Gaung Rasa

Gaung Rasa
1930


__ADS_3

Safira menautkan jemari, meremas hingga buku-buku jarinya memerah. Berulang kali wanitu itu mengatur napas secara diam-diam, berulang kali pula ia melirik wajah suami tercinta untuk mendapatkan kemantapan hati. Namun, kecemasan tak benar-benar hilang dari wajahnya meski ia berusaha dengan baik untuk menyembunyikan hal itu.


19.30, lewat beberapa detik saat Zain mengakhiri bacaan pada Iqra-nya lalu dilanjut dengan doa penutup dan setelahnya Ashqar meminta seluruh anggota keluarga untuk duduk berhadapan. Ashqar dan Safira berhadapan dengan Alvin dan Zain.


Kenyataannya, nanti yang dijanjikan Safira siang tadi harus tertunda sampai sembilan jam lebih. Bukan hanya karena Safira menunggu saat yang tepat, Mbak Jum misalnya, dan juga ia harus berdiskusi dengan Ashqar. Mereka menyusun poin yang harus dibicarakan, menentukan apa yang tidak perlu dikatakan agar apa yang akan mereka sampaikan bisa diterima oleh anak-anak terutama Zain.


“Mas Alvin, gimana sekolahnya? Lancar?” tanya Ashqar, membuka percakapan.


“Ba ... ik.” Alvin ragu-ragu. “Ada apa, pah?”


“Papah cuma tanya aja. Memangnya nggak boleh?”


Alvin menggeleng. “Boleh, kok.”


Akan tetapi, Alvin tetap terlihat bingung. Setelah shalat isya dan mengaji, mereka bisanya akan diminta mengerjakan tugas sekolah atau belajar materi pagi tadi dan baru akan mengobrol ketika akan beranjak tidur.


“Kita ngobrol sebentar, ya? Mas Alvin dan Mas Zain nggak ada PR, ‘kan?” tanya Ashqar dan dijawaban gelengan kepala dari kedua putranya.


Kemudian Ashqar menatap Safira sebentar. Dia seketika menyadari jika kegelisahan belum juga hilang dari benak istrinya sejak siang tadi bahkan setelah mereka mengobrol untuk membahas hal ini.

__ADS_1


Ashqar kembali mengalihkan atensinya pada Alvin dan Zain. Lalu dengan ekspresi tenang yang sudah ia atur, Ashqar mulai berbicara. “Tadi siang Mas Zain tanya sesuatu sama mamah dan papah, Mas Zain ingat?”


Zain tak langsung menjawab. Anak itu memandang langit-langit rumah dengan wajah yang dimiringkan lalu beberapa detik kemudian menyatakan persetujuannya.


“Zain ingat, pah. Katanya nunggu Mas Alvin pulang sekolah, tapi kok udah malem belum dikasih tahu?”


“Maaf. Papah sama mamah lupa,” ucap Ashqar. “Papah sama mamah mau menjelaskan sesuatu, pertanyaan yang Zain tanyain sama mamah dan papah. Jadi ... dengarkan baik-baik, ya?”


Ashqar sekali lagi menatap Safira dan melihat jika ekspresi istrinya belum banyak berubah. Jadi dengan sengaja ia meraih tangan kanan Safira dan meremasnya lembut. Hal itu membuat Safira sedikit terkejut dan mengalihkan fokus padanya sebentar.


Kemudian Ashqar menyunggingkan senyum tipis, seolah-olah mengingatkan Safira tentang apa yang sedang mereka hadapi saat ini. Begitu Safira mengangguk halus dan sorot matanya melembut, Ashqar kembali menaruh atensi pada kedua putra mereka yang sudah menunggu.


Ashqar buru-buru menggeleng. “Tadi siang Mas Zain tanya soal anak tiri sama papah dan mamah.”


“Oh, gitu ....” Alvin melirik Zain sekilas.


Ashqar terdiam sejenak, mengamati reaksi Alvin. Ini adalah topik yang sensitif untuk mereka karena Alvin adalah satu-satunya anak Pasangan Baswara yang sudah mengerti mengenai hal ini. Namun, saat Alvin tidak banyak menunjukan perubahan ekspresi, Ashqar memutuskan untuk melanjutkan.


“Jadi sekarang kami mau kalian mendengarkan baik-baik. Mas Alvin dan Mas Zain harus tahu kalau kalian berdua itu anak papah sama mamah dan kami sangat-sangat sayang dengan kalian berdua.”

__ADS_1


Ashqar menatap Zain lamat-lamat. Sekarang adalah tantangan yang sebenarnya.


“Mas Zain, anak tiri itu sebutan buat anak yang bukan anak kandung orang tuanya. Zain inget sama Tante Nita?” Zain mengangguk, meski ekspresinya menjadi bingung. Lalu Ashqar meraih tangan kiri putranya dan melanjutkan, “Tante Nita itu mamahnya Zain.”


“Kok, mamahnya Zain?”


“Iya, Tante Nita itu mamah kandungnya Zain. Soalnya dulu―”


“Nggak!” Zain menarik tangannya kasar lalu pergi ke pangkuan Safira dan memeluk tubuh wanita tersayangnya. “Mamahnya Zain ya mamah. Bukan Tante Nita.”


Reaksi Zain yang tiba-tiba membuat tiga orang lainnya terkejut, terutama Ashqar. Pria itu memang sudah menduga jika Zain pasti akan menolak, tapi ia tak menyangka jika respon Zain akan sekeras ini.


.


.


.


✄................................................

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2