Gaung Rasa

Gaung Rasa
777


__ADS_3

HR-V hitam dengan nomor polisi 777 melaju di sepanjang Jalan Adi Sucipto dengan kecepatan sedang menyalip beberapa kendaraan di depannya. Mobil milik Edi itu diisi Safira, duo krucil dan Harsha yang berada dalam buaian sang ibu.


Zain tak henti berceloteh sejak Safira mengajaknya untuk menjemput ayah kesayangan di bandara. Bocah yang tahun ini akan masuk sekolah dasar itu tak sabar bertemu Ashqar dan berencana akan tidur dengan kedua orang tuanya.


“Nanti Zain bobok sama mamah sama papah, ya Mah?”


“Nggak boleh,” sergah Alvin. Dan sebelum adik cengengnya itu merengek, dia buru-buru berkata, “Zain itu udah besar, sebentar lagi masuk SD. Masa masih tidur sama papah-mamah? Nggak malu kalau nanti temen-temen kamu tahu?”


“Nggak!” jawab Zain mantap. “Temen-temen Zain nggak tahu. Wleek!”


Alvin menaikan satu sudut bibirnya dan menatap Zain sanksi. “Nanti mas yang kasih tahu ah, kalau Zain masih suka tidur sama mamah sama papah. Mana masih suka ngompol lagi.”


Wajah Zain seketika menjadi merah padam, menahan kesal juga rasa malu. Mendadak anak itu diliputi rasa cemas kalau-kalau Alvin sampai benar-benar membongkar rahasianya kepada teman-temannya.


“Mas Alvin! Mas Alvin kok jahat, sih!”


“Mas nggak jahat, kok. ‘Kan, emang bener Zain masih suka ngompol.” Alvin mengangkat kedua bahunya ringan. “Emang Zain nggak inget apa kata papah? Kalau udah besar nggak boleh tidur sama orang tua.”


Zain kian merengut. Bibir tipisnya maju beberapa senti, kedua lengan terlipat di dada dan matanya melemparkan tatapan maut. “Nggak bolo sama Mas Alvin!” serunya, lalu melemparkan bantal leher ke arah Alvin yang duduk di sampingnya.


“Nggak apa-apa nggak bolo. Mas Alvin nggak rugi.”


Alvin yang mencari gara-gara dan Zain yang enggan mengalah membuat keributan itu semakin menjadi. Alvin dengan sengaja terus mengejek Zain sedangkan Zain berteriak membela diri. Mereka melakukan perang kata-kata.


Mula-mula suara keduanya tidak begitu nyaring, tapi semakin lama itu semakin mengganggu hingga membuat Harsha juga ikut menangis kencang. Kalau sudah begini, Safira tidak bisa menahan sabar lebih lama lagi. Wanita itu lantas meminta supir untuk menepi dan mematikan mesin mobil.


Mengurus dua anak ditambah seorang batita menjadi perkara sulit untuk situasi-situasi tertentu, seperti ini misalnya. Kemudian ditambah hormon bawaan bayi dalam kandungan yang membuatnya menjadi sensitif, benar-benar bukan hal yang mudah. Safira tidak ingin mengkambing hitamkan janin di dalam perutnya, tapi hormon yang meningkat saat hamil adalah sesuatu yang tidak bisa ia kontrol.

__ADS_1


“Kalau kalian masih ribut, kita nggak jadi jemput papah sama Pakde Rafa,” ucap Safira tenang, meski batinnya bergejolak ingin juga ikut berteriak.


Namun, alih-alih mengikuti ucapan Safira, kedua kakak beradik itu masih sibuk membela diri. Sampai beberapa saat berlalu dan mulai menyadari situasi yang terjadi, keduanya perlahan-lahan terdiam, menundukan kepala dan mulai merasa menyesal.


“Sudah?”


“Udah, Mah,” jawab Alvin dan Zain bersamaan.


“Udah tahu salahnya apa?” tanya Safira. Namun, kedua putranya tak ada yang menyahut. “Mas Alvin?”


“Ngejek Zain,” cicit Alvin.


“Mas Zain?”


“Zain ... Zain ‘kan nggak salah, Mah.” Zain terdengar tak terima dan ucapannya menjadi gumaman diakhir kalimat yang membuat Safira kembali memanggil namanya sebagai bentuk peringatan. “Zain marah-marah.”


Kedua kakak beradik itu hanya bisa pasrah dengan hukuman yang mereka terima tanpa bisa menolak atau mendebat, karena kalau mereka membuat alasan lain sudah pasti itu hanya akan mengundang hukuman-hukuman yang lain.


Jadi selama sisa perjalanan mereka menuju bandara, tidak ada lagi pertengkaran dan adu mulut. Safira berusaha sebaik mungkin mencairkan suasana, membuat kedua putranya kembali berceloteh.


Untungnya, Alvin dan Zain bukan anak-anak yang berkecil hati, begitu keadaan tidak sesuai harapan mereka maka mereka akan berlarut-larut dalam kekecewaan, jadi mudah saja bagi Safira kembali menghidupkan suasana. Cukup dengan menyebutkan nama Ashqar dan Rafa, lalu kedua putranya itu langsung menyahut.


Juga si kecil Harsha yang entah bagaimana masih segar dijam-jam rawan rewel seperti saat ini. Meski sempat menangis karena suara nyaring kedua kakak laki-lakinya, tapi setelah satu botol penuh asi, putri kecil Safira itu kembali tenang dan sibuk dengan mainan karet yang ia gigit dan pukul diudara.


“Mamah, udah sampai?” seru Zain, menempelkan wajah dikaca mobil.


“Udah, Mas. Tapi kita tunggu disini aja.”

__ADS_1


“Kenapa? Padahal Zain mau langsung ketemu papah.”


Safira menatap wajah kedua putranya dari spion tengah, heran dan ada sedikit gurat kecewa. Mungkin karena biasanya mereka selalu menunggu dan menyambut Harti di dekat pintu keluar, tapi kali ini saat ayah dan paman mereka kembali, mereka harus menunggu di dalam mobil.


.


.


.


✄................................................


Hi, semuanya (づ ̄ ³ ̄)づ


Gimana kabar kalian?


Mudik lancar?


Liburan kemana aja?


Setelah seminggu lebih libur lebaran mari kita kembali pada realita kehidupan, karena aku tahu, kita semua tahu kalau isi dompet sudah nggak aman lagi. Yok! Kerja! Kerja! 🤭😂


Btw, Selamat Hari Raya Idul Fitri 1443 Hijriah. Mohon maaf lahir batin 🙏🏻 Maaf kalau aku banyak salah sama kalian, terutama gegara jarang update 😅


تَقَبَّلَ اللّهُ مِنَّا وَمنِْكُمْ صِيَامَنَا وَصِيَامَكُمْ,


كُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ. اَللّهُمَّ اجْعَلْنَا وَإِيَّاكُمْ مِنَ العَاءِدِيْنَ وَالفَاءِزِيْنَ وَالمَقْبُوْلِيْنَ.

__ADS_1


THR buat kalian minggu ini, update 2 chapter setiap hari.


__ADS_2