Gaung Rasa

Gaung Rasa
Ribut


__ADS_3

Kedua tangan Ashqar bertaut, buku-buku jarinya saling meremas, menyalurkan emosi dari dalam dada sementara mulutnya tak berhenti melontarkan sumpah serapah. Semua itu adalah gambaran Ashqar setengah jam lalu saat menonton rekaman CCTV.


Dan sekarang laki-laki itu tengah menenangkan diri. Meski nyatanya melepaskan gambaran saat Safira dilukai dari pikirannya sangatlah sulit. Hatinya dipenuhi amarah dan mungkin rasa dendam, seperti pepatah lama; mata untuk mata, gigi untuk gigi.


Namun, Ashqar sendiri tahu bahwa keputusan apapun yang dibuat saat marah tidak akan menghasilkan sesuatu yang baik, justru mungkin akan disesali dikemudian hari.


Hembusan napas Ashqar terdengar nyaring, mengisi setiap sudut rumah yang sepi. Senin siang dimana biasanya ia berkutat dengan angka penjualan dan modal peternakan, sambil sesekali menyeruput kopi susu buatan sendiri dan sepiring gatot¹ goreng yang dibawakan oleh salah satu pekerjanya, saat ini justru diisi dengan banyak pekerjaan lain yang menguras tenaga.


Ashqar termenung, tubuhnya yang berbaring di atas sofa menggeliat mencari posisi nyaman. Lalu ia teringat permintaan maaf Safira yang terasa manis dan pahit.


Wajah bangun tidur istrinya adalah hal paling biasa dan paling menentramkan bagi Ashqar semenjak pernikahan mereka. Dan entah bagaimana hal itu pagi tadi berubah menjadi sesuatu yang pahit untuk pertama kalinya.


“Aku minta maaf karena semalam udah membentak Mas.”


Suara Safira terdengar seperti bayi kucing, serak dan lemah. Ashqar ingat bagaimana dia terburu-buru mengubah arah langkah dan menuju ranjang istrinya dan mengenyampingkan panggilan alam.


“Nggak apa-apa, Sayang. Aku juga minta maaf.” Ashqar membelai wajah Safira lembut. “Untuk keegoisan, nggak peka dan kekurangan-kekuranganku yang lain sebagai suami kamu. Tapi aku mau kamu tahu satu hal, Sayang.”


“Apa itu, Mas?”


“Aku bukan nggak peduli dengan gosip itu. Aku udah bicara dengan Nita dan meminta dia menyelesaikan masalah gosip itu dengan manajemennya. Tapi ternyata gosip itu semakin digoreng, entah siapa dan bagaimana.”


“Kapan Mas bicara dengan Mbak Nita?”


Pada akhirnya, rahasia yang Ashqar simpan terbongkar secara langsung dari mulutnya sendiri. “Saat pernikahan Rafa. Waktu itu aku nggak sengaja ketemu Nita dan kami bicara tentang gosip ini. Aku minta dia buat menyelesaikan gosip itu, tapi ....”

__ADS_1


“Tapi Mbak Nita nggak bilang apa-apa tentang ini. Mbak Nita justru menghindar setiap aku telfon atau chat.”


“Itu karena aku yang minta. Aku nggak mau kamu terpengaruh. Sayangnya apa yang aku antisipasi nggak berjalan sesuai keinginan.”


Ashqar pikir setelah semua penjelasannya Safira akan marah, tapi istrinya itu justru memberikan pelukan hangat. Sambil mengusap punggungnya, Safira mengatakan betapa ia bersyukur memilikinya sebagai suami. Sungguh hal yang tak Ashqar duga, karena menurutnya ia lah yang justru merasa demikian.


Ditengah-tengah lamunannya, Ashqar dikejutkan oleh dering ponsel di atas meja, nada dering dari sebuah panggilan masuk. Dengan ogah-ogahan Ashqar memiringkan tubuh, mengulurkan tangan dan meraih ponselnya. Namun, belum juga tangannya menyentuh ponsel, panggilan itu sudah berhenti.


Sambil mengeluh, Ashqar membuka kunci sidik jari dan sebuah notifikasi terlihat di layar ponsel.


Rafia


Panggilan suara tak terjawab


Ashqar berdecak, tangannya terulur hendak mengembalikan ponsel ke atas meja, tapi panggilan lainnya dari nomor yang sama kembali masuk.


“Assalamu'alaikum,” ucap Ashqar dengan nada sindiran yang ketara. “Di rumah, meriksa rekaman CCTV. Ada apa?”


Rafa berdeham dua kali. “Wa'alaikummussalam. Ayo ketemu. Kita harus buat rencana buat menyelesaikan masalah ini.”


Helaan napas Ashqar terdengar berat. Sambil menatap langit-langit rumah, dia berkata, “Nggak bisa. Aku harus ke rumah sakit.”


“Ibu baru aja pergi ke rumah sakit buat nemenin Safira. Jadi kamu nggak usah banyak alasan lagi buat nunda-nunda hal ini,” kata Rafa sinis.


Siku-siku imajiner muncul di plipis Ashqar. “Aku nggak peduli dengan tuduhan mu,” ucap Ashqar dari sela-sela giginya yang terkatup. “Kita bicara nanti setelah aku jemput anak-anak di sekolah dan setelah dari rumah sakit.”

__ADS_1


“Untung aja kamu disana, kalau nggak udah aku hajar kamu. Nyalain TV sekarang.”


Kening Ashqar berkerut. “Hah? Ngapain? Nggak, males.”


“Sialan! Sekarang Ashqar!” seru Rafa.


“Nggak perlu mengumpat, bodoh!” Ashqar balas berteriak dan menegakan tubuh. Meski ogah-ogahan, Ashqar tetap menuruti keinginan Rafa. “Udah. Apa lagi?”


“Saluran nomor empat, cari berita gosip.”


“Astaga, Rafa. Nggak jelas bang—”


Ucapan Ashqar tak rampung saat sebuah foto dari jarak lumayan jauh yang menampilkan dirinya dari samping bersama Nita ada di layar televisi.


.


.


.


✄................................................


Nara Note :


¹Gatot : Makanan tradisional khas Solo yang terbuat dari ubi (source : Google)

__ADS_1


Sekian, terimakasih 😊


Bersambung sampai Hari Jumat 😘


__ADS_2