya terus bergerak membuat Safira meringis karena kram dan nyeri yang melingkar dari pinggang hingga panggul. Lalu Safira berdesis cukup nyaring ketika mobil berhenti di perempatan besar, lampu lalu lintas berubah merah.
“Mamah kenapa?” tanya Zain, menegakan badan dan menatap Safira khawatir.
Safira menggigit bibir bagian dalam sebelum membuka mulut. Sambil berusaha mengulas senyum, dia mengulurkan tangan dan membelai sisi wajah Zain. “Mamah nggak kenapa-napa, Mas Zain.”
“Adik nggak nakal, Mas.” Safira melirik lampu lalu lintas yang masih tersisa 25 detik dari hitung mundur. “Pak, bisa putar balik ke rumah sakit?”
“Ada apa, Bu?” tanya supir, menoleh ke arah belakang. “Apa Ibu mau melahirkan?”
Safira kembali berdesis sambil memejamkan saat rasa sakit di perutnya semakin kuat, dia yakin kali ini bukan kontraksi palsu seperti yang sudah-sudah. “Kayaknya gitu, Pak.”
“Waduh! Tahan sebentar, ya, Bu.”
__ADS_1
Safira membuka kelopak matanya perlahan. Hitung mundur di lampu lalu lintas semakin menipis. “Iya, Pak. Jangan buru-buru, Pak.” Kemudian Safira beralih pada Zain yang masih menatapnya penuh kekhawatiran. “Mas Zain mau bantuin mamah nggak?”
“Apa, Mah?”
“Kayaknya adik bayi mau lahir, mau ketemua sama Mas Zain. Jadi tolong kasih tahu adik bayi buat sabar sedikit, bisa?”
Zain tentu saja tidak sepenuhnya mengerti dengan situasi yang sedang terjadi, tetapi dia dengan cepat menuruti permintaan Safira. Sambil mengusap perut Safira, Zain terus meminta adiknya untuk bersabar dan tidak membuat mamah mereka merasa sakit.
Sementara itu, Safira tengah merasa dilemma tentang siapa yang lebih dulu harus ia hubungi. Rahma atau Ashqar. Safira sebenarnya dalam perjalanan untuk menjemput Alvin, tetapi dengan situasi seperti ini sudah tentu hal itu tidak akan mungkin.
Dia ingin meminta bantuan Rahma, tapi kakak iparnya itu pasti dalam perjalanan ke bandara untuk mejemput Harti. Sedangkan Ashqar saat ini pasti sudah berada di tengah rapat penting seperti yang suaminya itu bilang saat dia ke luar dari rumah sakit.
“Siapa yang harus aku telefon?” batin Safira meratap, menatap ponselnya bimbang.
✄................................................
Pojok Diksi :
¹ Ngulet \= Menggeliat
Apakah ini jadi bagian yang ditunggu-tunggu?
__ADS_1
Silahkan penasaran dengan kelanjutan ceritanya, sampai jumpa nanti sore. Jangan lupa dukungannya buat Gaung Rasa 🖤