
Rafa dan Ranee kembali mematangkan rencana untuk menyelesaikan permasalahan yang tengah menimpa Ashqar dan Safira secepat mungkin. Jika biasanya mereka bagaikan hitam dan putih, terang dan gelap, dalam menilai sesuatu. Namun, kali ini berbeda. Pasangan pengantin baru itu bersepakat, dibawah tekanan dari Ranee sebenarnya, untuk melakukan dengan cara yang benar menurut wanita itu.
Sementara itu, Ashqar melangkah menjauh dari ruang kerja Edi dengan perasaan dan pikiran tak tenang. Ucapan Ranee terus menempel di kepala dan membuatnya menduga-duga tentang Safira. Apakah istrinya itu masih terus berprasangka buruk? Atau ada hal lain yang disembunyikan?
Derit engsel pintu mengalun samar saat Ashqar mendorong daunnya. Dia menoleh sedikit ke dalam kamar tidur, berpikir Safira duduk di atas ranjang bersama Harsha dipelukan istrinya itu. Namun, ia tak melihat visual Safira di sana.
Ashqar melangkah masuk, langkahnya dibuat seringan mungkin karena ternyata putri bungsunya sudah pulas dalam tempat tidur bayi. Pandangan Ashqar menyapu sekeliling kamar, beberapa peralatan Harsha sudah tertata rapi.
Dia berdiri di samping box bayi, memandangi wajah malaikat putri kesayangannya dengan tatapan teduh. Ashqar tanpa sadar menarik kedua sudut bibirnya saat Harsha melenguh kecil dalam tidur dan berguling menyamping dengan posisi yang entah bagaimana mirip seperti posisi tidur Safira, benar-benar seperti duplikat.
“Harsha kok, mirip banget sama mamah,” katanya gemas.
Dan ketika Ashqar mengulurkan tangan, hendak menyentuh Harsha, bayi itu merengek seakan-akan ia terganggu hanya dengan sebuah gerakan kecil. Dengan cepat Ashqar menepuk bokong mungil Harsha hingga tak berapa lama bayi perempuan itu kembali jatuh dalam lelap.
Kemudian setelah Ashqar memastikan jika Harsha tidak terganggu lagi tidurnya dan setelah memberikan kecupan ringan, ia melangkah ke luar kamar. Ashqar berjalan menuju kamar Alvin dan Zain yang juga berada di lantai dua.
Dia berharap Safira ada disalah satu kamar putra mereka sehingga ia bisa mengetahui apapun yang istrinya dan Ranee bicarakan. Namun, saat Ashqar sudah hampir sampai di depan pintu kamar Zain, ia melihat pintu kamar Alvin yang sedikit terbuka. Maka Ashqar mengurungkan niat dan memilih menghampiri kamar Alvin yang berada di sebelah kamar adiknya.
Sayup-sayup ia bisa mendengar suara Safira dan Alvin yang saling bersahutan, tidak begitu jelas, tapi sepertinya mereka tengah mengobrol. Ashqar baru saja mengulurkan tangan, hampir mengetuk daun pintu berpernis bening saat suara Alvin terdengar lebih dingin dari biasanya.
“Alvin nggak suka.”
“Apa yang Mas Alvin nggak suka? Selama ini ‘kan, Mas Alvin biasanya selalu pengertian sama Zain.”
__ADS_1
Ashqar tertegun dengan kening yang berkerut dalam. Dia merasa penasaran dengan pembicaraan Safira dan Alvin. Jadi Ashqar segera menarik tangan dan niatnya untuk masuk, dia memilih untuk bersembunyi di balik tembok, menguping.
Sedangkan dua orang di dalam kamar sedang dalam situasi yang lumayan serius. Untuk Safira, setelah sekian lama, akhirnya ia berada di situasi saat Alvin mulai menyampaikan keluhan padanya. Meskipun keluhan itu bukan tentang dirinya.
“Iya, tapi aku juga mau deket sama Mamah. Dan Zain selalu ambil semua perhatian Mamah.”
Safira yang semula duduk di ranjang, di samping Alvin, mengambil kursi kecil milik putranya dan memposisikan diri di hadapan Alvin. Sekarang ia tahu mengapa anaknya ini terus-menerus memasang wajah masam sejak dari rumah sakit.
“Maaf, mamah nggak sadar kalau Mas Alvin mau dekat juga sama mamah,” katanya lembut, meremas kedua tangan Alvin dan menatap lurus ke mata putranya. “Maaf karena mamah lebih perhatian sama Zain dan mengabaikan Mas Alvin.”
Alvin menggeleng. “Nggak. Aku seneng kalau Mamah perhatian sama Zain, kok. Tapi ....”
“Mamah tau.” Safira mengusap surai Alvin. “Mas Alvin juga mau kesempatan kayak Zain. Mas Alvin juga mau manja-manja kayak Zain.”
“Ng-ngak!” kilah Alvin, membuang wajah. “Aku cuma khawatir aja, soalnya Mamah lagi sakit, tapi Zain ganggu Mamah terus.”
“Ih! Mas Alvin malu, ya?” goda Safira yang membuat wajah Alvin semakin memerah. “Mamah suka loh, kalau Mas Alvin kayak gini. Atau manja manja gitu kayak Zain.”
“Mamah.”
Lalu perdebatan ibu dan anak itu berlanjut, sesekali menghadirkan gelak tawa renyah dan tentu saja itu tak luput dari pendengaran Ashqar yang masih bersembunyi di balik dinding.
Ashqar merasa bimbang dengan keinginannya untuk berbicara dengan Safira. Dia mungkin bisa menduga jika pembicaraan Safira dan Ranee tidak akan jauh-jauh dari permasalahan mereka saat ini, tapi setelah mendengar obrolan istri dan putra sulungnya, Ashqar menjadi ragu.
__ADS_1
Safira dengan keras kepala, over thinking, ceroboh dan beberapa sifat buruk yang sudah Ashqar tahu membuatnya menyadari satu hal, bahwa masalah ini tidak butuh untuk terus dibahas. Namun, butuh diselesaikan.
Jadi alih-alih menanyakan korelasi ucapan Ranee pada Safira, Ashqar mempertimbangkan kondisi fisik dan mental Safira saat ini dan memutuskan mencari cara lain untuk membuat istrinya nyaman dan aman. Maka ia segera meninggalkan tempatnya dan kembali ke kamar.
.
.
.
✄................................................
HAPPY NEW YEAR!!
Selamat tahun baru buat keluarga online aku 🤗
Makasih udah dukung karya amatirku di tahun ini 🤧🥰
Semoga kedepannya kalian bakal terus baca kelanjutan cerita ini dan cerita-cerita lainnya. Semoga tahun depan kita masih diberikan kesehatan, keselamatan dan perlindungan dari Tuhan YME. Aamiin~
Happy holiday juga yaa~
Jaga kesehatan terus, bye! Bye! 👋🏻😘
__ADS_1
salam,
nara rahma