Gaung Rasa

Gaung Rasa
Botol Susu


__ADS_3

Keluarga Baswara lengkap dengan Harti dan Rahma berjalan menyusuri koridor menuju restoran untuk sarapan pagi yang hampir lewat. Hotel menyediakan sarapan mulai pukul 08.00 sampai dengan 10.00, dan saat ini hampir 09.00. Safira hanya berharap bahwa mereka masih sempat untuk menikmati sarapan setelah satu hari panjang kemarin dan keributan pagi ini.


Hal itu karena Zain yang semangat 45 menyeret Ashqar setelah shalat subuh tadi untuk bermain air di kolam renang. Safira tidak tahu mengapa putra tengahnya itu begitu kecanduan berada di kolam renang. Anak itu bahkan sudah seperti ikan yang tidak mau dan tidak bisa dipisahkan dari air.


“Terus Zain menang lawan Mas Alvin loh, Uti. Habisnya Mas Alvin lamaaa banget renangnya,” celoteh Zain pada Hart yang tengah menggandeng tangan kirinya.


Safira menggelengkan kepala mendengar Zain dengan semangat menceritakan detail kemenangannya atas Alvin kepada Harti yang juga dengan senang hati menanggapi setiap ucapan Zain.


“Siapa yang kalah? ‘Kan, Zain sendiri yang balapan, Mas Alvin mah nggak bilang mau balapan tuh,” balas Alvin tajam.


Zain mengerengut, kening bocah itu untuk kesekian kalinya berkerut. “Bilang aja Mas Alvin malu kalau kalah, ‘kan?”


“Sudah. Sudah,” lerai Harti, mengusap puncak kepala Zain. “Kalian ini bertengkar terus udah kayak Papah kalian sama Bude Rahma waktu kecil.”


“Bu!” seru Ashqar dan Rahma bersamaan.


Kakak beradik itu saling melempar pandangan sebelum akhirnya memutar mata dan membuang wajah. Baik Ashqar maupun Rahma, keduanya belum menunjukkan tanda-tanda akan berdamai dari permasalahan kemarin


“Nggak usah bawa-bawa Ashqar, Bu. Dia ‘kan, emang versi Zain gede, kadang suka nyebelin,” sindir Rahma.


Ashqar baru saja membuka mulut untuk membalas Rahma, tetapi kalah cepat dari Zain.


“Siapa yang nyebelin, Bude Mama?” tanya Zain.

__ADS_1


Kecuali yang lainnya, Rahma gelagapan—minus Alvin tentu saja.


“Itu ... siapa, ya?” Rahma melirik Safira, mengharapkan bantuan. Namun, Safira sendiri sudah lelah dengan adu mulut ketiga lelakinya. “Ah! Liftnya udah kebuka. Yuk, masuk masuk,” ucap Rahma lega.


Untung saja pintu lift langsung terbuka saat mereka baru sampai di depan lift. Kalau tidak, Rahma tidak tahu bagaimana harus menjawab rasa ingin tahu Zain.


Pintu lift tertutup dan mulai bergerak turun, meninggalkan sensasi mendebarkan saat angka di atas pintu perlahan berkurang mulai dari angka 6 menuju ke angka 1.


Ruang besi dengan kapasitas 16 orang terasa senyap, jika Harsha tidak berceloteh melafalkan satu huruf atau Zain yang menghitung setiap angka pada tombol di dinding.


“Uti. Uti,” panggil Zain, memperhatikan tombol paling bawah. “Nanti Kak Ratih sama Kak Ratri dibeliin oleh-oleh ya, Uti?”


Harti menurunkan pandangan. “Emangnya Zain mau beliin oleh-oleh apa buat Kak Ratih sama Kak Ratri?”


Zain menempatkan telunjuk di ujung bibir, kepalanya dimiringkan sementara ekspresi anak itu seakan berpikir serius.


“Kalau buat anaknya Bi Jum dikasih apa?” sela Ashqar dari belakang Zain.


Zain merengut sambil melirik Ashqar penuh permusuhan, lalu saat pandangan mereka bertemu anak itu buru-buru membuang muka.


Melihat hal itu, Safira mencoba menegur putranya. “Zain, kenapa?” tanyanya lembut. Namun, Zain hanya menggeleng.


Safira mungkin saja kesal dengan perseteruan Ashqar dan Rahma, atau perdebatan ayah-anak antara Ashqar dan Zain. Namun, ia tetap tidak bisa membiarkan salah satunya melewati batas.

__ADS_1


Dia yang sejak kecil—baik dalam pengawasan ibu atau neneknya, selalu diajarkan sopan santun tidak bisa membiarkan anak-anaknya luput dari pengajaran itu.


“Kayaknya ada yang masih ngambek, nih.” Ashqar maju selangkah, menyelip diantara Rahma dan Harti kemudian menarik Zain dalam gendongannya.


“Zain nggak mau! Zain ndak bolo Papah!” seru Zain.


Zain terus memberontak. Anak itu dengan sekuat tenaga mencoba melepas dekapan Ashqar, tapi gagal. Sampai akhirnya pintu lift terbuka bersamaan dengan tangis Harsha yang pecah, lalu seketika pemberontakan Zain mendadak berhenti.


Saat yang lainnya ke luar dari lift, Safira tetap tinggal sambil mencari botol ASI milik Harsha. Namun, beberapa kali dia cari, botol itu tidak ada di dalam tas miliknya.


“Ada apa, Mah?” tanya Ashqar, menurunkan Zain dan mengambil alih tubuh Harsha dalam gendongannya.


Safira meringis. “Botol ASI-nya Harsha kayaknya ketinggalan, Pah. Aku ambil dulu, ya? Papah tolong jagain Harsha sebentar nanti aku susul.”


Setelah kesepakatan yang singkat itu, pintu lift kembali tertutup dan melaju ke atas.


.


.


.


✄................................................

__ADS_1


Maapkan ngaret update 👉🏻👈🏻


Btw, happy weekend semuanya 🥰


__ADS_2