Gaung Rasa

Gaung Rasa
Kepolosan Anak-Anak


__ADS_3

Zain mengangkat tangan kanan tinggi-tinggi. “Baca doa terus makan pake tangan kanan. Makannya pelan-pelan jangan buru-buru, terus makan secukupnya jangan berlebihan supaya nggak mubadzir.”


Tingkahnya persis seperti sedang berada di Taman Kanak-Kanak yang sedang berhadapan dengan guru. Hal itu membuat Ashqar dan Safira tergelak. Mereka secara bersamaan mencubit pipi Zain kanan dan kiri.


“Mamah! Papah!” protes Zain saat Ashqar dan Safira tertawa semakin keras.


“Maaf. Habisnya Mas Zain ngegemesin, sih.” Safira menuangkan segelas air putih untuk Ashqar saat suaminya itu terbatuk akibat tawa. “Makannya pelan-pelan, pah.”


Ashqar hanya mengangguk lalu menandaskan isi gelas. Setelah batuknya reda, Ashqar meminta Safira dan Zain untuk melanjutkan makan siang. Setelah sebelumnya Ashqar sekali lagi mengingatkan Zain tentang pelajaran yang sudah diajarkan orang tua dan gurunya di sekolah.


“Mamah, Zain mau tanya sesuatu,” kata Zain, menjilati jari-jari yang berlumuran bumbu ayam.


“Mau tanya apa?”


“Tadi ‘kan, temennya Zain tanya.” Zain meraih satu lagi ayam dan memindahkan potongan sayap itu ke dalam piringnya. “Tapi Zain nggak bisa jawab.”


“Emang tanya apa?”


“Sebentar,” jawabnya dengan mulut penuh. Kemudian setelah potongan daging masuk ke dalam pencernaannya, Zain menatap Safira dengan pandangan polos yang menggemaskan. “Anak tiri itu apa?”


Ashqar dan Safira tersedak hampir bersamaan. Ashqar baru saja menyelesaikan makan siang, menyisakan satu kunyahan penuh di dalam mulut lengkap dengan sambel yang sengaja ditambahkan, berusaha sekeras mungkin mengendalikan dorongan dari kerongkongan. Namun, itu tak berhasil dan membuat Ashqar harus beranjak ke dapur, menuju wastafel lalu mencuci mulut setelah membuang makanan di dalam mulutnya.


Sementara Safira dalam keadaan yang jauh lebih baik. Dia hanya tersedak ludah sendiri dan dengan seteguk air putih batuknya segera menghilang. Akan tetapi, degupan kencang di dadanya belum juga reda.


“Temennya Mas Zain tanya tentang ... anak tiri?” tanya Safira ragu.


Dia sama sekali tak memiliki pandangan soal percakapan yang mungkin terjadi oleh dua anak usia kanak-kanak hingga sampai pada topik anak tiri yang Zain angkat saat ini. Dan itu jelas membuat Safira terkejut.

__ADS_1


Zain menggeleng. Ekspresi putra tengah Ashqar dan Safira itu terlihat santai, polos dan tanpa beban. Tentu saja berbanding terbalik dengan Safira. “Hmm ... kalau diceritain panjang, mah. Nggak apa-apa?”


“Nggak apa-apa!” sambar Ashqar, duduk kembali di kursinya. “Coba Mas Zain ceritain.”


“Oke.” Zain menaruh tulang sayap ayam yang sudah habis dimakan ke dalam piring. Alih-alih berhenti makan, Zain mengambil potongan lain sayap ayam dan menahan di tangan. “Tadi ‘kan, temennya Zain, namanya Felix yang rumahnya di deket warung Bu Rudi itu, mah. Inget?”


Seperti anak-anak pada umunya, saat bercerita kebanyakan dari mereka cenderung akan menceritakan hal lain yang berbeda dari yang dibicarakan.


“Inget, Sayang. Terus gimana?” tanya Safira dengan suara halus.


“Katanya Felix lihat dari TV, di TV banyak gambar Tante Nita. Terus kata Felix Zain itu anak tiri, Felix tanya bener apa nggak. Tapi Zain nggak bisa jawab soalnya Zain nggak tahu anak tiri itu apa.”


Suasana mendadak menjadi hening. Ashqar dan Safira terdiam dan saling melempar lirik. Mereka jelas tak menduga bahwa topik seperti ini akan diangkat oleh putra mereka sendiri, dan lebih mengejutkan lagi bahwa hal ini dibawa oleh teman putra mereka.


“Jadi anak tiri itu apa, mah? Emang bener ya, Zain itu anak tiri?”


Ucapan Ashqar terpotong bersamaan dengan salam dari arah pintu. Mbak Jum yang baru pulang dari rumah Bu RT melenggang masuk dan menatap heran keluarga majikannya.


“Ada apa, pak? Bu?” katanya, heran dipandangi Ashqar dan Safira bersamaan.


“Nggak apa-apa, mbak. Uang arisannya udah dikasih ke Bu RT?” kata Safira buru-buru. Dia merasa beruntung dengan kemunculan Mbak Jum yang mendadak.


“Udah, bu. Langsung Bu RT yang nerima.”


“Makasih kalau gitu, mbak. Terus minta tolong cek cucian di mesin cuci udah selesai apa belum. Kalau udah selesai tolong sekalian dijemur, ya.”


“Iya, bu.”

__ADS_1


Setelah Mbak Jum pergi dari pandangan, Safira melirik Ashqar yang terlihat lega sekaligus tegang. Kemudian ia mengalihkan pandangan pada Zain yang sudah kembali asyik dengan potongan ayam, memakannya dengan lahap.


“Mas Zain,” panggil Safira lembut, membersihkan noda di sudut bibir Zain. “Makannya jangan sampai kekenyangan, nanti perutnya sakit.”


Zain mengangguk. “Iya, mah. Yang tadi belum dijawab loh, mah.”


Safira mempertahankan dengan baik ketenangan di wajahnya, lengkap dengan senyum tipis di wajah. “Nanti mamah sama papah jawab dan jelaskan, tapi nunggu Mas Alvin pulang dulu. Oke?”


“Kenapa?”


“Kenapa, ya.” Safira memasang ekspresi berpikir yang dibuat-buat, meski kenyataannya tidak begitu. Dia sungguh-sungguh memutar otak mencari alasan yang tepat. Karena kalau tidak, Zain akan terus menagihnya. “Soalnya biar sekalian aja. Mas Alvin dan Mas Zain biar sama-sama mendengarkan dan mudah-mudahan nanti mengerti.”


“Hmm ... oke, deh!” katanya, menaikan bahu lalu kembali lanjut memakan potongan ayam terakhir.


Safira yakin jika Zain tidak sepenuhnya mengerti dengan alasan yang ia buat, tapi selama Zain bisa dibujuk untuk sementara maka itu tidak masalah. Sekarang yang harus ia pikirkan adalah bagaimana harus menjelaskan anak tiri kepada Zain.


.


.


.


✄................................................


Nara Corner :


Mudah-mudahan nggak terlalu malem dan bisa jadi bacaan temen-temen semua sebelum tidur. Atau ya bisa jadi bacaan waktu senggang esok hari 🖤

__ADS_1


__ADS_2