
“Itu benar,” timpal Bram, menanggapi penolakan Siska. “Kalau pihak anda ingin menggelar konferensi pers, silahkan lakukan sendiri. Yang anda lakukan ini dan juga permintaan anda terkesan ingin menyudutkan pihak kami dan Nita.”
“Menyudutkan? Bagaimana dengan artikel yang sengaja pihak anda siapkan?” sembur Ashqar.
“Apa yang salah dengan artikel itu? Toh, artikelnya belum sempat di- publish,” ucap Bram enteng. “Lagi pula, hal seperti ini wajar di dunia hiburan kita. Saya sebagai orang yang menaungi Nita harus melindungi dia dari gosip-gosip seperti ini.”
“Dengan merusak hidup orang lain?”
“Pak Ashqar terlalu berlebihan,” sahut Siska. “Tidak ada hidup yang kami rusak, justru karier artis kamilah yang rusak karena pemberitaan-pemberitaan ini. Lagi pula ... siapa tahu aja kalau gosip-gosip yang berseliweran diluar sana sebenarnya sengaja dibuat seseorang agar bisa terkenal. Kalau nggak salah istri anda terlihat cukup menjual untuk beberapa acara televisi.”
“Hati-hati kalau bicara,” sembur Ashqar, bersamaan dengan Rafa yang berkata, “Jangan kurang ajar!”
Menyadari tensi yang meninggi, Heru dan Roby secara kebetulan dan hampir bersamaan memanggil nama orang disamping mereka, berharap ketegangan segera mereda. Namun, alih-alih menunjukan penyesalan dan meralat ucapannya, Siska justru dengan sengaja mengatakan hal-hal sembrono seperti pihak Ashqar dan Rafa sengaja membuat gosip dengan tujuan ingin menjatuhkan Nita karena dendam pribadi.
Alasan itu terdengar sangat tak masuk akal bagi Ashqar. Dia menjalani tahun-tahun jatuh-bangun karena wanita itu, bahkan Ashqar pernah berada dititik dimana sangat mengharapkan Nita dan Zain akan kembali kesisinya. Namun, tentu saja saat-saat seperti itu sudah ia tinggalkan dibelakang. Dan mengenai balas dendam, Ashqar tidak sepicik itu untuk menghancurkan hidup wanita yang telah melahirkan anaknya.
“Bu Siska,” panggil Rafa dari sela-sela giginya yang tertutup, senyum dingin menghiasi wajah tampannya. “Saudara ipar saya ini orangnya baik hati, dia tidak mungkin dengan sengaja ingin menghancurkan hidup artis kesayangan anda.” Rafa menatap dingin Nita kemudian beralih pada Siska. “Tapi saya jelas bukan orang yang cukup sabar.”
__ADS_1
Roby berdeham, siap mengambil kesempatan. “Begini Bu Siska, pihak kami tidak meminta anda sesuatu yang mustahil untuk dilakukan. Hanya sebuah konferensi pers untuk meluruskan berita-berita miring antara artis anda dan pihak kami, saya rasa hal itu lebih menguntungkan bagi pihak anda daripada kami membawa ini kejalur hukum. Dalam artikel yang akan anda terbitkan dan beberapa artikel yang sudah terbit dimana pihak platform tersebut bersedia memberikan kesaksian untuk kami apabila kami membawa kasus ini kejalur hukum, jelas tertulis nama lengkap dari Bapak Ashqar beserta istri dan anak mereka. Ini jelas bisa dikenakan UU ITE.”
Dengan konsekuensi yang Roby ucapkan nyatanya tak membuat pihak managemen Nita mencoba berpikir ulang dan menerima tawaran, mereka masih alot dan keras kepala pada pendirian. Hampir semua saran dan jalan tengah yang Roby sampaikan disanggah.
Ditengah diskusi alot antara Roby, Siska dan Bram, Ashqar mencondongkan tubuh pada Rafa kemudian berbisik, “Kayaknya ini bakal sulit, Fa. Mereka jelas mau keuntungan dari pemberitaan Nita terus-menerus terlepas gosip itu baik atau buruk bagi citra aktris mereka.”
“Aku tahu,” balas Rafa, tersenyum tipis. Dia bukannya tidak paham bagaimana selama ini industri hiburan Indonesia bekerja, bahkan bisnis didalamnya menjadi daya tarik untuk beberapa orang. Namun, karena itulah Rafa tidak tertarik untuk masuk kedalamnya.
Kemudian Rafa dengan sengaja mendorong kursi hingga menarik seluruh atensi. “Pak Roby, saya masih ada urusan yang harus diselesaikan jadi―” Ucapan Rafa terpotong oleh ketukan pintu yang berasal dari luar.
“Tolong semuanya dikondisikan ya, Pak.” Rafa berdiri lalu mengalihkan pandangan dari Roby dan menatap wajah keempat orang dihadapannya bergantian. “Silahkan dilanjutkan makan siangnya, nggak usah terburu-buru. Tapi Pak Roby ...,” jeda Rafa, kembali menatap wajah Roby yang sudah tegang. “setelah makan siang ini, saya harap saya mendapatkan keputusan terbaik dari diskusi anda. Kalau begitu saya permisi.”
Rafa pergi begitu saja dari ruang VIP itu bersama dengannya tanpa mendengar satu patah katapun keluar dari mulut pihak managemen Nita. Dia sangat hafal bagaimana tabiat Rafa, tapi meninggalkan masalah yang penyelesaiannya baru setengah jalan begitu saja bukanlah Rafa sama sekali. Namun, siapa sangka, tak berapa lama mereka mendapat kabar bahwa pihak Royal Entertaiment menyetujui permintaan mereka dengan beberapa sayarat yang harus dipenuhi.
Ashqar menghembuskan napas kasar dan kembali dari lamunannya. Dia memandang hampa pada langit-langit kamar minimalis dengan lampu LED berwarna putih hangat. Kamar yang ia tempati selama kedua hari ini didesain sangat Rafa sekali, mulai dari pemilihan warna yang minimalis, furniture sampai detail terkecilnya. Namun, hangatnya suasana kamar tak membuat Ashqar merasa damai dan tenang.
“Heh! Belum siap juga?”
__ADS_1
Ashqar berjengit dan menoleh pada sumber suara, Rafa dengan setelan semi formal bersandar dirangka pintu sambil melipat kedua lengannya. Sungguh definisi sombong yang sesungguhnya.
Ashqar berdecak. “Berangkat sekarang?” tanyanya, bangkit dari berbaring.
“Beresin dulu penampilan kamu. Kalau udah selesai cepet kebawah, aku tunggu,” kata Rafa lalu berbalik pergi.
Ashqar mengerling. Kemudian ia melepaskan dasi dari leher, melipat lengan kemeja biru dongker sampai kesiku dan merapihkan sedikit rambutnya kemudian ia segera menyusul Rafa yang kemungkinan besar sudah berada di dalam mobil. Dia berjalan secepat mungkin, omelan Rafa sama mengerikannya dengan omelan Safira. Beberapa kata, tapi menusuk sampai ketulang.
.
.
.
✄................................................
Bersambung
__ADS_1